Rupiah Tertekan, Dolar AS Sempat Sentuh Rp17.995

Forex & Saham Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 23:12 WIB 2
Rupiah Tertekan, Dolar AS Sempat Sentuh Rp17.995

Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Berdasarkan data Investing, dolar Amerika Serikat sempat bergerak di kisaran Rp 17.949 dan menembus rentang harian Rp 17.772 hingga Rp 17.995. Pada saat yang sama, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat berada di level Rp 17.904 pada pukul 04.00 UTC. Meski sempat melemah, posisi dolar kemudian berbalik menguat ke Rp 17.850 atau naik 0,37 persen.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Menurut dia, kondisi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS. Tekanan muncul ketika pasar cemas terhadap ketegangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Di sisi lain, kebutuhan dolar di dalam negeri juga ikut menambah beban pada mata uang Garuda.

Tekanan Rupiah Meningkat

Ibrahim menyebut tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan. Situasi ini membuat pelaku pasar bergerak lebih berhati-hati dalam mengambil posisi pada aset berisiko. Arus modal cenderung bergeser ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS. Akibatnya, ruang penguatan rupiah menjadi semakin terbatas.

Pergerakan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya preferensi investor terhadap aset lindung nilai. Dalam kondisi seperti ini, permintaan dolar biasanya naik ketika ketidakpastian global membesar. Gejolak tersebut ikut tercermin pada pasar valas domestik yang bergerak lebih volatil. Tekanan semacam ini sering membuat pasar menunggu sinyal baru dari kebijakan moneter global.

Pada perdagangan harian, kisaran dolar AS yang bergerak cukup lebar menunjukkan tingginya volatilitas. Rentang dari Rp 17.772 hingga Rp 17.995 menandakan pasar masih mencari titik keseimbangan. Ketika tekanan jual terhadap rupiah meningkat, pelaku pasar biasanya menyesuaikan ekspektasi mereka. Kondisi itu membuat arah pergerakan rupiah sulit diprediksi dalam jangka pendek.

Ibrahim menilai pelemahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan dinamika global yang cepat berubah. Sentimen pasar terhadap aset emerging market ikut tertekan ketika dolar AS menguat. Dalam situasi demikian, investor cenderung menahan ekspansi risiko sambil menunggu kepastian arah suku bunga dan geopolitik. Rupiah pun menjadi salah satu mata uang yang paling rentan terhadap perubahan sentimen tersebut.

Rupiah Tertekan Sentimen Global

Dari sisi eksternal, pasar mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas menambah kekhawatiran pelaku pasar. Kekhawatiran itu terutama berkaitan dengan potensi gangguan distribusi energi global. Selat Hormuz pun kembali menjadi perhatian karena perannya yang vital dalam jalur perdagangan minyak dunia.

Jika jalur distribusi energi terganggu, harga minyak berpotensi bergerak naik lebih tinggi. Kenaikan harga energi biasanya memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara. Dalam keadaan seperti itu, pasar akan menilai bank sentral global bisa mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Kondisi tersebut pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang.

Ibrahim menjelaskan bahwa ekspektasi pasar terhadap The Federal Reserve juga turut mempengaruhi rupiah. The Fed dinilai berpeluang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kebijakan itu membuat dolar AS tetap menarik bagi investor global. Sebaliknya, mata uang emerging market kehilangan sebagian daya tariknya di tengah tingginya imbal hasil aset dolar.

Tingginya harga energi berpotensi memperkuat inflasi global dan mempersempit ruang pelonggaran moneter. Jika The Fed menunda pemangkasan suku bunga, arus dana asing bisa tetap mengalir keluar dari pasar berkembang. Indonesia pun tidak luput dari tekanan tersebut karena pasar domestik sangat sensitif terhadap perubahan global. Dalam situasi ini, rupiah membutuhkan dukungan tambahan dari faktor internal yang lebih stabil.

Rupiah dan Faktor Domestik

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar AS meningkat untuk berbagai keperluan transaksi. Permintaan itu datang dari impor minyak, pembayaran dividen, dan kewajiban utang yang jatuh tempo. Ketiga faktor tersebut menambah tekanan pada pasar valuta asing domestik. Akibatnya, rupiah menghadapi beban ganda dari luar dan dari dalam negeri.

Ibrahim menilai kebutuhan dolar untuk impor energi menjadi salah satu pendorong utama pelemahan rupiah. Saat harga minyak tinggi, importir membutuhkan lebih banyak dolar untuk memenuhi pembayaran. Kondisi ini membuat permintaan valas di pasar domestik cenderung meningkat. Ketika permintaan naik lebih cepat daripada pasokan, rupiah biasanya tertekan.

Selain itu, pembayaran dividen kepada investor juga ikut menyerap likuiditas dolar. Arus keluar dana untuk kewajiban korporasi sering terjadi pada periode tertentu dan dapat menambah volatilitas. Jika berbarengan dengan kebutuhan pembayaran utang, tekanan terhadap kurs menjadi lebih besar. Pasar pun menjadi lebih sensitif terhadap setiap perubahan pasokan dolar di dalam negeri.

Pada saat yang sama, pelaku pasar masih mencermati kondisi fiskal domestik. Efektivitas sejumlah program pemerintah juga ikut menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi persepsi investor. Jika persepsi terhadap stabilitas ekonomi melemah, minat terhadap aset rupiah dapat berkurang. Sebaliknya, sinyal kebijakan yang kredibel akan membantu meredakan tekanan pada mata uang nasional.

BI Menjaga Rupiah

Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, menurut Ibrahim, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas karena tekanan datang bersamaan dari berbagai arah. Intervensi di pasar valas memang dapat meredam gejolak jangka pendek. Akan tetapi, tekanan yang besar membuat hasilnya belum sepenuhnya terlihat pada pergerakan kurs.

Ibrahim menegaskan bahwa BI sudah bergerak semaksimal mungkin dalam merespons tekanan pasar. Langkah itu mencakup upaya menjaga keseimbangan suplai dan permintaan valas di pasar. Di tengah volatilitas global, intervensi semacam ini penting untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam. Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa kuat tekanan eksternal yang masuk.

Pasar saat ini juga menunggu sinyal lanjutan dari otoritas moneter global dan domestik. Jika ketegangan geopolitik mereda dan ekspektasi suku bunga berubah, rupiah berpeluang mendapat ruang pemulihan. Sebaliknya, tekanan dapat bertahan lebih lama bila risiko global tetap tinggi. Oleh karena itu, arah pasar valas akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen dalam beberapa waktu ke depan.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar dinilai perlu mencermati rilis data dan kebijakan yang dapat mempengaruhi arus modal. Rupiah masih memiliki peluang bergerak stabil apabila faktor eksternal membaik dan kebutuhan dolar di dalam negeri terjaga. Namun, selama tekanan dari global dan domestik belum mereda, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Situasi ini menempatkan rupiah dalam fase yang menantang di pasar valuta asing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!