UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasan Dampaknya

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 11:00 WIB 2
UPF Tidak Selalu Sama, Ini Penjelasan Dampaknya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan semakin sering dibahas di media sosial, terutama setelah sejumlah makanan kemasan ikut disorot publik. Sarden kalengan bahkan sempat dianggap lebih aman karena dinilai tidak termasuk UPF, meski penilaian semacam ini tidak sesederhana yang terlihat.

Dalam sistem klasifikasi NOVA, pangan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya, mulai dari bahan pangan alami hingga produk ultra-olahan. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa tidak semua produk UPF memiliki dampak kesehatan yang sama, sehingga penilaian perlu dilakukan secara lebih cermat.

Memahami UPF dan Klasifikasi NOVA

Klasifikasi NOVA membagi pangan ke dalam empat kelompok utama berdasarkan tingkat proses pengolahan. Kelompok itu mencakup pangan segar atau minim olahan, bahan kuliner olahan, makanan olahan, dan makanan ultra-olahan.

UPF berada pada kategori terakhir dan umumnya merupakan produk yang dibuat melalui berbagai tahapan industri. Produk ini sering mengandung bahan tambahan, perisa, atau komponen yang tidak biasa digunakan dalam dapur rumah tangga.

Karena istilahnya semakin populer, banyak orang langsung mengaitkan UPF dengan makanan yang tidak sehat. Padahal, penilaian seperti itu tidak selalu tepat jika hanya melihat label kategori tanpa memahami komposisinya.

Risiko Kesehatan UPF

Sejumlah makanan dalam kelompok UPF memang kerap dikaitkan dengan risiko kesehatan yang lebih tinggi. Hal ini terutama terlihat pada produk yang tinggi gula, garam, dan lemak.

Konsumsi berlebihan terhadap produk seperti mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan dapat menjadi perhatian. Jika dikonsumsi rutin, pola makan seperti ini berpotensi memengaruhi kualitas gizi harian.

Meski demikian, risiko kesehatan tidak bisa disamaratakan untuk seluruh produk UPF. Beberapa jenis makanan dalam kelompok ini memiliki profil nutrisi yang berbeda dan tidak selalu menunjukkan dampak serupa dalam penelitian.

Temuan Studi Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 menyoroti hubungan antara konsumsi UPF dan risiko diabetes tipe 2. Penelitian itu menggunakan data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat.

Hasil studi menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa pola makan tinggi makanan ultra-olahan dapat berdampak pada kesehatan metabolik.

Namun, peneliti juga menemukan bahwa tidak semua kelompok UPF menunjukkan hubungan yang sama. Artinya, dampak suatu produk perlu dilihat berdasarkan jenis, kandungan, dan pola konsumsinya.

Produk UPF yang Berbeda Dampaknya

Dalam studi tersebut, produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, dan ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Kelompok ini umumnya memiliki kandungan yang kurang ideal bila dikonsumsi berlebihan.

Sebaliknya, beberapa produk seperti yogurt, whole-grain breads, dan sereal tertentu menunjukkan hasil yang berbeda. Temuan ini menegaskan bahwa kategori UPF tidak bisa dipahami sebagai satu kelompok yang seragam.

Masyarakat perlu lebih cermat membaca komposisi dan memahami konteks konsumsi setiap produk. Dengan begitu, keputusan memilih makanan dapat dilakukan secara lebih rasional dan berbasis informasi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!