UMKM Daur Ulang Tembus Pasar Global Lewat IDDC

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 09:33 WIB 7
UMKM Daur Ulang Tembus Pasar Global Lewat IDDC

Bagi sebagian orang, sampah hanya dipandang sebagai barang tak bernilai dan kerap menimbulkan masalah. Namun, di tangan pelaku usaha kreatif, limbah justru bisa diolah menjadi produk bernilai tinggi dan diminati pasar luar negeri.

Hal itu terlihat dari langkah Robries dan Lumosh, dua UMKM yang memanfaatkan sampah botol plastik serta limbah keramik menjadi produk furnitur dan perabot rumah tangga. Keduanya mengaku terbantu oleh Indonesia Design Development Center (IDDC) Kementerian Perdagangan dalam memperkuat desain, riset, dan akses ke pasar global.

UMKM Daur Ulang Bernilai Ekspor

CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, menyebut usahanya dibangun pada 2018 dengan fokus mengubah sampah tutup botol plastik menjadi furnitur. Menurut dia, konsep tersebut lahir dari dorongan menjaga lingkungan sekaligus menghadirkan produk yang menarik secara visual.

Robries tidak hanya menjual barang, tetapi juga menawarkan gagasan bahwa limbah bisa memiliki nilai ekonomi baru. Produk yang dihasilkan dikembangkan agar tetap fungsional, kuat, dan layak dipasarkan sebagai produk desain.

Selama perjalanannya, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk berbahan dasar sampah. Dari proses itu, perusahaan mengolah sedikitnya 145 ton limbah plastik menjadi barang jadi.

Syukriyatun menilai pasar masih membutuhkan edukasi karena produk daur ulang berbasis plastik belum menjadi pilihan umum. Meski begitu, minat terhadap produk seperti ini terus tumbuh seiring meningkatnya perhatian pada isu keberlanjutan.

Tantangan Pasokan Dan Edukasi

Salah satu tantangan utama Robries adalah memastikan pasokan sampah sebagai bahan baku tersedia secara konsisten. Hal ini menjadi penting karena kualitas produk sangat bergantung pada keseragaman material yang digunakan.

Syukriyatun menjelaskan, bahan utama yang dipakai adalah sampah tutup botol plastik. Ketersediaannya kerap tidak stabil sehingga tim harus terus mencari pasokan baru tanpa mengorbankan kualitas.

Selain pasokan, edukasi pasar juga menjadi pekerjaan besar bagi pelaku usaha daur ulang. Masyarakat perlu memahami bahwa produk dari limbah tidak identik dengan kualitas rendah, melainkan bisa tampil premium jika diproduksi dengan desain yang tepat.

Menurut Syukriyatun, upaya edukasi itu berjalan seiring dengan penguatan standar produksi. Dengan begitu, produk Robries dapat tetap kompetitif saat bersaing di pasar domestik maupun internasional.

IDDC Dorong Akses Ekspor

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus mendampingi UMKM untuk menembus pasar global. Fasilitas itu diberikan kepada pelaku usaha yang telah lolos kurasi dan berkesempatan mengikuti Trade Expo Indonesia 2025.

TEI 2025 menjadi ajang berskala internasional yang diikuti 8.045 buyer dari 130 negara. Pameran ini membuka peluang pertemuan langsung antara pelaku usaha lokal dan pembeli asing.

Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC memberi dampak besar bagi perkembangan usahanya. Ia menyebut proses bimbingan, pengarahan desain, dan penyempurnaan presentasi produk membantu memperkuat daya saing ekspor.

Setelah melalui proses pendampingan dan pengajuan penghargaan selama empat tahun, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia serta Good Design Award Japan. Pencapaian itu disebut menjadi lompatan penting untuk memperluas penetrasi pasar ekspor.

Produk Keramik Raih Peluang Baru

Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, juga merasakan manfaat pendampingan IDDC dalam mengembangkan produk UMKM berbahan limbah keramik. Melalui bahan tersebut, Lumosh menghadirkan piring, gelas, dan berbagai perabot rumah tangga dengan desain artistik.

Raymond menyebut pengolahan limbah keramik bukan hal yang mudah karena referensi risetnya masih terbatas. Kondisi itu membuat pelaku usaha membutuhkan lebih banyak pengetahuan teknis agar produk yang dihasilkan tetap representatif.

Dalam prosesnya, Lumosh mendapat bantuan riset dan masukan desain dari tim IDDC. Pendampingan itu membantu mereka menampilkan identitas produk daur ulang secara lebih jelas kepada calon pembeli.

Selain desain, IDDC juga menjadi ruang konsultasi bagi Lumosh untuk membaca peluang pasar global. Masukan mengenai negara tujuan ekspor dinilai penting agar produk dapat masuk ke pasar yang tepat dan sesuai karakter barang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!