Holywings Didesak Rebranding Usai 12 Outlet Ditutup

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 29 Mei 2026 00:18 WIB 2
Holywings Didesak Rebranding Usai 12 Outlet Ditutup

Bisnis Holywings tengah berada di bawah tekanan setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup akibat persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan juga terseret polemik promo minuman alkohol gratis untuk pelanggan bernama Muhammad dan Maria, yang memicu sorotan publik lebih luas.

Situasi tersebut membuat pertanyaan soal masa depan merek Holywings mengemuka, termasuk kemungkinan rebranding atau bahkan ganti nama. Praktisi marketing menilai keputusan itu harus didasarkan pada riset mendalam, karena perubahan merek bisa menjadi penyelamatan, tetapi juga berisiko memulai bisnis dari nol.

Holywings dan tekanan reputasi

Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings sudah terpukul oleh kontroversi yang dikaitkan dengan isu SARA. Menurut dia, kasus tersebut tidak hanya berdampak pada persepsi publik, tetapi juga pada nilai merek yang selama ini dibangun.

Penutupan 12 outlet di Jakarta memperburuk citra perusahaan di mata masyarakat. Dalam pandangannya, sebuah usaha yang sampai dilarang karena persoalan perizinan akan menghadapi penilaian negatif dari publik. Kondisi itu membuat brand Holywings ikut menerima beban tambahan.

Yuswohady menyebut masalah yang menimpa Holywings sudah masuk ranah reputasi serius. Ia menilai, dalam bisnis, citra yang rusak akan memengaruhi kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan. Jika kepercayaan itu turun, pemulihan merek akan menjadi jauh lebih berat.

Di sisi lain, tekanan publik juga membuat perusahaan harus bergerak cepat menata ulang strategi komunikasi. Tanpa langkah yang tepat, polemik yang berulang dapat memperpanjang krisis dan menahan laju pemulihan usaha. Karena itu, keputusan bisnis yang diambil tidak bisa sekadar bersifat kosmetik.

Opsi rebranding Holywings

Menurut Yuswohady, ada dua opsi yang dapat dipertimbangkan Holywings untuk memperbaiki kondisi mereknya. Opsi pertama adalah rebranding, selama brand tersebut masih memiliki kekuatan di mata konsumen. Skema ini dinilai masih memungkinkan jika identitas lama belum sepenuhnya hilang nilai jualnya.

Rebranding juga dapat dilakukan tanpa menghapus nama utama secara total. Contohnya, merek baru bisa ditampilkan dengan embel-embel yang tetap mengaitkan Holywings. Cara ini dinilai dapat menjaga sebagian ekuitas merek yang masih tersisa.

Namun, ia menekankan bahwa penggunaan nama lama tidak selalu tepat jika reputasinya sudah terlalu rusak. Dalam kondisi tertentu, mempertahankan nama yang sudah terlanjur negatif justru bisa menghambat pemulihan bisnis. Karena itu, perusahaan perlu menimbang dampaknya secara cermat.

Langkah rebranding idealnya juga diiringi pembenahan operasional dan kepatuhan perizinan. Tanpa perbaikan di sisi tata kelola, perubahan nama hanya akan menjadi solusi sementara. Publik pada akhirnya akan menilai konsistensi, bukan sekadar tampilan baru.

Risiko ganti nama total

Opsi kedua adalah mengganti nama baru secara total jika merek lama dianggap sudah terlalu buruk. Yuswohady menilai langkah ini bisa ditempuh apabila hasil riset menunjukkan nama Holywings sudah tidak layak digunakan. Dalam situasi seperti itu, perusahaan mungkin tidak memiliki banyak pilihan.

Meski demikian, pergantian nama bukan keputusan ringan. Membangun merek baru berarti memulai dari awal, termasuk membangun pengenalan, kepercayaan, dan asosiasi positif di benak konsumen. Proses tersebut membutuhkan waktu, biaya, dan strategi yang matang.

Ia juga mengingatkan bahwa kesuksesan brand tidak hanya ditentukan oleh strategi pemasaran. Ada faktor keberuntungan dan momentum yang ikut memengaruhi penerimaan pasar. Karena itu, membangun merek baru bukan pekerjaan yang mudah dijalankan dalam waktu singkat.

Jika perusahaan memilih jalan ini, riset pasar menjadi syarat utama sebelum keputusan final diambil. Riset dibutuhkan untuk memastikan apakah publik masih mau menerima merek baru yang lahir dari krisis. Tanpa data yang kuat, pergantian nama justru bisa menambah ketidakpastian.

Masa depan brand Holywings

Kasus Holywings menunjukkan bahwa reputasi merek dapat berubah cepat ketika persoalan izin dan kontroversi publik bertemu dalam waktu berdekatan. Dalam industri hiburan dan makanan-minuman, kepercayaan pelanggan menjadi modal utama yang harus dijaga. Sekali rusak, pemulihannya membutuhkan langkah yang konsisten dan terukur.

Perusahaan kini dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan nama lama atau membangun identitas baru. Keduanya memiliki konsekuensi, baik dari sisi biaya, citra, maupun penerimaan pasar. Karena itu, keputusan strategis perlu mempertimbangkan kondisi bisnis secara menyeluruh.

Rebranding dapat menjadi jalan tengah jika ekuitas merek masih bernilai. Namun, jika citra sudah terlanjur jatuh, ganti nama total bisa menjadi opsi yang lebih realistis. Penentu akhirnya tetap bergantung pada hasil evaluasi internal dan riset pasar yang objektif.

Di tengah tekanan yang ada, Holywings perlu menunjukkan bahwa perusahaan mampu berbenah secara menyeluruh. Pembenahan izin, komunikasi publik, dan manajemen merek harus berjalan bersamaan. Tanpa itu, perubahan nama tidak akan banyak membantu memulihkan kepercayaan masyarakat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!