UMKM Binaan Pertamina Raih Rp1,2 Miliar di Inacraft

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 01:03 WIB 3
UMKM Binaan Pertamina Raih Rp1,2 Miliar di Inacraft

Hari pertama Inacraft Oktober 2025 langsung membawa hasil besar bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam satu hari, total transaksi yang dibukukan menembus lebih dari Rp1,2 miliar di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada 1 Oktober 2025. Pencapaian itu menunjukkan kuatnya daya saing produk binaan Pertamina di tengah persaingan pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara. Ajang yang berlangsung hingga 5 Oktober ini juga menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar ritel dan menjajaki pembeli mancanegara.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak datang secara instan. Sebelum tampil di pameran, para UMKM binaan mengikuti kurasi, seleksi, coaching clinic, hingga pelatihan branding, packaging, storytelling, dan display booth. Menurut dia, persiapan yang matang membuat para pelaku usaha lebih siap bersaing sejak hari pertama. Hasil transaksi yang tinggi, kata Fadjar, menjadi bukti kegigihan UMKM dalam mempersiapkan produk terbaiknya.

UMKM Pertamina Tancap Gas

Fadjar menyebut capaian hari pertama Inacraft mencerminkan kesiapan para UMKM binaan dalam memanfaatkan momentum pameran. Ia menilai, pembukuan transaksi besar sejak awal menunjukkan produk yang dibawa memang sudah memiliki pasar. Pameran ini sekaligus menjadi ruang uji bagi kemampuan pelaku usaha dalam menarik minat pembeli. Dari awal penyelenggaraan, arus pengunjung dan buyer terlihat memberi peluang yang luas bagi peserta.

Inacraft dikenal sebagai ajang yang mempertemukan perajin, pembeli ritel, dan mitra dagang dari berbagai negara. Karena itu, keikutsertaan UMKM binaan Pertamina dinilai strategis untuk memperkuat penetrasi pasar. Produk yang ditampilkan tidak hanya ditujukan untuk penjualan langsung, tetapi juga untuk membangun jejaring bisnis jangka panjang. Dalam konteks ini, transaksi awal menjadi sinyal positif atas penerimaan pasar terhadap produk binaan.

Pertamina menempatkan pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Program pembinaan tersebut dirancang agar pelaku usaha tidak hanya naik kelas, tetapi juga mampu bersaing secara berkelanjutan. Dukungan diberikan mulai dari sisi kualitas produk, kesiapan pemasaran, hingga penguatan identitas merek. Pola pendampingan itu membuat UMKM lebih percaya diri saat masuk ke panggung pameran berskala internasional.

Kehadiran 32 UMKM binaan di Inacraft menjadi salah satu bentuk nyata dari penguatan ekosistem ekonomi kreatif. Produk yang dibawa mencerminkan keragaman usaha, mulai dari wastra, kriya, fesyen, hingga makanan dan minuman. Dengan bekal pendampingan yang sistematis, para peserta mampu menampilkan produk secara lebih profesional. Hal itu turut meningkatkan peluang mereka untuk meraih kontrak bisnis baru setelah pameran berakhir.

Transaksi Kainnesia Melonjak

Salah satu pencapaian terbesar datang dari Kainnesia milik Nur Salam asal Umbulharjo, Yogyakarta. Baru sehari pameran dibuka, usaha ini langsung mengantongi pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta. Pembeli berasal dari perusahaan pelayaran dan sejumlah kementerian, yang melihat potensi produk Kainnesia sebagai solusi kebutuhan korporasi. Raihan tersebut menempatkan Kainnesia sebagai salah satu penyumbang transaksi terbesar di hari pertama.

Pesanan dalam jumlah besar itu menunjukkan bahwa produk UMKM mampu memenuhi kebutuhan pasar institusi. Kainnesia tidak hanya menjual produk berbasis kain, tetapi juga menawarkan nilai tambah melalui desain dan pemilihan bahan. Dalam pameran seperti Inacraft, kemampuan menyesuaikan produk dengan kebutuhan buyer menjadi faktor penting. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa UMKM daerah bisa bersaing pada pasar yang lebih luas.

