UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 09:21 WIB 2
UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 Miliar dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di berbagai daerah. Salah satunya dirasakan Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, yang mampu meraup omzet hingga Rp 1 miliar dari pasokan susu untuk program tersebut.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan pihaknya mendapat amanah memasok susu MBG sejak Februari 2025. Saat ini, sedikitnya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG mengambil stok susu dari usahanya yang tersebar di Jawa Tengah.

Pasokan susu meningkat tajam

Yuki menjelaskan, kebutuhan susu untuk MBG membuat permintaan dari SPPG terus bertambah. Setiap SPPG mengambil 12 ribu kemasan susu per hari dengan ukuran 100 mililiter.

Menurut dia, pengiriman dilakukan dua kali dalam sepekan untuk menjaga kelancaran distribusi. Skema tersebut membantu memastikan stok tetap tersedia sesuai kebutuhan penerima manfaat.

Saat ini, SPPG yang mengambil susu dari Sweet Sundae tersebar di Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Pekan depan, perusahaan itu juga akan menambah suplai untuk delapan SPPG lainnya.

Lonjakan permintaan itu membuat kapasitas produksi harus terus diperkuat. Kondisi tersebut mendorong Sweet Sundae menata ulang rantai pasok agar tetap stabil.

Peternakan sendiri dibangun

Untuk menjawab kebutuhan yang membesar, Sweet Sundae akhirnya membuka peternakan sendiri. Langkah ini diambil agar pasokan bahan baku susu tetap terjaga dan tidak bergantung sepenuhnya pada pihak luar.

Saat ini, perusahaan memelihara 97 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan produksi. Dari ternak tersebut, produksi susu mencapai sekitar 4,5 ton per hari.

Yuki menilai langkah integrasi hulu ke hilir menjadi penting dalam menjaga kualitas produk. Dengan begitu, pasokan untuk program MBG bisa tetap konsisten dan terukur.

Strategi ini juga memberi ruang bagi UMKM untuk memperluas kapasitas usaha secara bertahap. Selain meningkatkan produksi, perusahaan bisa menjaga efisiensi dalam jangka panjang.

Awal mula kerja sama

Menurut Yuki, kerja sama dengan program MBG berawal dari kedatangan pihak SPPG ke usahanya. Mereka menawarkan peluang untuk memasok susu plain atau susu murni bagi program tersebut.

Meski begitu, Yuki tidak langsung menerima tawaran itu begitu saja. Ia memilih menyeleksi SPPG yang ingin bekerja sama agar rantai distribusi berjalan jelas.

Langkah selektif tersebut diambil untuk menjaga kualitas pelayanan dan keamanan pasokan. Ia ingin memastikan kerja sama yang dibangun memiliki standar yang sesuai.

Dari proses itu, Sweet Sundae kemudian terlibat lebih jauh dalam ekosistem pasok MBG. Hasilnya, omzet usaha ikut terdongkrak secara signifikan.

Dampak bagi UMKM lokal

Kasus Sweet Sundae menunjukkan program MBG dapat memberi dampak ekonomi langsung bagi UMKM lokal. Pesanan yang konsisten membuat pelaku usaha memiliki kepastian pasar.

Dengan omzet yang mencapai Rp 1 miliar, usaha kecil dapat naik kelas lebih cepat. Peningkatan tersebut juga membuka peluang penyerapan tenaga kerja dan penguatan produksi.

Di sisi lain, kebutuhan skala besar menuntut pelaku usaha lebih disiplin dalam pengelolaan kualitas. Tanpa manajemen yang baik, pasokan berisiko terganggu dan berdampak pada distribusi.

Bagi Sweet Sundae, momentum ini menjadi bukti bahwa program pemerintah dapat menjadi penggerak ekonomi daerah. Jika dikelola dengan baik, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh pelaku UMKM dan masyarakat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!