Ubi Ungu Kian Populer, Ini Alasan Ahli Gizi Menyarankannya

Lifestyle Nadia Safira Putri 24 Mei 2026 03:34 WIB 6
Ubi Ungu Kian Populer, Ini Alasan Ahli Gizi Menyarankannya

Olahan ubi kembali naik daun di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi cream cheese dengan berbagai topping kekinian. Di tengah tren itu, dokter gizi menyarankan masyarakat untuk mempertimbangkan ubi ungu sebagai pilihan yang lebih menyehatkan.

Dokter spesialis gizi klinik dr. Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa ubi ungu mengandung antosianin dalam jumlah cukup tinggi. Senyawa alami tersebut juga memberi warna ungu khas pada ubi, sekaligus dikenal memiliki potensi manfaat bagi kesehatan.

Manfaat Ubi Ungu

Menurut dr. Tjandra, jenis ubi yang paling direkomendasikan adalah ubi ungu. Alasannya, ubi ini memiliki kandungan antosianin yang lebih menonjol dibandingkan beberapa jenis ubi lain. Antosianin dikenal sebagai pigmen alami yang memberi warna ungu pada bahan pangan. Senyawa ini juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu.

Ia menuturkan bahwa antosianin merupakan zat warna alami yang mengandung flavonoid dan polifenol. Kedua komponen tersebut berperan sebagai antioksidan dan anti-peradangan. Karena itu, ubi ungu dinilai lebih menarik dari sisi gizi dibandingkan olahan ubi biasa. Pilihan ini dapat menjadi alternatif camilan yang lebih baik untuk masyarakat.

Rujukan ilmiah juga mendukung penjelasan tersebut. Review yang dipublikasikan dalam jurnal Molecules pada 2019 menyebut kandungan antosianin pada ubi ungu dapat mencapai 218-244 mg per 100 gram. Angka itu dapat berbeda tergantung varietas dan cara pengolahan. Temuan ini memperkuat alasan mengapa ubi ungu sering disarankan dalam pola makan sehat.

Peran Untuk Metabolik

Menurut dr. Tjandra, kandungan antosianin pada ubi ungu dapat membantu kelompok yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Contohnya adalah diabetes dan hipertensi. Kandungan antioksidan di dalamnya dinilai mendukung upaya menjaga kesehatan tubuh. Manfaat tersebut membuat ubi ungu patut dilirik sebagai pangan fungsional.

Ia menjelaskan bahwa antioksidan berperan dalam membantu melawan stres oksidatif. Kondisi itu kerap dikaitkan dengan berbagai gangguan metabolik. Karena itu, asupan pangan yang kaya antosianin dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih seimbang. Namun, manfaat tersebut tetap perlu didukung kebiasaan hidup sehat lainnya.

Meski begitu, ubi ungu bukan obat untuk penyakit tertentu. Konsumsi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing orang. Bagi penderita diabetes, pengaturan porsi menjadi hal yang penting. Pemilihan metode pengolahan juga perlu diperhatikan agar manfaatnya tidak berkurang.

Cara Mengolah Lebih Bijak

Tren ubi panggang dan ubi dengan topping manis memang membuat makanan ini terlihat lebih menarik. Namun, tambahan gula dan lemak jenuh yang berlebihan dapat mengurangi nilai sehat dari ubi ungu itu sendiri. Dalam konteks gizi, komposisi topping menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Olahan yang terlihat sehat belum tentu tetap sehat jika bahan tambahannya berlebihan.

Dr. Tjandra mengingatkan agar masyarakat lebih bijak dalam memilih tambahan topping. Krim, keju manis, atau saus tinggi gula sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan. Porsi konsumsi juga perlu disesuaikan agar asupan kalori tetap terkendali. Dengan begitu, ubi ungu tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan tujuan sehatnya.

Cara paling sederhana adalah mengolah ubi ungu dengan metode yang minim tambahan bahan. Ubi dapat dipanggang, dikukus, atau direbus tanpa banyak gula. Jika ingin menambahkan pelengkap, pilihlah bahan yang lebih ringan dan bernutrisi. Pendekatan ini membuat ubi ungu tetap relevan sebagai camilan sehat di tengah tren kuliner.

Pilihan Sehat Sehari-hari

Ubi ungu dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat yang menarik untuk dikonsumsi sehari-hari. Selain memberikan rasa manis alami, bahan pangan ini juga membawa pigmen alami yang bernilai gizi. Kandungan antosianin menjadikannya berbeda dari banyak camilan kekinian lainnya. Karena itu, ubi ungu layak dipertimbangkan dalam menu keluarga.

Di tengah maraknya makanan viral, masyarakat tetap perlu menilai nilai gizi sebelum mengikuti tren. Popularitas di media sosial tidak selalu sejalan dengan manfaat kesehatan. Ubi ungu memiliki keunggulan karena bahan dasarnya sederhana dan mudah diolah. Dengan pemilihan yang tepat, makanan ini bisa menjadi bagian dari pola makan yang lebih baik.

Ahli gizi menilai kunci utamanya ada pada keseimbangan antara bahan, porsi, dan cara olah. Jika tiga hal itu dijaga, ubi ungu dapat memberikan manfaat tanpa beban kalori berlebih. Tren kuliner pun bisa tetap dinikmati tanpa mengabaikan kesehatan. Dalam konteks ini, ubi ungu tampil sebagai pilihan yang lezat sekaligus bijak.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!