Jessica Iskandar Ungkap Fase Kelam dan Mental Breakdown

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 09:20 WIB 2
Jessica Iskandar Ungkap Fase Kelam dan Mental Breakdown

Jessica Iskandar akhirnya membuka suara tentang fase hidup paling kelam yang pernah ia alami, ketika ia kehilangan arah dan mengalami mental breakdown. Pengakuan itu disampaikan di acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026.

Artis berusia 38 tahun itu mengaku berada di titik terendah, hingga merasa kehilangan diri sendiri di tengah tekanan yang datang dari luar. Ia juga menilai ucapan orang lain sempat memperburuk kondisi mentalnya, sebelum akhirnya ia belajar memaafkan diri sendiri.

Jessica Iskandar dan kesehatan mental

Jessica mengatakan fase paling gelap dalam hidupnya bukanlah hal yang mudah untuk diungkapkan. Ia menuturkan bahwa saat itu dirinya benar-benar kehilangan arah dan tidak tahu harus melangkah ke mana.

Menurutnya, tekanan dari lingkungan sekitar membuat beban yang ia tanggung terasa semakin berat. Bisikan dan penilaian orang lain membuatnya merasa dihakimi sebelum sempat berdamai dengan dirinya sendiri.

Selama ini, publik kerap melihat dirinya sebagai sosok yang ceria dan penuh warna. Namun di balik citra itu, Jessica menyimpan luka yang pernah ia pendam sendiri setelah melalui perceraian, kegagalan menikah, hingga dugaan penipuan bernilai miliaran rupiah.

Cara Jessica bangkit

Setelah melewati masa sulit, Jessica memilih untuk lebih jujur pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Ia menilai keterbukaan menjadi langkah penting agar beban batin tidak terus menumpuk.

Jessica menyebut cara pertama yang membantunya pulih adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Baginya, hubungan spiritual menjadi ruang untuk kembali tenang ketika hidup terasa berat.

Cara kedua adalah mencari tempat aman untuk bercerita kepada orang yang dipercaya. Ia meyakini, ketika seseorang berani membagikan masalahnya, perlahan beban itu akan terasa lebih ringan.

Dukungan psikolog untuk perempuan

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai sikap Jessica dalam menghadapi sisi sensitif dirinya sudah tepat. Ia menegaskan, perempuan tidak perlu malu menjadi sensitif karena hal itu bukan kelemahan.

Menurut Indah, sensitivitas justru bisa menjadi kekuatan ketika dikelola dengan baik. Perempuan yang mampu mengakui perasaannya akan lebih mudah memahami kebutuhan emosional dirinya sendiri.

Ia menambahkan, dukungan dari lingkungan dan ruang aman untuk berekspresi sangat penting bagi kesehatan mental. Dengan begitu, sensitivitas dapat berubah menjadi kekuatan yang membantu seseorang menjadi lebih tangguh.

Pesan tentang ruang aman

Kisah Jessica menunjukkan bahwa penampilan luar tidak selalu mencerminkan keadaan batin seseorang. Di balik senyum yang terlihat, bisa saja ada pergulatan emosional yang tidak diketahui banyak orang.

Pengalaman itu juga menegaskan pentingnya keberanian untuk mencari bantuan saat kondisi mental mulai menurun. Dukungan dari keluarga, teman, dan tenaga profesional dapat menjadi penopang yang sangat berarti.

Melalui keterbukaannya, Jessica memberi pesan bahwa memulihkan diri membutuhkan proses, kesabaran, dan penerimaan. Ia berharap pengalamannya dapat menguatkan perempuan lain yang sedang berjuang menghadapi masa sulit.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!