UMKM Binaan Pertamina Raih Transaksi Rp1,2 Miliar di Inacraft

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 07:56 WIB 6
UMKM Binaan Pertamina Raih Transaksi Rp1,2 Miliar di Inacraft

Hari pertama pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, Inacraft Oktober 2025, langsung menjadi momentum penting bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam satu hari, total transaksi penjualan yang dibukukan tembus lebih dari Rp1,2 miliar di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 1-5 Oktober 2025. Capaian itu menunjukkan tingginya minat pembeli terhadap produk lokal yang ditampilkan di ajang tersebut. Pameran ini juga menjadi pintu bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar ritel dan menjangkau pembeli mancanegara.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyebut capaian tersebut tidak lepas dari persiapan yang dilakukan jauh sebelum pameran berlangsung. Para UMKM binaan telah melalui kurasi, seleksi, coaching clinic, hingga pembekalan branding, packaging, storytelling, dan display booth. Menurut dia, proses itu membuat para pelaku usaha lebih siap bersaing di etalase pameran berskala internasional. Hasil pada hari pertama, kata Fadjar, mencerminkan kegigihan para UMKM dalam menyiapkan produknya.

UMKM Pertamina di Inacraft

Salah satu pencapaian terbesar datang dari Kainnesia milik Nur Salam, pelaku usaha asal Umbulharjo, Yogyakarta. Baru sehari membuka stan, Kainnesia langsung memperoleh pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta. Pesanan tersebut datang dari perusahaan pelayaran serta sejumlah kementerian. Kinerja itu menjadi bukti bahwa produk wastra lokal memiliki daya tarik kuat di pasar korporasi dan institusi.

Keberhasilan Kainnesia juga memperlihatkan pentingnya kesiapan produk saat memasuki pameran berskala besar. Pembeli tidak hanya mencari kualitas bahan, tetapi juga nilai cerita, kerapian presentasi, dan ketepatan kebutuhan. Dalam konteks itu, pendampingan yang diberikan Pertamina menjadi faktor penopang yang signifikan. UMKM yang siap tampil cenderung lebih cepat membukukan transaksi besar.

Fadjar menegaskan bahwa hasil hari pertama Inacraft menunjukkan konsistensi program pembinaan UMKM yang dijalankan perusahaan. Menurut dia, para pelaku usaha binaan telah bekerja keras menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Karena itu, transaksi besar yang tercipta bukan semata keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang. Hal ini sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Selain transaksi, pameran juga membuka ruang pertemuan langsung antara pelaku usaha dengan calon pembeli baru. Interaksi tersebut penting untuk membangun kepercayaan dan memperluas jejaring bisnis. Dalam pameran seperti Inacraft, peluang kerja sama sering kali lahir dari percakapan singkat di stan. Situasi ini menjadi modal tambahan bagi UMKM untuk menembus pasar yang lebih luas.

Smart Batik Curi Perhatian

UMKM lain yang mencatat performa menonjol adalah Smart Batik atau CV Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan asal Yogyakarta. Usaha ini membawa produk kain batik, fesyen batik, hingga payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit. Produk unggulannya bahkan pernah dikenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Sejumlah menteri dan artis nasional juga pernah menggunakan produk tersebut pada ajang Anugerah Komedi Indonesia 2025.

Pada hari pertama Inacraft, Smart Batik membukukan transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Pencapaian itu menunjukkan bahwa inovasi berbasis bahan ramah lingkungan memiliki pasar yang semakin terbuka. Produk dengan nilai keberlanjutan cenderung menarik perhatian pembeli yang mencari keunikan sekaligus tanggung jawab lingkungan. Dengan demikian, diferensiasi produk menjadi faktor penting dalam persaingan pameran.

Miftahudin menyampaikan bahwa kesempatan tampil bersama Pertamina memberi dampak besar bagi perkembangan usahanya. Menurut dia, manfaat yang dirasakan tidak hanya berasal dari peningkatan transaksi, tetapi juga dari bertambahnya jaringan bisnis baru. Buyer domestik maupun internasional mulai membuka komunikasi yang lebih serius terhadap produknya. Ia optimistis Batik Sawit dapat menjadi ikon baru batik ramah lingkungan Indonesia.

