UMKM Daur Ulang Robries dan Lumosh Tembus Pasar Global

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 30 Mei 2026 04:56 WIB 6
UMKM Daur Ulang Robries dan Lumosh Tembus Pasar Global

Bagi sebagian orang, sampah identik dengan masalah, tetapi di tangan pelaku usaha kreatif, limbah justru bisa berubah menjadi produk bernilai tinggi. Dua pelaku UMKM, Robries dan Lumosh, menunjukkan bahwa inovasi daur ulang mampu menembus pasar global lewat produk furnitur dan perabot rumah tangga berbahan limbah.

Robries yang didirikan CEO dan Founder Syukriyatun Niamah pada 2018 fokus mengolah sampah botol plastik menjadi furnitur dengan desain menarik. Sementara itu, Co Founder Lumosh Raymond Tjiadi mengembangkan produk dari limbah keramik, dengan dukungan Indonesia Design Development Center (IDDC) Kementerian Perdagangan dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025.

Daur Ulang Jadi Produk

Robries dibangun dengan tujuan menjaga lingkungan sekaligus memberi nilai tambah pada sampah plastik. Perusahaan ini memilih tutup botol dan botol plastik sebagai bahan baku utama untuk diolah menjadi produk furnitur. Hasil olahannya dikemas dengan tampilan yang lebih modern agar mudah diterima pasar. Strategi itu juga menjadi pembeda di tengah persaingan produk furnitur konvensional.

Syukriyatun mengatakan edukasi pasar menjadi tantangan utama karena produk berbasis sampah masih dianggap tidak umum. Menurutnya, masyarakat belum sepenuhnya memahami kualitas dan potensi produk daur ulang. Karena itu, komunikasi yang konsisten menjadi bagian penting dari pemasaran. Edukasi tersebut diperlukan agar konsumen melihat nilai di balik material yang digunakan.

Selain edukasi, ketersediaan bahan baku juga menjadi persoalan yang harus dijaga secara berkelanjutan. Pasokan sampah tutup botol plastik tidak selalu konsisten, sehingga perusahaan harus aktif mencari sumber material. Di sisi lain, kualitas produk tetap harus dipertahankan agar standar tidak turun. Kondisi itu membuat proses produksi menuntut ketelitian dan perencanaan yang matang.

Meski menghadapi sejumlah tantangan, Robries terus memperkuat rantai pasok dan pengolahan material. Upaya tersebut dilakukan agar produk yang dihasilkan tetap konsisten dari sisi kualitas dan desain. Dalam periode 2018 hingga kini, Robries telah memproduksi sekitar 25 ribu produk. Total sampah yang berhasil diolah mencapai 145 ton.

Pasar Ekspor Terbuka

Keberhasilan Robries di pasar lokal mendorong perusahaan ini merambah pasar luar negeri. Produk-produk berbasis limbah plastik tersebut kini telah menembus Singapura, Malaysia, hingga Uni Eropa. Perusahaan juga memiliki distributor resmi di Singapura dan Malaysia. Langkah ekspansi ini menjadi bukti bahwa produk daur ulang memiliki daya saing global.

Syukriyatun menilai pasar internasional memberikan peluang besar bagi produk yang memiliki cerita keberlanjutan. Menurutnya, konsumen global semakin memperhatikan aspek lingkungan dalam memilih produk. Kondisi itu membuka ruang bagi UMKM berbasis daur ulang untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Namun, daya saing tetap bergantung pada kualitas desain dan konsistensi produksi.

Pencapaian Robries juga didorong oleh keberhasilan memperoleh penghargaan desain internasional. Setelah empat tahun mengajukan Good Design Award, perusahaan akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan. Menurut Syukriyatun, pencapaian tersebut berdampak besar terhadap penetrasi pasar ekspor. Penghargaan itu turut meningkatkan kepercayaan calon pembeli luar negeri.

