UPF Tak Selalu Sama, Ini Temuan Penelitian Terbaru

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 21:21 WIB 3
UPF Tak Selalu Sama, Ini Temuan Penelitian Terbaru

Istilah ultra-processed food atau UPF kembali menjadi sorotan di media sosial, setelah sarden kalengan disebut tidak termasuk kategori tersebut. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan baru, apakah semua makanan olahan benar-benar berdampak buruk bagi kesehatan.

Dalam sistem klasifikasi NOVA, pangan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidak semua produk dalam kategori UPF memiliki risiko kesehatan yang sama, termasuk kaitannya dengan diabetes tipe 2.

UPF dalam klasifikasi NOVA

Klasifikasi NOVA membagi pangan ke dalam empat kelompok utama berdasarkan tingkat pengolahannya. Kelompok tersebut mencakup makanan tidak atau minim proses, bahan kuliner olahan, makanan olahan, dan makanan ultra-olahan. UPF berada pada kelompok keempat yang kerap menjadi sorotan karena dianggap jauh dari bentuk asli bahan pangan. Meski begitu, status sebagai UPF tidak selalu berarti produk tersebut otomatis berbahaya.

Dalam praktiknya, banyak orang langsung mengaitkan mi instan, sosis, nugget, dan minuman kemasan dengan makanan tidak sehat. Padahal, kategori UPF mencakup produk yang sangat beragam, baik dari sisi bahan maupun proses pembuatannya. Perbedaan komposisi inilah yang membuat dampak kesehatan setiap produk tidak bisa disamaratakan. Karena itu, penilaian terhadap UPF perlu dilakukan dengan lebih cermat.

Sejumlah ahli menilai fokus utama seharusnya tidak hanya pada label UPF, melainkan juga pada kandungan gizi di dalamnya. Produk dengan gula, garam, dan lemak tinggi umumnya memang lebih berisiko bagi kesehatan. Sebaliknya, ada pula produk yang melalui proses industri tetapi tetap memiliki profil gizi yang lebih baik. Hal ini menjadi alasan mengapa konteks konsumsi perlu ikut diperhatikan.

Risiko kesehatan tidak seragam

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antara UPF dan risiko kesehatan tidak selalu sama pada setiap produk. Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Diabetes Care pada 2023, peneliti menganalisis data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Hasilnya, konsumsi UPF yang lebih tinggi dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2. Namun, temuan itu tidak berlaku merata untuk semua jenis produk dalam kelompok tersebut.

Produk seperti minuman berpemanis, roti olahan, produk hewani olahan, dan hidangan siap saji lebih sering menunjukkan kaitan dengan peningkatan risiko. Pola ini mengindikasikan bahwa faktor seperti kandungan gula dan lemak jenuh ikut berperan besar. Selain itu, kebiasaan konsumsi yang berlebihan juga dapat memperburuk dampaknya. Dengan kata lain, risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh proses pengolahan.

Di sisi lain, beberapa produk seperti yogurt, roti gandum utuh, dan sereal tertentu justru memperlihatkan hasil yang berbeda dalam penelitian yang sama. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa UPF tidak dapat diperlakukan sebagai satu kelompok yang seragam. Analisis yang lebih rinci diperlukan agar masyarakat tidak salah memahami risiko pangan. Pendekatan ini juga membantu menyusun rekomendasi diet yang lebih tepat sasaran.

Contoh produk yang berbeda

Sarden kalengan menjadi salah satu contoh yang belakangan ramai dibahas di media sosial. Sebagian warganet menilai produk ini tidak seburuk makanan olahan lain karena kandungan proteinnya masih cukup baik. Namun, penilaian semacam ini tetap perlu melihat komposisi keseluruhan, termasuk kadar garam dan minyak. Dengan begitu, keputusan konsumsi dapat dibuat secara lebih bijak.

Produk olahan tertentu memang bisa menjadi sumber gizi yang praktis bagi masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi. Pada kondisi tertentu, makanan kemasan juga membantu memenuhi kebutuhan energi dan protein harian. Meski demikian, manfaat tersebut tidak menutup kemungkinan adanya risiko bila dikonsumsi terlalu sering. Karena itu, frekuensi dan porsi tetap menjadi faktor yang penting.

Ahli gizi umumnya menekankan pentingnya membaca label nutrisi sebelum membeli produk kemasan. Informasi seperti kandungan natrium, gula, lemak, dan ukuran saji dapat membantu konsumen menilai kualitas produk. Langkah sederhana ini dapat mengurangi kesalahan persepsi terhadap makanan yang tampak sehat. Pada akhirnya, pilihan yang lebih cermat akan mendukung pola makan yang lebih seimbang.

Bijak menilai makanan olahan

Perdebatan soal UPF menunjukkan bahwa literasi gizi masyarakat masih perlu diperkuat. Istilah yang terdengar ilmiah sering kali disederhanakan menjadi label baik atau buruk tanpa melihat konteksnya. Padahal, makanan tidak dapat dinilai hanya dari satu kategori pengolahan. Pemahaman yang lebih utuh akan membantu publik mengambil keputusan yang lebih rasional.

Pola makan sehat tetap bertumpu pada keseimbangan, keragaman, dan kecukupan zat gizi. Makanan segar, makanan minim proses, serta produk olahan tertentu masih dapat menjadi bagian dari konsumsi harian. Yang perlu dihindari adalah kebiasaan mengandalkan produk tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebihan. Dengan demikian, risiko kesehatan dapat ditekan tanpa harus menghindari semua makanan kemasan.

Temuan penelitian terbaru mengingatkan bahwa kategori UPF tidak boleh dipahami secara hitam putih. Ada produk yang memang lebih berisiko, tetapi ada pula yang tidak menunjukkan dampak serupa dalam sejumlah studi. Karena itu, masyarakat perlu melihat komposisi, porsi, dan frekuensi konsumsi secara bersamaan. Pendekatan ini jauh lebih realistis dibanding sekadar mengikuti tren di media sosial.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!