Produk UMKM Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 01 Juni 2026 21:46 WIB 2
Produk UMKM Indonesia Tembus Pasar Malaysia

Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar global setelah sarung tenun dari Kainnesia mendapat pesanan dari Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Keberhasilan ini menjadi sorotan karena datang dari pelaku usaha binaan Pertapreneur Aggregator 2024 yang berhasil memperluas jangkauan pasar hingga ke luar negeri.

Kainnesia, atau Kain Tenun Indonesia, dikenal sebagai penggerak yang menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah di Tanah Air. Melalui upaya tersebut, produk tenun nusantara tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga tampil sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi di pasar internasional.

UMKM tenun naik kelas

Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, mengatakan bahwa pertumbuhan usaha yang dicapai tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga UMKM mitra yang ikut berkembang. Ia menuturkan bahwa melalui program Pertapreneur Aggregator, dampak bisnis dapat dirasakan lebih luas dan lebih merata.

Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra Kainnesia telah mencapai lebih dari 400 orang. Angka tersebut menunjukkan adanya perluasan aktivitas usaha yang berpengaruh langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah.

Nur Salam menyampaikan bahwa capaian itu menjadi bukti program Pertapreneur Aggregator berjalan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Menurut dia, pertumbuhan yang terjadi bukan hanya untuk Kainnesia, melainkan juga bagi UMKM lain yang dibina dalam ekosistem usaha tersebut.

Tenun menarik pasar global

Produk Kainnesia telah tampil di sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025 dan Korea Import Fair di Seoul. Kehadiran di panggung global itu membuka peluang interaksi dengan buyer dari berbagai negara.

Selain itu, Kainnesia juga tampil pada Jogja Fashion Week 2025 dan Inacraft 2025. Dari rangkaian pameran tersebut, perusahaan memperoleh kesempatan menjalin komunikasi dengan pembeli potensial dari Jepang, Australia, hingga Malaysia.

Nur Salam menegaskan bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya yang perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Ia berharap generasi muda memandang tenun sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya simbol tradisi.

Pertapreneur dorong usaha

Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menilai kehadiran Kainnesia mencerminkan tujuan utama Pertapreneur Aggregator. Program ini dirancang agar UMKM dapat tumbuh lebih besar melalui dukungan yang terstruktur.

Rudi menjelaskan bahwa semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang UMKM lain untuk naik kelas. Kondisi itu dinilai dapat membuka lapangan kerja baru sekaligus menggerakkan ekonomi lokal secara lebih luas.

Ia berharap UMKM binaan Kainnesia mampu menjadi penggerak nilai tambah ekonomi yang lebih besar di daerah. Menurut dia, penguatan rantai usaha seperti ini penting agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh lebih banyak pelaku usaha kecil.

Ratusan UMKM ikut berkembang

Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui skema ini, peserta mendapatkan dukungan teknis, manajerial, hingga akses pasar yang lebih luas.

Dukungan tersebut membuat UMKM binaan tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas bisnis secara menyeluruh. Dengan demikian, mereka memiliki peluang lebih besar untuk bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Keberhasilan Kainnesia menjadi contoh bahwa kolaborasi antara pembinaan usaha dan penguatan jaringan pasar dapat menghasilkan dampak nyata. Dari tenun tradisional, muncul peluang ekspor yang memperlihatkan bahwa produk UMKM Indonesia mampu bersaing di level global.

Tag Terkait
#UMKM#tenun#ekspor

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!