Produk UMKM Indonesia kembali menunjukkan daya saing di pasar luar negeri, kali ini melalui sarung tenun Kainnesia yang dipesan buyer asal Malaysia senilai US$ 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Pencapaian ini menegaskan bahwa produk berbasis budaya lokal mampu menembus pasar internasional jika didukung pendampingan, akses pasar, dan penguatan kualitas yang konsisten.
Kisah tersebut datang dari Kainnesia, atau Kain Tenun Indonesia, yang menjadi pemenang Pertapreneur Aggregator 2024. Perusahaan ini berhasil menggandeng ratusan penenun dari berbagai daerah, sekaligus mengangkat tenun Nusantara agar semakin dikenal di ajang internasional dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Tenun Indonesia Menarik Pasar
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer Kainnesia, Nur Salam, mengatakan bahwa pesanan dari Malaysia menjadi bukti nyata meningkatnya minat pasar terhadap tenun Indonesia. Menurut dia, produk yang berakar dari budaya lokal justru memiliki nilai tambah ketika dikemas dengan standar bisnis modern. Hal itu membuat tenun tidak lagi dipandang sebagai produk tradisional semata, melainkan komoditas bernilai ekspor. Kainnesia pun semakin percaya diri memperluas jangkauan pasar.
Nur menjelaskan, keberhasilan ini tidak lahir dalam waktu singkat, melainkan melalui proses pembinaan yang berkelanjutan. Melalui program Pertapreneur Aggregator, Kainnesia memperoleh dukungan untuk memperkuat produksi, manajemen, dan jejaring pemasaran. Dampaknya tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga ratusan penenun yang menjadi mitra usaha. Rantai manfaat ini menunjukkan model bisnis yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Ia menilai tenun memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila didukung inovasi dan promosi yang tepat. Bagi Kainnesia, tenun adalah warisan budaya yang harus dijaga, sekaligus dijadikan bagian dari masa depan industri kreatif Indonesia. Karena itu, perusahaan berupaya mendekatkan tenun kepada generasi muda melalui desain, cerita produk, dan akses pasar yang relevan. Strategi tersebut menjadi salah satu kunci daya saing di pasar global.
UMKM Binaan Naik Kelas
Program Pertapreneur Aggregator memberi dampak langsung terhadap pertumbuhan UMKM binaan Kainnesia. Saat ini, total tenaga kerja dari 37 UMKM mitra mencapai lebih dari 400 orang. Angka tersebut menunjukkan bahwa satu ekosistem usaha dapat mendorong penciptaan lapangan kerja yang signifikan. Efek bergandanya terasa hingga tingkat komunitas lokal di berbagai daerah.
Nur Salam menyebut pertumbuhan yang terjadi bukan hanya untuk Kainnesia, tetapi juga bagi seluruh UMKM yang berada dalam jaringan binaannya. Ia menilai peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar menjadi bukti bahwa pendampingan usaha dapat menghasilkan dampak nyata. Dalam kunjungan Sustainability Implementation & Monitoring Pertapreneur Aggregator di Yogyakarta pada Senin (15/9), ia menegaskan pentingnya keberlanjutan program. Menurut dia, keberhasilan UMKM harus diukur dari kemampuan mereka bertahan dan berkembang.
Kainnesia juga berupaya memastikan para mitra tidak hanya memproduksi, tetapi juga memahami standar bisnis yang dibutuhkan pasar. Pendampingan mencakup aspek teknis, manajerial, hingga strategi pemasaran agar UMKM lebih siap bersaing. Dengan model seperti ini, pelaku usaha kecil dapat naik kelas secara bertahap dan terukur. Kondisi tersebut membuat pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput menjadi lebih kuat.
Peluang Ekspor Tenun
Produk Kainnesia kini telah tampil di sejumlah ajang internasional, termasuk Osaka World Expo Japan 2025, Korea Import Fair di Seoul, Jogja Fashion Week 2025, dan Inacraft 2025. Dari rangkaian pameran itu, terbuka peluang pertemuan dengan buyer dari Jepang, Australia, hingga Malaysia. Kehadiran di forum global menjadi pintu masuk penting untuk memperkenalkan kualitas tenun Indonesia. Setiap ajang juga memperkuat citra produk lokal di mata pembeli mancanegara.
Menurut Nur, pameran internasional bukan sekadar ruang promosi, tetapi juga sarana membangun kepercayaan pasar. Buyer global cenderung mencari produk dengan cerita yang kuat, kualitas yang konsisten, dan pasokan yang terjaga. Kainnesia mencoba menjawab kebutuhan itu melalui kolaborasi dengan penenun di berbagai daerah. Pendekatan tersebut membuat produk lebih siap masuk ke rantai pasok global.
Pesanan dari Malaysia menjadi contoh bahwa peluang ekspor bisa datang dari kombinasi antara kreativitas, konsistensi, dan jejaring yang tepat. Kainnesia melihat momentum ini sebagai langkah awal untuk memperluas penetrasi ke pasar lain di Asia dan Australia. Jika dikelola dengan baik, ekspor tenun dapat menjadi sumber devisa sekaligus menjaga keberlanjutan budaya. Dengan demikian, nilai ekonomi dan nilai budaya dapat berjalan beriringan.
Pertapreneur Dorong Ekonomi Lokal
Vice President CSR & SMEPP Pertamina, Rudi Ariffianto, menyebut kehadiran Kainnesia sebagai contoh nyata dari tujuan Pertapreneur Aggregator. Program ini dirancang untuk mendorong UMKM agar tumbuh bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri. Semakin banyak UMKM aggregator, semakin besar pula peluang usaha kecil untuk naik kelas. Dampaknya akan terasa pada penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal.
Rudi mengatakan pihaknya berharap UMKM binaan Kainnesia dapat menjadi tentakel ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar. Istilah itu merujuk pada jaringan usaha yang mampu menyebarkan manfaat ke banyak pihak, termasuk produsen, pekerja, dan komunitas sekitar. Ketika satu usaha bertumbuh, efeknya bisa menjalar ke ekosistem yang lebih luas. Dengan begitu, program pendampingan tidak berhenti pada omzet semata.
Program Pertapreneur Aggregator sendiri telah melibatkan ratusan UMKM sejak diluncurkan pada 2022. Melalui program ini, para pelaku usaha mendapat dukungan teknis, manajerial, dan akses pasar yang lebih luas. Dukungan tersebut membantu UMKM memperbaiki kualitas produk, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas jangkauan pelanggan. Dalam jangka panjang, model ini berpotensi menjadi pengungkit ekonomi daerah yang berkelanjutan.
