Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei, setelah melemah selama delapan hari beruntun. Berdasarkan data RTI Business, indeks naik 1,10 persen ke level 6.162,04, meski sempat menyentuh 5.966,86 pada awal perdagangan.
Penguatan IHSG terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup tinggi, dengan volume mencapai 40,26 miliar saham dan nilai transaksi Rp21,55 triliun. Sepanjang perdagangan hari ini, mayoritas saham bergerak positif, namun tekanan masih membayangi sejumlah emiten besar di sektor energi.
IHSG Bangkit dari Tekanan
Pergerakan IHSG pada Jumat menunjukkan pembalikan arah setelah tekanan jual bertahan cukup lama di pasar. Kenaikan ke atas level 6.100 memberi sinyal bahwa pelaku pasar mulai melakukan akumulasi pada saham tertentu. Namun, penguatan tersebut belum sepenuhnya menghapus sentimen negatif yang terbentuk dalam beberapa hari sebelumnya.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat turun ke 5.966,86, level terendah sejak lima tahun terakhir. Kondisi itu mencerminkan besarnya tekanan yang sempat menghantam pasar saham domestik. Meski demikian, respons beli menjelang penutupan berhasil mendorong indeks kembali ke zona hijau.
Secara akumulatif sepanjang 2026, IHSG masih tercatat melemah 28,74 persen. Data ini menunjukkan bahwa pemulihan harian belum cukup untuk menutup pelemahan yang terjadi sejak awal tahun. Karena itu, pasar masih menunggu katalis yang lebih kuat untuk memperbaiki tren jangka menengah.
Transaksi Pasar Tetap Ramai
Aktivitas perdagangan pada hari ini berlangsung aktif dengan frekuensi transaksi mencapai 1.970.653 kali. Angka tersebut menandakan minat investor masih tinggi, meski pergerakan indeks sempat tertekan. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa volatilitas pasar belum mereda sepenuhnya.
Nilai transaksi yang menembus Rp21,55 triliun memperkuat indikasi bahwa dana besar masih bergerak di pasar saham. Di tengah fluktuasi indeks, pelaku pasar tampak selektif memilih saham dengan potensi pemulihan. Fokus perdagangan juga masih didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar.
Dari sisi sebaran pergerakan, 449 saham menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan dominasi sentimen positif pada penutupan perdagangan. Meski begitu, penguatan rata-rata belum merata di seluruh sektor.
Sektor Energi Masih Tertekan
Tekanan terbesar pada perdagangan hari ini masih datang dari saham-saham konglomerasi sektor energi. Sejumlah emiten besar mencatat penurunan yang cukup dalam, meski IHSG secara umum menguat. Pergerakan ini menandakan sektor energi belum sepenuhnya pulih dari tekanan pasar.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA menjadi salah satu emiten yang terkoreksi paling tajam. Saham milik Grup Sinar Mas itu turun 10,66 persen ke harga Rp545 per saham. Pelemahan ini memberi tekanan tambahan pada kelompok saham tertentu di indeks.
Selain DSSA, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah 4,53 persen ke harga Rp10.000 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga turun 3,74 persen ke level Rp515 per saham. Koreksi pada saham-saham ini memperlihatkan bahwa sektor energi masih dilanda aksi jual.
Prospek Pasar Menanti Sentimen
Penguatan IHSG pada akhir pekan memberi ruang napas bagi investor setelah tekanan berkepanjangan. Namun, pemulihan yang terjadi masih perlu dikonfirmasi oleh pergerakan lanjutan pada pekan berikutnya. Tanpa dukungan sentimen baru, pasar berpotensi kembali bergerak fluktuatif.
Investor kini akan mencermati arah aliran dana asing, stabilitas harga komoditas, dan kinerja emiten berkapitalisasi besar. Faktor-faktor tersebut berpotensi menjadi penentu apakah IHSG mampu bertahan di atas level 6.100. Jika tekanan pada saham energi berlanjut, pemulihan indeks bisa kembali terbatas.
Di sisi lain, penguatan mayoritas saham pada perdagangan hari ini menunjukkan peluang teknikal untuk rebound masih terbuka. Pasar saham domestik tetap menarik selama pelaku pasar mampu membaca pergeseran sentimen dengan cermat. Dengan kondisi seperti ini, pergerakan IHSG diperkirakan masih sensitif terhadap kabar ekonomi dan arus modal.
