UPF Tak Selalu Sama, Ini Penjelasan Risikonya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 04:29 WIB 2
UPF Tak Selalu Sama, Ini Penjelasan Risikonya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan kembali ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap langsung identik dengan makanan tidak sehat. Di tengah perdebatan itu, sarden kalengan ikut mendapat perhatian setelah muncul klaim bahwa produk tersebut tidak termasuk UPF.

Padahal, persoalan UPF tidak sesederhana label baik atau buruk. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dampak kesehatan dari produk dalam kelompok ini bisa berbeda, tergantung pada komposisi, tingkat pengolahan, serta kandungan gula, garam, dan lemak di dalamnya.

UPF Dalam Klasifikasi NOVA

Dalam sistem klasifikasi NOVA, pangan dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat pengolahannya. Kelompok tersebut mencakup unprocessed or minimally processed foods, processed culinary ingredients, processed foods, dan ultra-processed foods atau UPF.

Klasifikasi ini membantu membedakan makanan yang masih mendekati bentuk aslinya dengan produk yang sudah melalui proses industri lebih lanjut. Namun, kategori UPF tidak otomatis berarti semua produknya memiliki dampak kesehatan yang sama.

Karena itu, penilaian terhadap suatu makanan perlu melihat seluruh profil gizinya, bukan hanya tingkat pengolahannya. Pendekatan ini penting agar masyarakat tidak salah memahami setiap produk kemasan sebagai ancaman yang seragam.

Risiko Tidak Selalu Seragam

Belakangan, banyak orang mulai menghindari makanan yang masuk kategori UPF karena dianggap pasti berbahaya bagi tubuh. Padahal, temuan ilmiah menunjukkan bahwa dampaknya bisa berbeda antarkelompok produk.

Beberapa jenis UPF memang lebih sering dikaitkan dengan risiko kesehatan, terutama produk yang tinggi gula, garam, dan lemak. Akan tetapi, ada pula produk tertentu yang tidak selalu menunjukkan pola risiko serupa dalam berbagai penelitian.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa label UPF tidak cukup untuk menilai kualitas suatu pangan secara menyeluruh. Kandungan nutrisi, porsi konsumsi, dan frekuensi makan tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Temuan Studi Diabetes Care

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada 2023 menggunakan data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat. Penelitian itu menemukan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2.

Meski demikian, peneliti mencatat bahwa tidak semua kelompok UPF menunjukkan hubungan yang sama dengan risiko tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengelompokan makanan tidak bisa dilakukan secara hitam-putih.

Hasil riset tersebut menegaskan pentingnya melihat jenis produk secara lebih rinci sebelum menarik kesimpulan. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami bahwa tidak semua makanan kemasan memiliki pengaruh yang identik terhadap kesehatan.

Contoh Produk Yang Berbeda

Dalam studi itu, produk seperti minuman berpemanis, refined breads, produk hewani olahan, hingga ready-to-eat dishes lebih sering dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Sementara itu, beberapa produk lain seperti yogurt, whole-grain breads, dan sereal tertentu menunjukkan hasil yang berbeda.

Perbedaan temuan tersebut mengindikasikan bahwa kualitas gizi suatu produk tetap menjadi faktor penting dalam menilai dampaknya. Makanan yang sama-sama masuk kategori UPF belum tentu memberikan efek kesehatan yang setara.

Bagi masyarakat, langkah paling bijak adalah membaca komposisi, memperhatikan kandungan gizi, dan membatasi konsumsi produk yang tinggi gula, garam, serta lemak. Dengan cara itu, pilihan makan tetap praktis tanpa mengabaikan kesehatan jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!