UMKM Yogya Raup Omzet Rp1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 00:25 WIB 2
UMKM Yogya Raup Omzet Rp1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dorongan besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor pangan. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, yang mengaku mampu meraup omzet hingga Rp1 miliar dari pasokan susu untuk program tersebut. Owner sekaligus co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, menyampaikan bahwa perusahaannya mendapat amanah memasok susu untuk MBG sejak Februari 2025. Permintaan yang terus meningkat membuat kapasitas produksi ikut terdorong naik.

Hingga kini, setidaknya ada lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mengambil stok susu dari tempat usahanya. Lima SPPG itu tersebar di sejumlah wilayah Jawa Tengah, seperti Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Yuki mengatakan kebutuhan dari tiap titik distribusi cukup besar, sehingga alur pasokan harus dijaga ketat. Kondisi tersebut membuat usaha yang ia rintis berkembang lebih cepat dari perkiraan awal.

MBG Dorong Permintaan Susu

Yuki menjelaskan, satu SPPG sekali mengambil sekitar 12 ribu kemasan susu per hari dengan ukuran 100 mililiter. Suplai itu diberikan dua kali dalam sepekan untuk masing-masing titik layanan. Menurut dia, skala permintaan tersebut membuat produksi harian harus disesuaikan dengan jadwal pengiriman. Dalam situasi ini, konsistensi kualitas menjadi syarat utama agar distribusi tetap berjalan lancar.

Dengan kebutuhan yang terus membesar, Sweet Sundae memilih memperkuat rantai produksi dari hulu ke hilir. Perusahaan kemudian membuka peternakan sendiri untuk memastikan ketersediaan bahan baku tidak terganggu. Saat ini, ada 97 ekor sapi yang dipelihara untuk mendukung pasokan susu tersebut. Dari peternakan itu, produksi susu mencapai sekitar 4,5 ton per hari.

Yuki menuturkan, langkah membuka peternakan merupakan respons atas lonjakan permintaan yang datang dari program MBG. Ia menilai pasokan yang stabil hanya bisa dijaga jika perusahaan memiliki kendali lebih besar atas bahan baku. Karena itu, ekspansi dilakukan secara bertahap sambil memastikan kualitas susu tetap sesuai kebutuhan program. Strategi tersebut sekaligus memperkuat posisi usaha di tengah meningkatnya permintaan pasar.

Awal Keterlibatan Usaha

Partisipasi Sweet Sundae dalam program MBG bermula ketika pihak SPPG mendatangi langsung tempat usahanya. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni bagi kebutuhan program. Namun, Yuki tidak langsung menerima tawaran itu tanpa pertimbangan. Ia menyebut proses seleksi dilakukan secara hati-hati sebelum memutuskan bergabung.

Selektivitas itu, menurut Yuki, penting untuk menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Ia ingin memastikan mitra distribusi memiliki sistem kerja yang jelas dan dapat dipercaya. Pertimbangan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan perusahaan menjaga kualitas serta ketepatan pengiriman. Bagi pelaku usaha pangan, dua hal itu menjadi penentu utama dalam kerja sama skala besar.

Setelah kerja sama berjalan, kebutuhan produksi meningkat tajam dan memberi dampak langsung pada omzet perusahaan. Yuki menyebut pencapaian hingga Rp1 miliar menjadi bukti bahwa program MBG membuka ruang pertumbuhan bagi UMKM. Meski demikian, ia menegaskan ekspansi harus dibarengi dengan pengelolaan yang disiplin. Tanpa manajemen yang baik, lonjakan permintaan justru bisa menjadi risiko bagi usaha.

Ekspansi Produksi Susu

Untuk menjawab permintaan MBG, Sweet Sundae memperluas kapasitas produksi secara bertahap. Perusahaan tidak hanya mengandalkan pasokan pihak luar, tetapi juga membangun basis produksi sendiri. Langkah ini dinilai penting agar suplai tetap terjaga ketika kebutuhan dari SPPG meningkat. Dengan model tersebut, usaha memiliki ruang lebih besar untuk mengendalikan kualitas produk.

Produksi harian yang mencapai 4,5 ton menjadi indikator tingginya kebutuhan dari jaringan distribusi MBG. Angka itu menunjukkan bahwa program gizi nasional juga memicu aktivitas ekonomi di tingkat lokal. Di sisi lain, keberadaan peternakan sendiri membantu perusahaan menjaga kesinambungan pasokan bahan baku. Strategi integrasi ini membuat operasional lebih efisien dan adaptif terhadap permintaan.

Yuki mengatakan, peningkatan kapasitas bukan hanya soal mengejar volume penjualan. Menurut dia, yang paling penting adalah memastikan susu yang dikirim tetap aman, segar, dan sesuai standar. Karena itu, pengawasan terhadap peternakan dan proses pengolahan dilakukan dengan ketat. Pendekatan tersebut menjadi dasar agar kerja sama dengan program MBG dapat berlangsung berkelanjutan.

Dampak Bagi UMKM Lokal

Kisah Sweet Sundae menunjukkan bahwa program MBG dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk naik kelas. Keterlibatan dalam rantai pasok program pemerintah memberi peluang pasar yang lebih pasti. Selain itu, pelaku usaha memiliki insentif untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki manajemen. Dalam konteks ini, manfaat ekonomi tumbuh seiring dengan tujuan pemenuhan gizi masyarakat.

Di Jawa Tengah, jaringan SPPG yang menjadi mitra Sweet Sundae memperlihatkan bagaimana distribusi program dapat menggerakkan aktivitas bisnis lintas daerah. Kebutuhan yang tersebar di beberapa kota membuat perputaran produk lebih cepat. Kondisi tersebut juga mendorong pelaku usaha menyiapkan sistem logistik yang lebih tertata. Tanpa dukungan distribusi yang baik, pasokan untuk program sebesar MBG akan sulit berjalan stabil.

Bagi Sweet Sundae, peluang dari MBG bukan hanya soal omzet yang meningkat. Perusahaan juga memperoleh pengalaman memperluas skala usaha dengan standar yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, model ini dapat menjadi contoh bagi UMKM lain yang ingin masuk ke rantai pasok program pemerintah. Selama kualitas dan konsistensi terjaga, peluang pertumbuhan dinilai masih terbuka lebar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!