Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini. Mata uang Garuda terpantau berada di kisaran Rp 17.698 per dolar AS, sementara dolar AS menguat 0,04 persen ke level Rp 17.853. Di tengah kondisi itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan akan mendorong rupiah menguat kembali ke Rp 15.000. Namun sejumlah analis menilai target tersebut jauh dari realistis dalam waktu dekat.
Pelemahan rupiah terjadi saat pasar masih dibayangi tekanan eksternal, kebijakan pemerintah, dan meningkatnya permintaan dolar di dalam negeri. Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira serta analis komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi sama-sama menilai ruang penguatan rupiah sangat terbatas. Keduanya menyoroti faktor fundamental ekonomi, sentimen investor asing, dan kebutuhan devisa yang belum stabil. Dalam kondisi tersebut, rupiah dinilai lebih berpeluang lanjut tertekan ketimbang kembali ke level Rp 15.000.
Rupiah Masih Di Bawah Tekanan
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan menunjukkan tekanan yang belum mereda. Dolar AS menguat tipis, tetapi cukup untuk mempertahankan sentimen negatif di pasar valuta asing. Level rupiah di sekitar Rp 17.698 menjadi sinyal bahwa pasar masih berhati-hati. Kondisi ini mencerminkan dominasi dolar yang masih kuat terhadap mata uang emerging market.
Pernyataan pemerintah mengenai target penguatan rupiah ke Rp 15.000 turut menjadi sorotan pelaku pasar. Meski disampaikan dengan nada optimistis, pasar menilai arah kebijakan fiskal dan perdagangan tetap menjadi penentu utama. Investor cenderung menunggu bukti perbaikan fundamental sebelum kembali masuk ke aset rupiah. Karena itu, reaksi pasar sejauh ini belum menunjukkan perubahan signifikan.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan pelaku usaha dan rumah tangga terhadap dolar. Saat ketidakpastian tinggi, sebagian investor memilih memegang valuta asing sebagai langkah lindung nilai. Akibatnya, permintaan dolar di pasar domestik ikut naik. Kondisi tersebut membuat pemulihan rupiah menjadi semakin menantang.
Target Rupiah Dinilai Sulit
Bhima Yudhistira menilai kecil kemungkinan rupiah kembali menguat ke level beberapa tahun sebelumnya. Menurut dia, sejak 2008, pelemahan yang sudah terjadi cenderung sulit dipulihkan secara signifikan. Ia menyebut rupiah bahkan berisiko menembus level di atas Rp 18.000 per dolar AS. Pandangan itu didasarkan pada kondisi pasar yang belum stabil dan masih sarat tekanan.
Bhima juga menyoroti pergeseran preferensi investor yang mulai mencari aset dolar. Ia menyebut kebijakan yang memicu kekhawatiran, seperti rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia, ikut menekan kepercayaan pasar. Di sisi lain, kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam di bank BUMN juga dinilai belum tentu menyelesaikan masalah devisa. Kondisi itu justru dapat mendorong pelaku pasar menjaga posisi mereka di instrumen dolar.
Menurut Bhima, target kembali ke Rp 15.000 hampir tidak mungkin tercapai dalam waktu dekat. Ia menilai tekanan fiskal dan sentimen negatif terhadap kebijakan pemerintah masih terlalu besar. Dalam situasi seperti ini, pasar cenderung melihat rupiah sebagai aset yang berisiko. Karena itu, ia menilai penguatan besar hanya bisa terjadi bila ada perbaikan struktural yang nyata.
Kebijakan Dan Fundamental Menekan
Ibrahim Assuaibi juga menilai target rupiah ke Rp 15.000 sulit tercapai. Ia menyebut harapan itu lebih sering terdengar sebagai optimisme yang belum ditopang data lapangan. Menurutnya, dinamika geopolitik dan ekonomi domestik masih memberi tekanan besar pada kurs. Dalam pandangannya, rupiah justru berpotensi kembali melemah dalam waktu dekat.
Ibrahim menyoroti defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi. Ia menjelaskan, ketika harga minyak dunia naik sementara rupiah melemah, beban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan devisa menjadi lebih berat. Kondisi tersebut memperbesar tekanan pada APBN dan arus dolar ke luar negeri. Akibatnya, ruang stabilisasi rupiah menjadi semakin sempit.
Selain itu, kebutuhan pembagian dividen oleh perusahaan asing di Indonesia juga ikut menaikkan permintaan dolar. Saat dana harus dikirim ke luar negeri, pelaku pasar cenderung menyiapkan valuta asing lebih awal. Proses ini memperbesar tekanan pada rupiah di pasar domestik. Dalam kondisi demikian, pelemahan nilai tukar dapat berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.
Dolar Menguat, Emas Tertekan
Penguatan dolar AS juga berdampak pada pergerakan aset lain, termasuk emas. Ibrahim menyebut harga emas dunia masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian global. Namun saat dolar menguat, sebagian investor memilih berpindah dari emas ke dolar untuk mengejar keuntungan jangka pendek. Pergeseran tersebut ikut menambah tekanan pada pasar logam mulia.
Menurut Ibrahim, momentum pasar saat ini lebih condong mendukung indeks dolar ketimbang emas. Investor melihat pelemahan rupiah sebagai peluang untuk mengunci keuntungan dalam valuta asing. Situasi ini membuat aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik di mata sebagian pelaku pasar. Sementara itu, emas dipandang kurang agresif sebagai instrumen defensif pada jangka pendek.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, pasar masih menunggu arah kebijakan pemerintah yang lebih meyakinkan. Kepastian regulasi dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan investor asing. Tanpa perbaikan pada fundamental dan sentimen pasar, rupiah berisiko tetap berada di bawah bayang-bayang tekanan. Dengan demikian, target penguatan ke Rp 15.000 masih dipandang sangat jauh.
