BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

Teknologi Moh. Royhan Nahado 28 Mei 2026 12:21 WIB 2
BRIN dan Telkomsat Jajaki Kolaborasi Satelit LEO

BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan Telkomsat untuk memperkuat operasional satelit Low Earth Orbit (LEO). Kerja sama ini diarahkan untuk membangun ekosistem satelit nasional yang lebih unggul, andal, dan mandiri.

Pelaksana Harian Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Chusnul Tri Judianto, menyampaikan peluang tersebut saat menerima kunjungan kerja Telkomsat di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Bogor. Menurut dia, kolaborasi dapat mencakup pengembangan sumber daya manusia, alih teknologi, serta kerja sama dengan berbagai pihak di dalam maupun luar negeri.

Kolaborasi Satelit BRIN dan Telkomsat

Chusnul menyebut BRIN saat ini tengah mengembangkan satelit optik Nusantara Earth Observation atau NEO-1 untuk menghasilkan data citra beresolusi tinggi. Ia menegaskan, riset ke depan juga akan diarahkan pada pengembangan satelit berbasis Synthetic Aperture Radar (SAR) dan satelit komunikasi.

Menurutnya, Telkomsat berpotensi menjadi mitra strategis dalam hilirisasi teknologi, penguatan infrastruktur, dan integrasi data satelit nasional. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat memberi manfaat nyata bagi sektor industri dan pemerintahan.

Selain itu, peralihan teknologi Automatic Identification System (AIS) menuju VHF Data Exchange System (VDES) turut membuka ruang kerja sama baru. Perubahan ini dinilai relevan untuk mendukung kebutuhan pemantauan dan pertukaran data yang lebih efisien di masa depan.

Tantangan Operasional Satelit LEO

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Satriya Utama, menjelaskan bahwa satelit LEO memiliki tantangan operasional yang tidak ringan. Satelit jenis ini bergerak sangat cepat mengelilingi bumi dengan periode orbit sekitar 90 hingga 120 menit.

Kondisi tersebut membuat sistem operasional harus berjalan dinamis, responsif, dan terintegrasi. Karena itu, setiap aktivitas satelit perlu dirancang dengan presisi agar misi dapat berlangsung optimal.

Satriya menekankan bahwa manajemen misi mencakup perencanaan tujuan, penjadwalan pengambilan data, hingga distribusi informasi. Seluruh rangkaian itu harus diatur secara cermat agar manfaat satelit dapat dirasakan secara maksimal.

Pengendalian Orbit dan Komunikasi

Selain manajemen misi, pengendalian orbit menjadi aspek penting untuk menjaga posisi satelit tetap berada di jalurnya. Proses ini dilakukan melalui koreksi orbit berkala dan antisipasi potensi tabrakan dengan objek lain di ruang angkasa.

Komunikasi antara satelit dan stasiun bumi juga memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung dalam waktu terbatas. Oleh sebab itu, dibutuhkan perencanaan presisi, termasuk penjadwalan uplink dan downlink serta dukungan jaringan stasiun bumi yang memadai.

Pemantauan kesehatan satelit secara real time juga menjadi keharusan dalam operasional LEO. Pengawasan dilakukan terhadap daya listrik, suhu komponen, dan performa instrumen utama agar gangguan dapat segera ditangani.

Perangkat Lunak Satelit Modern

Satriya menambahkan, pengembangan perangkat lunak menjadi fondasi utama dalam sistem kendali satelit modern. Perangkat lunak berperan dalam perencanaan misi, pengolahan telemetri, dan antarmuka perintah.

Ia menilai kemampuan tersebut penting untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional. Dengan penguasaan perangkat lunak, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada solusi dari luar negeri.

Kolaborasi BRIN dan Telkomsat dinilai membuka jalan bagi penguatan ekosistem satelit nasional secara lebih terarah. Sinergi riset, industri, dan infrastruktur diharapkan mempercepat pemanfaatan teknologi satelit untuk kepentingan strategis Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!