UMKM Binaan Pertamina Tembus Pasar Jepang Senilai Rp87 Miliar

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 08:11 WIB 3
UMKM Binaan Pertamina Tembus Pasar Jepang Senilai Rp87 Miliar

Pertamina mencatat capaian penting di ajang Trade Expo Indonesia 2025, setelah salah satu UMKM binaannya, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, meneken kerja sama ekspor dengan perusahaan Jepang, Being Co Ltd. Nilai transaksi yang tercatat mencapai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar, dan penandatanganan disaksikan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman.

Kesepakatan itu menjadi sinyal bahwa produk UMKM lokal mampu bersaing di pasar internasional, terutama pada komoditas cokelat olahan. Pertamina menyebut keberhasilan tersebut diharapkan membuka jalan bagi 44 UMKM binaan lain yang ikut dalam TEI 2025 untuk menjajaki peluang serupa.

UMKM Pertamina Tembus Jepang

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, dan perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda. Prosesi tersebut berlangsung dalam rangkaian Trade Expo Indonesia 2025 yang menjadi ruang temu antara pelaku usaha nasional dan pembeli internasional.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa kerja sama ini menunjukkan UMKM lokal memiliki daya saing global. Menurut dia, capaian tersebut juga menjadi bukti bahwa pembinaan yang konsisten dapat menghasilkan produk yang diterima pasar luar negeri.

Pertamina membawa total 45 UMKM ke TEI 2025, termasuk Java Criollo sebagai salah satu sorotan utama. Perusahaan pelat merah itu berharap para peserta lain dapat memperoleh kesempatan bisnis yang sama dengan buyer asing.

Ajang pameran dagang tersebut dimanfaatkan untuk memperluas jejaring dagang, mempertemukan produsen lokal dengan calon pembeli dari berbagai negara. Dalam konteks itu, transaksi Java Criollo menjadi contoh konkret bagaimana promosi produk dapat berujung pada kontrak ekspor bernilai besar.

Minat Jepang Pada Cokelat Indonesia

Sakae Noda mengaku tertarik dengan kualitas cokelat asal Indonesia yang ditawarkan Java Criollo. Ia menilai produk tersebut memiliki keunggulan dari sisi bahan baku, proses produksi, dan harga yang kompetitif.

Menurut Noda, produk itu dibuat secara alami dan tanpa pupuk kimia, sehingga memberi nilai tambah di mata konsumen Jepang. Ia juga menyebut kualitas yang dihadirkan sangat baik, dengan harga yang tetap terjangkau.

Ketertarikan itu menjadi dasar terciptanya kerja sama ekspor antara kedua perusahaan. Bagi Jepang, Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai pemasok produk cokelat dengan karakter rasa yang kuat dan kualitas yang stabil.

Noda berharap masyarakat Jepang dapat menikmati cokelat asal Indonesia melalui kerja sama tersebut. Pernyataan itu menunjukkan adanya ruang pasar yang semakin terbuka bagi produk pangan olahan dari Indonesia.

Java Criollo Raih Pengakuan

Founder Java Criollo, Inge Oktavia Arina, menyatakan rasa bangga karena produknya diterima di pasar internasional. Ia menyebut pencapaian itu lahir setelah calon pembeli menemukan nama perusahaannya saat mencari cokelat asal Indonesia.

Setelah melihat kualitas produk, pihak Jepang kemudian memutuskan untuk menjalin kerja sama. Inge menilai kepercayaan tersebut tidak datang secara instan, melainkan melalui konsistensi dalam menjaga mutu dan identitas produk.

Ia mengatakan bahwa nilai dan cita rasa yang diusung Java Criollo akhirnya mendapat tempat di pasar global. Bagi Inge, keberhasilan itu bukan hanya untuk perusahaan, tetapi juga untuk citra UMKM Indonesia secara umum.

Menurut dia, kerja sama ini menjadi langkah penting untuk memperluas pengakuan terhadap produk cokelat lokal. Ia menekankan bahwa UMKM Indonesia memiliki kemampuan untuk masuk ke pasar premium jika kualitasnya dijaga dengan serius.

Peluang UMKM Di Pasar Global

Keberhasilan Java Criollo menunjukkan bahwa produk UMKM dapat menembus pasar ekspor bila memiliki daya saing yang jelas. Faktor kualitas, harga, dan cerita produk menjadi elemen penting yang diperhatikan pembeli internasional.

Pertamina menilai pameran dagang seperti TEI 2025 merupakan momentum strategis untuk mempertemukan UMKM dengan pasar luar negeri. Melalui ajang seperti ini, pelaku usaha mendapat kesempatan memperluas jaringan sekaligus menguji minat pasar terhadap produk mereka.

Transaksi senilai US$ 5,2 juta tersebut juga memperlihatkan potensi besar sektor pangan olahan Indonesia di mata pembeli asing. Jika kerja sama berjalan lancar, nilai ekspor dari UMKM binaan berpotensi terus meningkat pada periode berikutnya.

Capaian ini menjadi dorongan bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk terus memperbaiki standar produksi, kemasan, dan sertifikasi. Dengan begitu, lebih banyak UMKM Indonesia dapat mengikuti jejak Java Criollo dalam memasuki pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!