UMKM Yogya Raup Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 20:29 WIB 2
UMKM Yogya Raup Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis membawa dampak positif bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah, termasuk Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta. Dari pasokan susu untuk program tersebut, omzet usaha ini disebut menembus Rp 1 miliar.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan pihaknya mulai mendapat amanah memasok susu sejak Februari 2025. Saat ini, sedikitnya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di sejumlah wilayah Jawa Tengah mengambil stok susu dari usahanya.

Pasokan Susu untuk MBG

Yuki menyebut, SPPG yang mengambil stok susu berasal dari Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Setiap SPPG mengambil sekitar 12 ribu pcs susu per hari dengan ukuran 100 ml.

Menurut Yuki, suplai dilakukan dua kali dalam sepekan untuk masing-masing SPPG. Pola distribusi itu membuat kebutuhan produksi di pabriknya terus meningkat.

Pekan depan, Sweet Sundae juga akan memasok susu ke delapan SPPG tambahan. Kenaikan permintaan tersebut mendorong perusahaan menyiapkan kapasitas lebih besar.

Yuki mengatakan lonjakan kebutuhan itu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi usahanya. Di sisi lain, kepercayaan dari SPPG membuat produk susu plain miliknya semakin dikenal.

Produksi Naik Drastis

Untuk menjaga pasokan, Sweet Sundae memperkuat rantai produksi dengan membuka peternakan sendiri. Langkah ini diambil agar kebutuhan bahan baku tidak bergantung penuh pada pasokan luar.

Saat ini, perusahaan memelihara sedikitnya 97 ekor sapi. Dari ternak tersebut, produksi susu harian mencapai 4,5 ton.

Yuki menilai kapasitas itu masih perlu terus ditingkatkan seiring bertambahnya permintaan MBG. Ia menyebut pengembangan peternakan menjadi strategi utama untuk menjaga stabilitas suplai.

Dengan produksi yang lebih besar, perusahaan dapat menjaga kualitas dan kontinuitas distribusi. Hal ini juga membuat operasional usaha lebih terukur dalam menghadapi pesanan rutin.

Awal Keterlibatan Sweet Sundae

Keterlibatan Sweet Sundae dalam program MBG bermula saat sejumlah pihak SPPG mendatangi usahanya. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni.

Namun, Yuki tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ia memilih secara selektif SPPG yang akan menjadi mitra pasok.

Menurutnya, seleksi dilakukan agar kualitas distribusi dan tata kelola kerja sama tetap terjaga. Sikap hati-hati itu penting karena program MBG menuntut konsistensi pasokan yang tinggi.

Setelah melalui proses tersebut, Sweet Sundae mulai terlibat aktif dalam rantai pasok program. Dari sinilah peluang usaha berkembang lebih pesat dan berdampak pada kenaikan omzet.

Dampak bagi UMKM Lokal

Kisah Sweet Sundae menunjukkan bahwa program MBG dapat membuka ruang pertumbuhan bagi UMKM lokal. Keterlibatan pelaku usaha kecil dalam rantai pasok memberi efek ekonomi yang langsung terasa.

Selain memperluas pasar, program ini juga mendorong peningkatan kapasitas produksi. Dalam kasus Sweet Sundae, dorongan itu bahkan berujung pada pengembangan peternakan sendiri.

Dengan omzet yang disebut mencapai Rp 1 miliar, Sweet Sundae menjadi contoh bagaimana peluang kebijakan publik dapat dimanfaatkan secara produktif. Keberhasilan itu lahir dari kesiapan usaha dan kemampuan menjaga mutu produk.

Di tengah meningkatnya kebutuhan bahan pangan bergizi, peran UMKM seperti Sweet Sundae menjadi semakin penting. Peluang tersebut menunjukkan bahwa program pemerintah dapat mendorong pertumbuhan usaha sekaligus memperkuat ekonomi daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!