Arus Peti Kemas Naik 7 Persen, Ekonomi Nasional Positif

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 01 Juni 2026 14:21 WIB 2
Arus Peti Kemas Naik 7 Persen, Ekonomi Nasional Positif

Aktivitas ekonomi nasional menunjukkan sinyal positif pada awal 2026, seiring meningkatnya pergerakan barang melalui pelabuhan di berbagai daerah. Hingga April 2026, arus peti kemas yang dilayani PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencapai 6,42 juta TEUs, naik sekitar 7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut mencerminkan bahwa rantai pasok, produksi, konsumsi, dan perdagangan domestik masih bergerak kuat. Di sisi lain, pertumbuhan arus internasional dan distribusi antarpulau juga mempertegas peran pelabuhan sebagai simpul utama logistik nasional.

Arus Peti Kemas Menguat

Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar menyebut peningkatan arus peti kemas tidak hanya berasal dari aktivitas ekspor dan impor, tetapi juga dari distribusi barang domestik. Menurut dia, kondisi ini menunjukkan bahwa logistik nasional tetap bertahan positif di tengah dinamika ekonomi global.

Secara rinci, segmen internasional tumbuh sekitar 11 persen, dengan ekspor naik 10 persen dan impor meningkat 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas domestik ikut tumbuh 4 persen, didorong kenaikan aktivitas bongkar 5 persen dan muat 4 persen.

Pertumbuhan tersebut menandakan perdagangan luar negeri Indonesia masih berjalan baik. Di saat yang sama, distribusi barang antarpulau tetap kuat untuk menopang konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.

Kondisi itu juga mencerminkan daya tahan perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian global. Faktor pendukungnya antara lain struktur perdagangan yang masih banyak terkonsentrasi di kawasan intra-Asia, terutama Tiongkok dan ASEAN.

Perdagangan Asia Jadi Penopang

Dalam struktur perdagangan nasional, kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor Indonesia. Komposisi ini memberi bantalan bagi Indonesia karena arus barang bergerak di wilayah yang memiliki hubungan dagang kuat dan saling terintegrasi.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas tumbuh positif. Di antaranya lemak dan minyak hewan atau nabati naik 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 4,9 persen, serta produk kimia 12,27 persen.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas industri pengolahan dan perdagangan komoditas bernilai tambah masih terjaga. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan manufaktur nasional dan kinerja ekspor.

Dari sisi impor, kenaikan terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, serta produk kimia 36,31 persen. Struktur impor ini menegaskan bahwa kebutuhan terhadap barang modal dan bahan pendukung manufaktur masih kuat.

Pelabuhan Utama Catat Kenaikan

Peningkatan arus peti kemas juga terlihat di sejumlah pelabuhan utama yang melayani ekspor dan impor nasional. Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, dan Tanjung Perak di Surabaya menjadi titik penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang.

Aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan tersebut menunjukkan rantai pasok nasional tetap aktif. Di sisi lain, throughput internasional di terminal utama menandakan penguatan aktivitas logistik pada kawasan industri strategis di Indonesia.

Pada arus domestik, pertumbuhan distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia juga menjadi sorotan. Tanjung Priok mencatat pertumbuhan sekitar 8 persen, didorong meningkatnya pengiriman peti kemas ke pelabuhan-pelabuhan di wilayah timur.

Sementara itu, Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen, didukung layanan menuju Makassar, Kendari, dan Berau. Pelabuhan Makassar juga mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen, seiring pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija.

Pemerintah Dorong Modernisasi

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud mengatakan pemerintah terus mendorong badan usaha pelabuhan untuk meningkatkan kapasitas dan layanan peti kemas. Salah satu langkahnya adalah penerbitan rekomendasi teknis penetapan terminal peti kemas dari fasilitas yang sebelumnya berstatus multipurpose.

Terminal tersebut kemudian ditetapkan oleh KSOP sebagai penyelenggara pelabuhan sesuai ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 50 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut. Pada periode 2025 hingga April 2026, sebanyak 12 lokasi terminal telah ditetapkan, termasuk Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Pemerintah juga menetapkan standar kinerja pelayanan operasional, termasuk kinerja bongkar muat peti kemas dan peralatan yang digunakan. Evaluasi berkala dilakukan agar kualitas layanan tetap terjaga dan mampu mengimbangi peningkatan permintaan.

Di sisi infrastruktur, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan dan dukungan APBN mendorong pengembangan terminal, pendalaman alur pelayaran, modernisasi alat bongkar muat, dan digitalisasi layanan. Dalam periode 2025 hingga 2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan milik pemerintah telah dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!