Di tengah pandangan umum yang masih melihat sampah sebagai limbah tak bernilai, sejumlah pelaku usaha justru membuktikan sebaliknya. Melalui inovasi, sampah botol plastik dan limbah keramik diolah menjadi produk bernilai tinggi, menarik, dan layak jual ke pasar global. Salah satu contoh datang dari Robries dan Lumosh, dua UMKM kreatif yang memanfaatkan pendampingan Indonesia Design Development Center (IDDC) Kementerian Perdagangan. Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa pengolahan sampah dapat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.
CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menjelaskan usahanya dibangun pada 2018 dengan fokus mengolah tutup botol plastik menjadi furnitur. Produk tersebut dirancang agar tampil estetis, fungsional, dan punya nilai tambah di mata konsumen. Sementara itu, Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, mengembangkan produk rumah tangga berbahan limbah keramik dengan desain artistik. Keduanya sama-sama menempuh jalan panjang untuk membuktikan bahwa produk daur ulang bisa bersaing di pasar ekspor.
Daur Ulang Jadi Peluang Bisnis
Robries lahir dari gagasan bahwa sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Syukriyatun dan timnya memilih tutup botol plastik sebagai bahan utama untuk diubah menjadi furniture. Produk itu dibuat dengan tampilan yang menarik agar bisa diterima pasar yang lebih luas. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan melalui pendekatan bisnis yang berkelanjutan.
Meski memiliki misi positif, produk berbahan daur ulang tetap menghadapi tantangan di pasar. Menurut Syukriyatun, banyak konsumen masih memandang produk semacam ini sebagai hal yang asing. Kondisi itu membuat edukasi pasar menjadi kebutuhan penting agar produk lebih mudah dipahami. Tanpa pemahaman yang baik, potensi nilai jual produk daur ulang sulit berkembang maksimal.
Tantangan berikutnya terletak pada ketersediaan bahan baku yang konsisten. Robries membutuhkan pasokan sampah tutup botol plastik dalam jumlah memadai untuk menjaga produksi tetap berjalan. Di sisi lain, kualitas produk harus tetap dijaga meski sumber bahan baku tidak selalu stabil. Situasi ini menuntut strategi pasokan yang rapi dan berkelanjutan.
Meski demikian, upaya tersebut berbuah hasil nyata bagi perkembangan usaha. Sejak 2018, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk berbahan dasar sampah. Total sampah yang berhasil diolah mencapai 145 ton. Capaian ini menjadi bukti bahwa konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan secara nyata oleh UMKM.
Pembinaan IDDC Dorong Ekspor
Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC aktif membantu UMKM menembus pasar luar negeri. Pendampingan diberikan kepada pelaku usaha yang lolos kurasi untuk mengikuti Trade Expo Indonesia 2025. Pameran berskala internasional ini mempertemukan pelaku usaha lokal dengan pembeli dari berbagai negara. Ajang tersebut menjadi pintu penting bagi UMKM untuk membangun jaringan bisnis baru.
TEI 2025 diikuti setidaknya 8.045 pembeli dari 130 negara. Skala tersebut memberi peluang besar bagi produk kreatif Indonesia untuk dikenal lebih luas. Bagi pelaku UMKM, kesempatan ini tidak hanya soal menjual produk, tetapi juga memahami kebutuhan pasar internasional. Interaksi langsung dengan buyer memberi gambaran nyata tentang standar yang dibutuhkan pasar ekspor.
Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC memberi dampak besar bagi perkembangan Robries. Menurutnya, bimbingan mengenai pengemasan produk sangat membantu agar produk lebih menarik bagi calon pembeli. Dukungan itu juga membuat produk lebih siap memasuki pasar luar negeri. Bagi pelaku UMKM, arahan semacam ini menjadi modal penting dalam proses ekspansi.
Ia menambahkan, proses mendapatkan pengakuan desain internasional tidak singkat. Selama empat tahun, Robries mengajukan Good Design Award dan terus mendapat bimbingan dari IDDC. Hasilnya, tahun ini RPS meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan. Pencapaian tersebut dinilai berdampak besar terhadap penetrasi pasar, terutama di sektor ekspor.
Limbah Keramik Bernilai Tinggi
Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat besar dari pendampingan IDDC. Usahanya mengolah limbah keramik menjadi berbagai produk rumah tangga yang artistik. Dari bahan yang kerap dianggap tidak bernilai, Lumosh menghasilkan piring, gelas, dan perabot lain dengan desain yang kuat. Produk tersebut menampilkan identitas daur ulang tanpa mengurangi nilai estetikanya.
Raymond mengatakan, pengembangan produk daur ulang keramik bukan perkara mudah. Ia menilai referensi mengenai pengolahan limbah keramik masih sangat terbatas. Bahkan, pencarian literatur dan riset menjadi tantangan tersendiri bagi timnya. Karena itu, dukungan riset dari IDDC menjadi sangat berarti dalam proses pengembangan produk.
IDDC juga membantu Lumosh dari sisi desain agar produk tampak representatif. Menurut Raymond, desain yang tepat penting agar konsumen langsung memahami bahwa produk tersebut berasal dari proses daur ulang. Pendampingan itu memudahkan Lumosh menyusun tampilan produk yang lebih siap dipasarkan. Dengan begitu, produk tidak hanya fungsional tetapi juga punya nilai cerita yang kuat.
Selain desain, IDDC turut menjadi ruang konsultasi bagi pelaku UMKM terkait pasar global. Raymond mengakui masukan yang diberikan sangat membantu dalam menentukan pasar yang tepat. Informasi tersebut membuat Lumosh lebih percaya diri untuk menyiapkan langkah ekspor. Pendekatan itu menunjukkan bahwa pendampingan bisnis tidak hanya soal produk, tetapi juga strategi pasar.
Peluang UMKM Masuk Pasar Global
Kisah Robries dan Lumosh memperlihatkan bahwa sampah dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Ketika dikelola secara kreatif, limbah justru mampu membuka lapangan usaha dan memperluas pasar. Model bisnis seperti ini juga sejalan dengan tren keberlanjutan yang semakin dicari konsumen global. Karena itu, inovasi daur ulang memiliki peluang besar untuk terus berkembang.
Peran pemerintah melalui IDDC menjadi faktor penting dalam mendorong daya saing UMKM. Pendampingan desain, riset, dan akses pameran memberi ruang bagi produk lokal untuk naik kelas. Dukungan tersebut membantu pelaku usaha memahami standar pasar ekspor yang ketat. Dengan bekal itu, UMKM lebih siap bersaing di level internasional.
Di sisi lain, konsistensi bahan baku dan edukasi pasar tetap menjadi pekerjaan rumah utama. Tanpa pasokan yang stabil, produksi akan sulit dijaga dalam jangka panjang. Tanpa edukasi yang memadai, produk daur ulang juga bisa sulit diterima pasar luas. Oleh karena itu, sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, dan pasar menjadi sangat penting.
Pencapaian kedua UMKM ini memberi pesan bahwa produk kreatif Indonesia memiliki daya saing tinggi. Selama inovasi terus dilakukan dan pendampingan berjalan konsisten, pasar global bukan lagi target yang jauh. Produk dari sampah bisa berubah menjadi komoditas ekspor yang bernilai. Dari limbah, lahir peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan.
