Perimenopause, Happy Salma Ungkap Perubahan Tubuh dan Emosi

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 21:47 WIB 2
Perimenopause, Happy Salma Ungkap Perubahan Tubuh dan Emosi

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional perempuan secara signifikan. Hal itu juga dirasakan oleh Happy Salma, yang kini semakin memahami perubahan tubuhnya seiring bertambahnya usia.

Dalam usia 46 tahun, ia mengaku baru benar-benar memahami bahwa menopause adalah fase yang tak terhindarkan. Pengalaman tersebut membuatnya lebih banyak mencari informasi, lebih peka terhadap perubahan tubuh, dan melihat fase ini sebagai bagian penting dari perjalanan hidup perempuan.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma menyebut perimenopause bisa dimulai sejak usia 30-an, sehingga banyak perempuan tidak menyadari saat tubuhnya mulai memasuki fase ini. Menurutnya, perubahan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga emosi.

Ia menuturkan bahwa sensitivitas tubuh bisa meningkat pada masa ini. Jika dahulu PMS hanya membuat lebih mudah tersinggung, kini reaksinya dapat terasa jauh lebih kuat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tubuh sedang menyesuaikan diri dengan perubahan hormon.

Perubahan hormonal pada fase perimenopause memang dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan. Gejalanya bisa muncul secara perlahan, lalu berkembang menjadi kebiasaan baru yang dirasakan sehari-hari. Karena itu, pemahaman dini menjadi penting agar perempuan dapat merespons perubahan dengan lebih baik.

Bagi banyak perempuan, perimenopause bukan sekadar persoalan usia. Fase ini juga menjadi pengingat bahwa tubuh memiliki ritme yang terus berubah. Dengan mengenali tanda-tandanya, seseorang dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk menjaga keseimbangan hidup.

Brain fog saat beraktivitas

Selain perubahan emosional, Happy juga merasakan gangguan pada daya ingat yang disebut brain fog. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai situasi ketika dirinya lebih mudah lupa dan sulit mempertahankan fokus.

Brain fog merupakan gangguan kognitif ringan yang kerap membuat seseorang merasa pikirannya tidak setajam biasanya. Pada fase perimenopause, kondisi ini umumnya dipicu oleh fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon tersebut berperan penting dalam fungsi otak dan konsentrasi.

Happy mengaku hal itu berdampak pada pekerjaannya sebagai aktris. Menghafal naskah menjadi lebih menantang, sementara perhatian saat bekerja juga tidak selalu stabil. Situasi tersebut menunjukkan bahwa perimenopause dapat memengaruhi produktivitas secara nyata.

Meski begitu, kondisi brain fog bukan berarti kemampuan seseorang menurun secara permanen. Dengan penyesuaian pola hidup, istirahat yang cukup, dan pemahaman yang baik, tantangan ini dapat dikelola. Kesadaran terhadap gejala menjadi langkah awal yang penting.

Perimenopause bukan untuk ditakuti

Di tengah perubahan yang dirasakannya, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru melihatnya sebagai momen refleksi diri yang memberi ruang untuk mengenal tubuh secara lebih utuh.

Menurutnya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup. Perempuan diajak lebih mendengar kebutuhan tubuh, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih menerima proses yang sedang berlangsung. Sikap tersebut dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus fisik.

Happy juga menyebut bahwa fase ini dapat membawa kedewasaan emosional yang lebih dalam. Ia menilai perempuan bisa menjadi lebih romantis kepada Sang Pencipta, lebih menghargai hidup, dan lebih banyak berdialog dengan diri sendiri. Pandangan itu membuatnya melihat perimenopause sebagai peluang untuk bertumbuh.

Ia percaya banyak perempuan justru dapat merasa lebih bahagia pada usia ini. Alasannya, mereka mulai lebih memahami diri dan memiliki perspektif hidup yang lebih matang. Dari sudut pandang itu, perimenopause bukan akhir, melainkan bagian penting dari proses menjadi lebih utuh.

Informasi dan dukungan penting

Menurut Happy, pemahaman menjadi kunci dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia kini lebih aktif mencari informasi agar dapat memahami gejala dan perubahan yang mungkin muncul. Langkah tersebut membuatnya lebih siap menjalani fase ini dengan tenang.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind. Upaya itu dilakukan untuk membantu menjaga kestabilan emosi dan kenyamanan hidup sehari-hari. Bagi dirinya, perhatian terhadap kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kondisi fisik.

Para ahli menilai perubahan hormon pada masa perimenopause memang membutuhkan perhatian khusus. Dukungan informasi yang tepat dapat membantu perempuan mengenali tanda awal dan menentukan langkah yang sesuai. Dengan begitu, fase transisi ini tidak menjadi sumber kecemasan berlebihan.

Pengalaman Happy Salma menunjukkan bahwa perimenopause adalah proses alami yang layak dipahami, bukan dihindari. Kesadaran, komunikasi, dan perawatan diri dapat membantu perempuan melewatinya dengan lebih baik. Pada akhirnya, fase ini dapat menjadi kesempatan untuk hidup lebih sehat dan lebih selaras dengan diri sendiri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!