Purbaya Sebut IHSG Tertekan karena Ketidakpastian BUMN Ekspor

Forex & Saham Gilang Nabaris 28 Mei 2026 12:25 WIB 2
Purbaya Sebut IHSG Tertekan karena Ketidakpastian BUMN Ekspor

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara mengenai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG usai pengumuman pembentukan BUMN khusus ekspor bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia pada Rabu, 20 Mei. Ia menilai pasar bereaksi negatif karena masih dibayangi ketidakpastian atas arah kebijakan baru tersebut. Menurutnya, investor cenderung memilih menjual lebih dulu ketika belum memahami dampak sesungguhnya.

Purbaya menyampaikan pandangannya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia optimistis IHSG akan kembali menguat setelah pelaku pasar memahami manfaat pembentukan badan ekspor itu. Kebijakan tersebut, kata dia, dirancang untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam sekaligus menutup celah praktik kurang bayar pajak.

IHSG Tertekan karena Ketidakpastian

Purbaya menilai pelemahan IHSG merupakan respons wajar pasar terhadap kebijakan yang belum sepenuhnya dipahami. Ketika ketidakpastian muncul, investor biasanya memilih langkah aman dengan melepas saham terlebih dahulu. Ia menyebut kondisi itu sebagai bagian dari perilaku pasar yang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan.

Menurut Purbaya, pasar belum melihat dampak baik dari keberadaan BUMN khusus ekspor. Karena itu, sentimen yang muncul lebih banyak didorong oleh kekhawatiran ketimbang prospek jangka panjang. Ia menekankan bahwa reaksi awal semacam ini tidak selalu mencerminkan arah fundamental perusahaan di bursa.

Ia juga mengatakan penurunan indeks tidak perlu dibaca sebagai sinyal negatif permanen. Begitu pasar memperoleh gambaran yang lebih jelas, sentimen dapat berubah dengan cepat. Dalam pandangannya, pemahaman yang lebih utuh akan membantu investor menilai kebijakan tersebut secara lebih rasional.

Manfaat BUMN Ekspor

Purbaya menjelaskan bahwa badan ekspor baru itu dibentuk untuk memperkuat tata kelola perdagangan komoditas SDA. Salah satu tujuannya adalah memastikan nilai ekspor tercatat lebih transparan. Dengan begitu, potensi kebocoran penerimaan negara dapat ditekan.

Ia menilai praktik under invoicing berpeluang tertutup melalui mekanisme penjualan yang lebih terpusat. Selama ini, menurutnya, sebagian transaksi kerap tidak terefleksi secara optimal. Dengan sistem baru, nilai penjualan seharusnya tercermin lebih jelas di laporan perusahaan.

Purbaya menyebut kebijakan ini tidak hanya menguntungkan negara, tetapi juga emiten yang melantai di bursa. Jika transaksi ekspor tercatat lebih akurat, laba perusahaan berpotensi terlihat lebih besar. Kondisi itu pada akhirnya dapat mendorong peningkatan valuasi saham di pasar.

Target Tata Kelola Ekspor

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa seluruh ekspor sumber daya alam akan dikelola melalui satu pintu. Pemerintah menunjuk BUMN tertentu sebagai pengekspor tunggal untuk komoditas strategis. Skema ini disebut sebagai upaya memperkuat kendali negara atas arus ekspor nasional.

Komoditas yang masuk dalam kebijakan tersebut antara lain kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi ferro alloy. Prabowo menekankan bahwa penjualan hasil sumber daya alam harus dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Kebijakan itu disampaikan dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei.

Langkah tersebut diharapkan memperbaiki tata kelola perdagangan komoditas yang selama ini dianggap masih menyisakan celah. Pemerintah ingin memastikan nilai ekspor tercatat lebih akurat dan manfaatnya lebih besar bagi negara. Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu penjelasan teknis agar dapat menilai dampaknya secara menyeluruh.

Prospek Pasar Ke Depan

Purbaya yakin IHSG akan bergerak naik dengan sendirinya jika pasar telah memahami keuntungan kebijakan itu. Ia menyebut kenaikan tidak harus dipaksakan, karena pasar akan menyesuaikan bila manfaatnya terlihat jelas. Dalam pandangannya, transparansi yang lebih baik akan menjadi katalis positif bagi saham emiten terkait.

Ia menambahkan bahwa perusahaan yang terlibat dalam ekspor justru berpeluang mencatat untung ganda. Selain laporan penjualan yang lebih akurat, valuasi saham juga berpotensi terdorong naik. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memberi dampak positif bagi emiten yang masuk dalam rantai ekspor SDA.

Meski demikian, Purbaya mengakui pasar saat ini masih berada dalam fase menunggu. Investor perlu waktu untuk menilai dampak kebijakan terhadap kinerja perusahaan dan penerimaan negara. Selama ketidakpastian belum hilang, volatilitas pasar saham kemungkinan masih akan terjadi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!