Bisnis Laundry Indonesia Didorong Tren Self-Service

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 01:30 WIB 2
Bisnis Laundry Indonesia Didorong Tren Self-Service

Sektor bisnis laundry atau penatu di Indonesia dinilai tengah berada pada momentum pertumbuhan yang strategis. Pandangan ini disampaikan CEO Apique Group, Apik Primadya, dalam Laundry Innovation Day 2025 yang digelar pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Forum tersebut mengangkat tema Laundry Business Outlook 2026, sejalan dengan meningkatnya perhatian pelaku usaha terhadap peluang pasar penatu. Apik menilai, pertumbuhan kawasan Asia Tenggara membuka ruang ekspansi yang semakin besar bagi pelaku industri di Indonesia.

Di hadapan peserta acara, Apik menjelaskan bahwa pasar penatu di Asia Tenggara tumbuh pesat dengan compound annual growth rate atau CAGR sebesar 9,1 persen pada periode 2025-2030. Ia juga menyebut model laundromat atau layanan self-service telah mencapai 18.000 outlet di Asia Pasifik pada 2024, naik 60 persen dalam empat tahun terakhir. Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan adopsi laundromat tertinggi di kawasan, bersama Thailand dan Singapura. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa bisnis laundry semakin kompetitif sekaligus menjanjikan.

Prospek bisnis laundry menguat

Pasar laundry di kawasan Asia Tenggara menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan didorong oleh perubahan perilaku konsumen. Kebutuhan layanan yang cepat, praktis, dan efisien membuat model usaha penatu modern semakin diminati. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki basis pasar yang besar untuk mengembangkan layanan serupa. Peluang tersebut semakin terbuka karena tingkat urbanisasi terus meningkat.

Apik menegaskan bahwa perkembangan laundromat bukan sekadar tren sesaat. Menurutnya, pertumbuhan outlet di Asia Pasifik memperlihatkan bahwa model self-service telah diterima pasar. Indonesia pun berada dalam posisi yang menguntungkan karena memiliki karakter konsumen yang dinamis. Dengan daya serap yang tinggi, pelaku usaha dapat membaca kebutuhan pasar lebih cepat.

Momentum ini juga mendorong pelaku usaha untuk memperkuat diferensiasi layanan. Di tengah persaingan yang kian ketat, inovasi menjadi faktor penting agar bisnis dapat bertahan. Pelaku laundry perlu menyesuaikan model usaha dengan preferensi pelanggan yang terus berubah. Tanpa pembaruan strategi, peluang pasar berisiko tidak tergarap optimal.

Green ocean strategy jadi fokus

Dalam paparannya, Apik mengungkapkan fokus bisnis laundry yang sedang dijalankan melalui pendekatan green ocean strategy. Strategi ini memadukan inovasi bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Pendekatan tersebut dinilai relevan di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keberlanjutan. Bagi pelaku usaha, orientasi ini dapat menjadi pembeda yang kuat.

Konsep green ocean strategy menekankan kolaborasi, digitalisasi, dan efisiensi energi. Tiga elemen tersebut dianggap penting untuk membangun bisnis yang lebih tangguh. Selain meningkatkan daya saing, pendekatan ini juga membantu menekan biaya operasional. Efisiensi tersebut menjadi nilai tambah dalam industri yang bergantung pada penggunaan energi dan air.

Apik menilai, bisnis laundry masa depan tidak cukup hanya mengandalkan volume layanan. Keberlanjutan menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Karena itu, pelaku usaha perlu beradaptasi dengan teknologi yang mendukung proses kerja lebih hemat sumber daya. Langkah ini diyakini dapat menciptakan model bisnis yang kompetitif sekaligus bertanggung jawab.

Expo lebih interaktif

Acara Laundry Innovation Day with Expo Laundry 2025 dirancang berbeda dari penyelenggaraan tahun sebelumnya. Pada edisi kali ini, konsep kegiatan dibuat lebih interaktif agar peserta dapat berpartisipasi secara langsung. Format tersebut memberi ruang lebih luas bagi pelaku industri untuk bertukar gagasan dan pengalaman. Pendekatan ini juga memperkuat nilai edukasi dalam forum bisnis.

Penyelenggaraan yang lebih interaktif turut berdampak pada tingginya minat peserta. Menurut Apik, jumlah tiket yang dijual dibatasi hanya 300 lembar. Seluruh tiket itu habis terjual satu bulan sebelum acara dimulai. Hal tersebut menunjukkan antusiasme pasar terhadap topik pengembangan bisnis laundry.

Forum ini menjadi salah satu wadah untuk membaca arah industri penatu ke depan. Pelaku usaha mendapat kesempatan mempelajari tren pasar, inovasi teknologi, serta strategi keberlanjutan. Dengan informasi tersebut, mereka dapat menyusun langkah bisnis yang lebih terukur. Kegiatan semacam ini juga memperkuat jejaring antar pelaku industri.

Pelaku usaha perlu adaptif

Perkembangan bisnis laundry menuntut pelaku usaha untuk lebih adaptif dalam membaca pasar. Inovasi layanan, efisiensi operasional, dan pemanfaatan teknologi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Dalam industri yang terus berubah, ketepatan strategi menjadi penentu daya saing. Pelaku usaha yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal.

Selain itu, kebutuhan konsumen yang menginginkan layanan cepat dan praktis harus direspons dengan model bisnis yang relevan. Digitalisasi dapat membantu proses operasional menjadi lebih tertata dan efisien. Sementara itu, perhatian terhadap lingkungan dapat memperkuat citra usaha di mata pelanggan. Kombinasi keduanya menjadi modal penting untuk pertumbuhan jangka panjang.

Dengan proyeksi pasar yang terus tumbuh, industri laundry di Indonesia masih menyimpan ruang ekspansi yang besar. Momentum tersebut dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang siap berinovasi. Jika strategi dijalankan secara konsisten, sektor ini berpeluang menjadi salah satu bisnis jasa yang semakin kompetitif. Apik menilai, masa depan laundry akan ditentukan oleh kemampuan membaca kebutuhan pasar dan menjaga keberlanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!