Di sisi lain, Lumosh juga menunjukkan bahwa limbah keramik dapat diolah menjadi produk bernilai komersial. Perusahaan ini melahirkan piring, gelas, dan berbagai perabot rumah tangga dengan desain artistik. Raymond menjelaskan bahwa edukasi pasar menjadi tantangan karena material daur ulang keramik masih jarang dikenal. Meski demikian, produk tersebut justru memiliki potensi besar di segmen dekoratif dan rumah tangga.

IDDC Dorong UMKM

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan melalui IDDC terus mendorong UMKM agar siap masuk pasar internasional. Fasilitas kurasi dan pendampingan diberikan kepada pelaku usaha yang dinilai layak mengikuti TEI 2025. Pameran ini menjadi ajang pertemuan antara pelaku usaha lokal dan pembeli dari berbagai negara. Kehadiran buyer dari 130 negara memperluas peluang transaksi ekspor.

TEI 2025 tercatat diikuti setidaknya 8.045 buyer dari 130 negara. Skala ini menjadikan pameran tersebut sebagai salah satu etalase penting bagi produk Indonesia di pasar dunia. Bagi UMKM, keikutsertaan dalam ajang ini bukan sekadar promosi, tetapi juga pintu masuk menuju kerja sama dagang. Kesempatan bertemu pembeli langsung memberi nilai strategis bagi pengembangan usaha.

Syukriyatun mengakui dukungan IDDC sangat membantu pengembangan Robries menuju pasar global. Menurutnya, bimbingan mengenai pengemasan produk dan presentasi bisnis sangat berpengaruh terhadap minat pembeli. Ia juga menilai proses pendampingan memberi arah yang jelas dalam membangun citra merek. Dengan begitu, produk tidak hanya unik, tetapi juga siap bersaing di pasar ekspor.

Raymond turut merasakan manfaat yang sama dari pendampingan IDDC bagi Lumosh. Ia menyebut tim IDDC membantu riset, memberi masukan desain, dan mengarahkan produk agar lebih representatif di mata calon pembeli. Selain itu, IDDC juga menjadi ruang konsultasi untuk menentukan pasar global yang tepat. Dukungan tersebut membuat UMKM berbasis limbah semakin percaya diri memasuki pasar internasional.

Nilai Tambah Sampah

Kisah Robries dan Lumosh menunjukkan bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai beban lingkungan. Dengan inovasi, limbah dapat diubah menjadi barang fungsional yang bernilai jual tinggi. Proses ini sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM. Di sisi lain, pendekatan tersebut membantu mengurangi volume sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.

Model bisnis berbasis daur ulang juga menuntut konsistensi dalam kualitas dan pasokan bahan baku. Pelaku usaha harus menjaga standar produksi agar produk tetap kompetitif di pasar domestik maupun ekspor. Tantangan tersebut memang tidak ringan, tetapi dapat diatasi melalui riset, jejaring, dan pendampingan yang tepat. Faktor desain juga menjadi kunci agar produk daur ulang tidak dipandang sebelah mata.

Dukungan pemerintah melalui IDDC memperlihatkan pentingnya ekosistem bagi pertumbuhan UMKM kreatif. Pendampingan teknis, kurasi produk, hingga akses ke pameran internasional dapat mempercepat kesiapan ekspor. Dalam konteks ini, pasar global bukan lagi tujuan yang jauh bagi pelaku usaha kecil. Dengan strategi yang tepat, produk berbasis limbah bisa menjadi komoditas unggulan Indonesia.

Ke depan, cerita seperti Robries dan Lumosh berpotensi menginspirasi lebih banyak UMKM untuk melihat sampah sebagai sumber peluang. Inovasi pengolahan limbah dapat menjadi jalan menuju usaha yang lebih berkelanjutan dan bernilai tinggi. Selama kualitas, desain, dan pemasaran dijaga dengan baik, pasar luar negeri tetap terbuka. Dari limbah, lahir produk yang bukan hanya menarik, tetapi juga membawa citra positif bagi Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!