UMKM Bawang Goreng UliMus Tumbuh dari Dapur Rumah

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 28 Mei 2026 23:06 WIB 2
UMKM Bawang Goreng UliMus Tumbuh dari Dapur Rumah

Kesempatan usaha kerap muncul dari kebutuhan sederhana di rumah, dan hal itu dialami Romauli Sri Astuti Sitoris, atau Uli, saat merintis usaha bawang goreng crispy bernama UliMus pada 2022. Berangkat dari keinginan membuat anaknya menyukai bawang goreng, ia kemudian mengolah bahan tersebut menjadi camilan yang juga diminati teman-teman sang anak di pondok pesantren.

Dari ide yang awalnya hanya untuk konsumsi keluarga, Uli melihat peluang bisnis yang lebih besar ketika bawang goreng buatannya mulai laris setiap kali ia berkunjung ke pesantren di Parung. Dengan modal awal di bawah Rp500 ribu dan dukungan keluarga, usaha rumahan itu berkembang hingga memiliki legalitas dan menjadi salah satu UMKM binaan Rumah BUMN BRI.

Peluang Bawang Goreng

Uli menemukan peluang usaha dari kebiasaan anaknya yang tidak menyukai bawang goreng. Ia kemudian mencoba mengubah produk yang semula hanya pelengkap makanan menjadi camilan crispy dengan rasa yang lebih menarik. Inovasi itu awalnya dibuat untuk bekal sang anak saat menempuh pendidikan di pondok pesantren.

Hasil olahan tersebut ternyata mendapat respons positif dari teman-teman anaknya. Mereka ikut membeli bawang goreng rasa barbeque dan balado yang dibawa Uli setiap bulan. Dari situ, ia mulai melihat bahwa produk sederhana pun bisa memiliki pasar yang menjanjikan.

Pengalaman itu menjadi titik awal perubahan pola pikir Uli terhadap usaha rumahan. Ia tidak lagi memandang bawang goreng hanya sebagai pelengkap hidangan, melainkan produk yang dapat dijual secara berulang. Kebutuhan keluarga justru menjadi pintu masuk menuju peluang bisnis baru.

Modal Bawang Goreng Terbatas

Uli mulai menekuni usaha bawang goreng secara serius setelah mendapat dukungan dari suami. Kondisi itu terjadi ketika usaha sang suami terdampak pandemi dan tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Dari situ, keluarga mencari sumber penghasilan alternatif yang bisa segera dijalankan dari rumah.

Dengan modal awal kurang dari Rp500 ribu, Uli memproduksi bawang goreng secara kecil-kecilan. Ia mengandalkan bahan yang mudah didapat, proses produksi sederhana, dan pasar terdekat yang sudah mengenal produknya. Langkah itu membuat usahanya dapat bertahan meski dimulai dengan keterbatasan.

Ketekunan menjadi kunci utama dalam fase awal tersebut. Uli terus menjaga kualitas rasa agar produk tetap disukai konsumen. Perlahan, penjualan meningkat dan usahanya semakin dikenal di lingkungan sekitar.

Keluarga dan Bawang Goreng

Dukungan keluarga memberi peran besar dalam pertumbuhan UliMus. Suami Uli mendorongnya untuk menjual bawang goreng karena melihat peluang permintaan yang cukup tinggi. Dorongan itu membuat Uli lebih percaya diri mengambil keputusan untuk berjualan secara konsisten.

Peran anak juga ikut membantu pemasaran produk di pesantren. Setiap bulan, Uli datang mengunjungi anaknya sambil membawa stok bawang goreng untuk dititipkan dan dijual. Cara sederhana itu membuat produknya cepat berputar tanpa biaya pemasaran yang besar.

Nama UliMus sendiri diambil dari gabungan nama Uli dan suaminya, Mustofa. Penamaan itu memperlihatkan bahwa usaha ini lahir dari kerja sama keluarga. Identitas tersebut juga memperkuat kesan personal dan mudah diingat oleh konsumen.

Legalitas Bawang Goreng UliMus

Setelah usaha berjalan stabil, Uli mulai mengurus legalitas usaha hingga resmi menggunakan nama UliMus pada 2022. Langkah ini penting untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan kepercayaan konsumen. Legalitas juga menjadi tanda bahwa usaha rumahan itu berkembang menjadi bisnis yang lebih tertata.

Keunikan produk UliMus terletak pada fleksibilitas penggunaannya. Bawang goreng buatan Uli dapat dinikmati sebagai camilan maupun taburan makanan. Nilai tambah ini membuat produknya memiliki diferensiasi dibanding bawang goreng biasa.

Perjalanan Uli memperlihatkan bahwa usaha kecil dapat tumbuh melalui inovasi, ketekunan, dan dukungan keluarga. Dari dapur rumah, produknya kini menjadi bagian dari UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Kisah ini menjadi contoh bahwa peluang bisnis bisa lahir dari kebutuhan sederhana yang dikelola dengan serius.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!