Perkembangan Smart Batik memperlihatkan bahwa pasar kini semakin menghargai produk yang memiliki cerita dan inovasi. Kombinasi antara budaya, desain, dan kepedulian lingkungan menjadi nilai tambah yang kuat. Di tengah kompetisi yang ketat, pendekatan seperti ini membantu UMKM tampil lebih menonjol. Pameran menjadi ruang validasi sekaligus peluang ekspansi bagi pelaku usaha kreatif.

Strategi Booth Youthpreneur

Dalam penyelenggaraan Inacraft Oktober 2025, Pertamina mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future. Konsep ini dirancang untuk menampilkan produk, memfasilitasi penjualan, dan memperkuat interaksi bisnis melalui business matching dengan buyer. Aktivasi digital seperti lucky dip dan mobcast juga dihadirkan untuk menarik perhatian pengunjung. Seluruh elemen itu disusun agar stan UMKM tidak hanya dilihat, tetapi juga dikunjungi dan dibeli.

Sebanyak 32 UMKM binaan Pertamina tersebar di berbagai lokasi pameran. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A. Sementara itu, 6 UMKM makanan dan minuman hadir di Talam Hall B. Ada pula 7 UMKM co-branding yang membeli booth mandiri di area pameran.

Penempatan yang beragam memberi kesempatan bagi pengunjung untuk menjangkau jenis produk yang lebih luas. Strategi ini juga membantu pelaku usaha menyesuaikan pendekatan dengan karakter konsumen yang berbeda. Bagi pembeli, variasi lokasi dan produk membuat pengalaman berbelanja menjadi lebih nyaman. Bagi UMKM, kehadiran di beberapa titik meningkatkan peluang interaksi dan transaksi.

Konsep booth yang menonjolkan budaya, kreativitas, dan masa depan sejalan dengan target pengembangan UMKM binaan. Pertamina berupaya menjadikan pameran sebagai ruang pembelajaran dan perluasan pasar dalam satu waktu. Dengan pendekatan itu, UMKM tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai pelaku bisnis yang siap tumbuh. Keaktifan dalam promosi dan distribusi menjadi bagian penting dari daya saing mereka.

Dukungan UMKM dan Asta Cita

Fadjar menambahkan, dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang dijalankan secara rutin. Program tersebut tidak berhenti pada pendampingan pameran, tetapi juga menyentuh aspek peningkatan kapasitas usaha. Pertamina menempatkan UMKM sebagai mitra strategis dalam penguatan ekonomi nasional. Karena itu, pembinaan dilakukan secara berkelanjutan agar pelaku usaha mampu naik kelas.

Langkah tersebut juga sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya poin ketiga yang menekankan peningkatan lapangan kerja berkualitas. Selain itu, visi tersebut mendorong kewirausahaan dan pengembangan industri kreatif sebagai penggerak ekonomi. Dalam kerangka itu, UMKM memegang peran penting sebagai penyerap tenaga kerja dan pencipta nilai tambah. Pameran seperti Inacraft menjadi salah satu kanal nyata untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Dari sisi ekonomi, transaksi lebih dari Rp1,2 miliar pada hari pertama menunjukkan besarnya potensi produk lokal di pasar yang lebih luas. Angka itu juga menjadi sinyal bahwa pembinaan yang terarah mampu menghasilkan dampak bisnis yang terukur. Ketika kualitas produk, strategi pemasaran, dan jaringan buyer bertemu, hasil penjualan dapat melonjak signifikan. Kondisi ini menjadi contoh bahwa dukungan ekosistem sangat menentukan performa UMKM.

Ke depan, keberhasilan di Inacraft dapat menjadi pijakan bagi UMKM binaan untuk memperkuat ekspansi pasar. Pelaku usaha perlu menjaga konsistensi kualitas, ketepatan suplai, dan kekuatan cerita produk. Jika faktor-faktor tersebut terpelihara, peluang untuk menembus pasar nasional hingga internasional semakin terbuka. Pertamina pun menilai momentum ini sebagai bukti bahwa UMKM Indonesia memiliki daya saing yang terus tumbuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!