Ahli IPB Ingatkan Risiko Konsumsi Susu Mentah

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 14:24 WIB 2
Ahli IPB Ingatkan Risiko Konsumsi Susu Mentah

Raw milk atau susu mentah kembali menjadi perbincangan di media sosial karena dianggap memiliki kandungan gizi yang lebih utuh dibandingkan susu pasteurisasi maupun UHT. Namun, di balik popularitasnya, ada risiko keamanan pangan yang dinilai tidak bisa diabaikan.

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., MVPH., M.Si., menegaskan bahwa konsumsi susu mentah tidak disarankan, terutama di Indonesia. Ia menyampaikan hal itu saat ditemui dalam acara Frisian Flag Temani Langkahmu, Kini dan Nanti, di Bintaro Exchange 2, Minggu, 31 Mei 2026.

Risiko Susu Mentah

Prof. Epi menjelaskan bahwa susu mentah memiliki risiko terkontaminasi bakteri yang dapat membahayakan kesehatan. Risiko itu menjadi lebih besar jika proses pemerahan, penampungan, dan distribusi tidak dilakukan secara higienis.

Menurut dia, masyarakat perlu memahami bahwa kandungan gizi yang dianggap lebih utuh tidak otomatis berarti lebih aman dikonsumsi. Dalam kasus susu mentah, ancaman terbesar justru datang dari mikroorganisme yang tidak terlihat oleh mata.

Ia menegaskan bahwa di Indonesia, tingkat kehati-hatian harus jauh lebih tinggi karena rantai produksi susu belum seluruhnya modern. Kondisi ini membuat kemungkinan kontaminasi bakteri tetap terbuka sejak proses awal hingga produk diterima konsumen.

Karena itu, Prof. Epi menyarankan agar masyarakat memilih produk susu yang telah melalui proses pemanasan terukur. Langkah tersebut dinilai lebih aman untuk menjaga kualitas produk sekaligus melindungi kesehatan konsumen.

Produksi Susu di Indonesia

Prof. Epi menilai kondisi produksi susu di Indonesia masih banyak dilakukan secara tradisional. Pemerahan susu kerap dilakukan secara manual dengan tangan, lalu ditampung dalam ember atau milk can.

Metode seperti itu, menurut dia, masih menyimpan risiko kontaminasi dari lingkungan sekitar. Jika kebersihan alat dan kebersihan pekerja tidak terjaga, bakteri dapat masuk ke dalam susu dengan mudah.

Ia menambahkan bahwa tantangan lain terletak pada pengawasan kualitas yang belum merata di seluruh wilayah. Akibatnya, standar keamanan pada susu mentah belum dapat disamakan dengan negara yang sistem pengawasannya lebih ketat.

Dalam situasi tersebut, konsumsi susu mentah dinilai terlalu berisiko untuk dianjurkan secara luas. Prof. Epi menekankan bahwa kehati-hatian harus menjadi pertimbangan utama sebelum memilih produk susu.

Bakteri Dalam Susu Mentah

Prof. Epi menjelaskan bahwa susu mentah dapat mengandung dua kelompok bakteri. Kelompok pertama adalah bakteri patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit, sedangkan kelompok kedua adalah bakteri pembusuk yang mempercepat kerusakan produk.

Bakteri patogen dapat menimbulkan gangguan kesehatan jika masuk ke tubuh manusia. Sementara itu, bakteri pembusuk akan menurunkan mutu susu dan membuat produk lebih cepat tidak layak konsumsi.

Ia menegaskan bahwa proses pasteurisasi memiliki peran penting dalam menekan risiko tersebut. Melalui pemanasan pada suhu tertentu, bakteri patogen dapat dibunuh sehingga susu menjadi lebih aman diminum.

Karena alasan itu, susu pasteurisasi maupun produk susu olahan lain dinilai lebih sesuai bagi konsumen umum. Produk tersebut menawarkan keamanan yang lebih baik tanpa mengabaikan kebutuhan gizi harian.

Opsi Susu Lebih Aman

Prof. Epi menilai masyarakat sebaiknya lebih selektif dalam memilih produk susu untuk konsumsi harian. Keamanan pangan harus ditempatkan setara dengan pertimbangan rasa dan nilai gizi.

Ia mendorong konsumen untuk memahami perbedaan antara susu mentah, susu pasteurisasi, dan susu UHT. Pemahaman ini penting agar pilihan yang diambil tidak menimbulkan risiko kesehatan di kemudian hari.

Contoh dari Jerman menunjukkan bahwa penjualan susu mentah untuk konsumsi langsung pun diawasi sangat ketat. Bahkan, susu tersebut hanya boleh diminum di lokasi dan tidak diperkenankan dibawa pulang.

Menurutnya, pengawasan seperti itu menunjukkan bahwa susu mentah bukan produk yang bisa diperlakukan sembarangan. Karena itu, masyarakat Indonesia diminta lebih mengutamakan produk yang telah melalui proses pengolahan aman dan terstandar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!