Menurut keterangan yang beredar, pencapaian Kainnesia didukung oleh kesiapan produk dan presentasi yang meyakinkan. Pembeli korporasi biasanya menilai aspek kualitas, ketepatan waktu, dan konsistensi produksi sebelum memutuskan transaksi. Karena itu, keberhasilan meraih pesanan besar dalam waktu singkat menjadi indikator kuat atas kesiapan operasional. Hal tersebut juga memberi sinyal bahwa UMKM binaan mampu memenuhi standar pasar profesional.

Capaian Kainnesia menambah optimisme bahwa pameran dapat menjadi titik loncatan bagi pelaku usaha kecil. Selain penjualan langsung, kesempatan bertemu buyer institusi membuka peluang kerja sama lanjutan. Bagi UMKM, kontrak semacam ini kerap menjadi sumber pertumbuhan yang lebih stabil dibanding penjualan eceran semata. Momentum tersebut menjadi bukti bahwa pameran masih relevan sebagai kanal ekspansi bisnis.

Smart Batik Raup Peluang Baru

Di antara peserta lainnya, Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan juga mencatat hasil yang menonjol. UMKM asal Yogyakarta ini membawa produk kain batik, fesyen batik, hingga payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit. Produk unggulannya sudah dikenal luas setelah diperkenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Sebagian produknya juga sempat digunakan oleh menteri dan artis nasional pada ajang Anugerah Komedi Indonesia 2025.

Pada hari pertama Inacraft, Smart Batik membukukan transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Angka itu menunjukkan bahwa inovasi berbasis bahan ramah lingkungan memiliki daya tarik tersendiri. Kehadiran produk yang unik dan memiliki cerita kuat menjadi nilai jual penting di pasar kerajinan. Dengan pendekatan tersebut, Smart Batik berhasil menarik perhatian pengunjung dan calon pembeli.

Miftahudin menilai kesempatan tampil bersama Pertamina memberi dampak yang jauh melampaui angka penjualan. Menurut dia, pameran ini membuka jaringan baru dengan buyer domestik maupun internasional. Ia optimistis Batik Sawit dapat tumbuh menjadi ikon baru batik ramah lingkungan Indonesia. Optimisme itu muncul karena pasar mulai memberi respons positif terhadap produk yang memiliki konsep keberlanjutan.

Keberhasilan Smart Batik memperlihatkan bahwa inovasi dan keberlanjutan menjadi kombinasi penting di industri kreatif. Produk yang memiliki narasi lingkungan cenderung lebih mudah menarik perhatian pembeli yang peduli pada nilai sosial. Dalam pameran berskala besar, diferensiasi produk seperti ini memberi keunggulan kompetitif yang nyata. Hasil transaksi hari pertama menjadi modal awal untuk memperluas pasar pada hari-hari berikutnya.

Booth Kreatif Dongkrak Daya Tarik

Dalam penyelenggaraan Inacraft kali ini, 32 UMKM binaan Pertamina ditempatkan di sejumlah area strategis. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A. Kemudian, 6 UMKM makanan dan minuman hadir di Talam Hall B. Sementara itu, 7 UMKM co-branding memilih membeli booth mandiri di area pameran.

Pertamina juga mengusung konsep booth Youthpreneur: Craft, Culture, Future untuk memperkuat daya tarik pengunjung. Konsep itu dilengkapi display produk, penjualan langsung, dan business matching dengan buyer. Aktivasi digital seperti lucky dip dan mobcast turut dihadirkan agar interaksi di area pameran terasa lebih hidup. Pendekatan tersebut dirancang untuk memperluas eksposur produk sekaligus meningkatkan peluang transaksi.

Kehadiran business matching menjadi salah satu unsur penting dalam pameran ini. Melalui skema itu, pelaku usaha dapat bertemu langsung dengan calon pembeli yang memiliki kebutuhan spesifik. Proses tersebut membuka peluang terciptanya kontrak jangka panjang di luar transaksi ritel. Dengan cara ini, UMKM tidak hanya mengejar omzet harian, tetapi juga membangun jaringan bisnis yang berkelanjutan.

Fadjar menambahkan bahwa dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari implementasi tanggung jawab sosial perusahaan yang dijalankan secara rutin. Program tersebut juga sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya poin ketiga yang menekankan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Selain itu, penguatan kewirausahaan dan pengembangan industri kreatif menjadi fokus yang terus didorong. Melalui pameran seperti Inacraft, Pertamina berupaya menghadirkan dampak ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!