UMKM Binaan Pertamina Raup Rp1,2 Miliar di Inacraft

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 02 Juni 2026 08:56 WIB 7
UMKM Binaan Pertamina Raup Rp1,2 Miliar di Inacraft

Hari pertama Inacraft Oktober 2025 di Jakarta Convention Center, Jakarta, langsung memberi hasil besar bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam satu hari, nilai transaksi yang dibukukan menembus lebih dari Rp1,2 miliar, menandai tingginya minat pembeli terhadap produk unggulan yang dibawa para pelaku usaha binaan.

Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara yang berlangsung pada 1-5 Oktober itu menjadi ruang pertemuan strategis bagi UMKM untuk menjangkau pembeli ritel, mitra bisnis, hingga pasar mancanegara. Pertamina menyebut capaian tersebut lahir dari proses persiapan panjang yang mencakup kurasi, coaching clinic, hingga penguatan tampilan booth.

Inacraft dan UMKM Pertamina

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menilai hasil hari pertama menjadi bukti kesiapan para UMKM binaan. Ia menegaskan bahwa produk yang tampil di Inacraft tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses pembinaan yang terarah.

Sebelum pameran dibuka, para pelaku usaha mengikuti kurasi dan seleksi untuk memastikan produk yang dibawa memiliki kualitas yang sesuai. Mereka juga mendapatkan coaching clinic mengenai branding, packaging, dan storytelling agar lebih kuat bersaing di hadapan pembeli.

Persiapan itu turut mencakup penataan display booth supaya produk terlihat lebih menarik dan mudah dipahami calon pelanggan. Menurut Pertamina, pendekatan tersebut penting untuk memperkuat posisi UMKM di pasar yang semakin kompetitif.

Fadjar menyampaikan bahwa capaian transaksi hari pertama menunjukkan ketekunan UMKM dalam mempersiapkan diri. Ia menambahkan, hasil tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan yang konsisten mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata.

Transaksi Jumbo Para Binaan

Di antara peserta yang mencatat kinerja menonjol adalah Kainnesia milik Nur Salam, pelaku usaha asal Umbulharjo, Yogyakarta. Baru sehari pameran dibuka, Kainnesia langsung mengantongi pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta.

Pesanan tersebut datang dari perusahaan pelayaran serta sejumlah kementerian yang melihat potensi produk Kainnesia. Capaian itu menunjukkan bahwa produk lokal mampu menarik minat pembeli institusi dalam skala besar.

Kinerja serupa juga dibukukan Smart Batik, atau CV Smart Batik Indonesia, milik Miftahudin Nur Insan dari Yogyakarta. UMKM ini menawarkan kain batik, fesyen batik, dan payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit.

Pada hari pertama Inacraft, Smart Batik meraih transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Produk unggulannya sebelumnya juga telah diperkenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto, dipakai menteri, dan tampil di panggung Anugerah Komedi Indonesia 2025.

Batik Sawit dan Peluang Baru

Miftahudin menilai keikutsertaan di Inacraft bersama Pertamina membawa dampak besar bagi usahanya. Selain meningkatkan penjualan, ajang itu juga membuka akses jejaring baru dengan buyer domestik maupun internasional.

Ia menyebut Batik Sawit sebagai produk yang memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi ikon batik ramah lingkungan Indonesia. Menurutnya, respons pasar yang positif menunjukkan bahwa inovasi berbasis keberlanjutan semakin mendapat tempat.

Smart Batik memadukan nilai tradisi dengan pendekatan produk yang lebih relevan bagi pasar modern. Perpaduan itu dinilai menjadi salah satu alasan produk mereka mudah diterima pengunjung pameran.

Pertemuan dengan calon pembeli di Inacraft juga memberi ruang bagi UMKM untuk memperluas pasar di luar jaringan yang selama ini dimiliki. Dalam konteks ini, pameran tidak hanya menjadi ajang jual beli, tetapi juga pintu menuju penguatan skala usaha.

Dukungan UMKM Berkelanjutan

Dalam pameran tersebut, 32 UMKM binaan Pertamina ditempatkan di beberapa area sesuai kategorinya. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A, sementara 6 UMKM makanan dan minuman berada di Talam Hall B.

Selain itu, terdapat 7 UMKM co-branding yang memilih membeli booth mandiri di area pameran. Skema ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku usaha mulai memiliki kapasitas untuk memperkuat eksposur secara lebih mandiri.

Pertamina juga mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future untuk menarik minat pengunjung. Konsep tersebut dilengkapi display produk, penjualan, business matching dengan buyer, serta aktivasi digital seperti lucky dip dan mobcast.

Fadjar menegaskan bahwa dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang dijalankan secara rutin. Langkah itu juga sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya pada poin yang menekankan peningkatan lapangan kerja berkualitas, kewirausahaan, dan industri kreatif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!