IHSG Terkoreksi Saat Pidato Prabowo Soal Ekspor SDA

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 28 Mei 2026 01:29 WIB 2
IHSG Terkoreksi Saat Pidato Prabowo Soal Ekspor SDA

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG menutup perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, dengan pelemahan 0,82 persen ke level 6.318,50. Sempat menguat pada sesi pagi, indeks berbalik arah dan tertekan lebih dari 2 persen ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam di DPR RI.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG sempat menyentuh level 6.459,55 sebelum akhirnya terkoreksi 52,179 poin. Tekanan juga terlihat pada saham-saham sektor mineral dan energi yang bergerak serempak melemah hingga penutupan perdagangan.

IHSG Tertekan Usai Pidato

Pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi sejak pembukaan sesi. Indeks sempat bergerak positif pada pagi hari, lalu berbalik turun setelah pasar merespons pidato Presiden Prabowo di parlemen. Pelemahan itu membuat IHSG kehilangan momentum penguatan yang sempat terbentuk sebelumnya. Pada akhir perdagangan, indeks ditutup di zona merah dengan penurunan yang cukup terasa bagi pelaku pasar.

Data perdagangan mencatat IHSG berakhir pada level 6.318,50 setelah turun 0,82 persen. Pada pukul 11.19 WIB, indeks bahkan sempat merosot lebih dari 2 persen saat pidato Presiden berlangsung. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar bereaksi cepat terhadap sentimen kebijakan yang berkaitan dengan ekspor komoditas SDA. Arah indeks kemudian tidak mampu pulih penuh hingga sesi penutupan.

Volatilitas harian ini juga terlihat dari rentang pergerakan yang cukup lebar sepanjang sesi perdagangan. IHSG sempat menguat lebih dari 1 persen ke posisi 6.459,55 sebelum berbalik arah. Perubahan sentimen dalam waktu singkat menjadi penanda bahwa pasar masih sensitif terhadap kabar kebijakan pemerintah. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencermati risiko dan peluang secara lebih selektif.

Tekanan Menguat di Saham Mineral

Sejumlah saham di sektor mineral dan terkait komoditas ikut terkoreksi pada penutupan perdagangan. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk atau ADRO turun 4,29 persen ke harga Rp2.230 per saham. PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMN juga melemah 6,31 persen ke level Rp2.970 per saham. Tekanan serupa dialami saham lain yang berada di jalur bisnis sumber daya alam.

PT Bumi Resources Tbk atau BUMI melemah 6,99 persen menjadi Rp173 per saham. PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG terkoreksi 6,60 persen ke Rp1.485 per saham. Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA turun 4,21 persen ke Rp6.825 per saham. Koreksi ini memperlihatkan bahwa sentimen negatif tidak hanya terjadi pada satu emiten, melainkan merata di kelompok saham tertentu.

Di sisi lain, tekanan paling dalam juga terlihat pada PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN yang merosot 9,23 persen ke Rp590 per saham. PT Petrosea Tbk atau PTRO ikut turun 7,41 persen ke level Rp4.000 per saham. Pergerakan ini memperkuat gambaran bahwa investor mengambil posisi hati-hati terhadap saham berbasis komoditas. Sentimen kebijakan ekspor menjadi salah satu faktor yang diperkirakan memengaruhi keputusan transaksi.

Aktivitas Transaksi Tetap Tinggi

Meski IHSG melemah, aktivitas transaksi di bursa tetap tergolong tinggi sepanjang perdagangan. Volume perdagangan tercatat mencapai 41,12 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp35 triliun. Frekuensi transaksi juga mencapai 2.466.564 kali. Angka tersebut menunjukkan bahwa minat pelaku pasar tetap besar meski indeks bergerak turun.

Data pergerakan saham memperlihatkan sebanyak 483 saham melemah, 207 saham menguat, dan 126 saham stagnan. Komposisi ini menandakan tekanan jual lebih dominan pada sesi akhir perdagangan. Dalam kondisi seperti itu, sentimen eksternal dan kebijakan menjadi pemicu penting bagi arah pasar. Investor pun tampak menyesuaikan portofolio dengan lebih cepat menjelang penutupan.

Tingginya nilai transaksi di tengah pelemahan indeks juga menunjukkan adanya pertukaran posisi yang aktif. Sebagian pelaku pasar tampaknya memanfaatkan volatilitas untuk melakukan aksi jual maupun akumulasi pada saham tertentu. Namun, dominasi saham yang terkoreksi tetap menjadi penanda bahwa kehati-hatian masih mendominasi. Situasi ini berpotensi membuat pasar bergerak fluktuatif dalam beberapa sesi berikutnya.

Tata Kelola Ekspor SDA

Dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI, Presiden Prabowo menyampaikan kebijakan baru terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Pemerintah akan menerbitkan Peraturan Pemerintah untuk mengatur pengelolaan ekspor agar memberi dampak lebih besar bagi kesejahteraan rakyat. Kebijakan ini disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat pengawasan dan tata niaga komoditas. Pasar kemudian menilai aturan tersebut sebagai sentimen penting bagi emiten berbasis SDA.

Prabowo juga menyebut seluruh penjualan ekspor komoditas SDA akan dikelola melalui BUMN. Mekanisme itu dimaksudkan agar negara memiliki kendali lebih kuat atas aliran perdagangan komoditas strategis. Dalam kebijakan tersebut, pemerintah ingin memastikan nilai tambah ekonomi tidak hanya dinikmati pelaku usaha. Pada saat yang sama, pasar menimbang potensi dampaknya terhadap rantai bisnis sektor terkait.

Komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, batu bara, hingga ferro alloy disebut wajib diekspor melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah. Ketentuan itu dipandang dapat mengubah pola bisnis pada sejumlah sektor yang selama ini bergantung pada mekanisme ekspor lama. Reaksi pasar pada perdagangan hari ini menunjukkan investor masih mencerna implikasi aturan tersebut. Ke depan, arah saham-saham komoditas akan sangat dipengaruhi oleh detail implementasi kebijakan itu.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!