Ubi Ungu Dinilai Lebih Bernutrisi untuk Olahan Kekinian

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 10:57 WIB 3
Ubi Ungu Dinilai Lebih Bernutrisi untuk Olahan Kekinian

Olahan ubi kembali mencuri perhatian di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi cream cheese dengan berbagai topping kekinian. Di tengah tren tersebut, dokter gizi menyarankan masyarakat untuk memilih ubi ungu karena dinilai memiliki kandungan antosianin yang lebih tinggi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa warna ungu pada ubi berasal dari antosianin, yaitu pigmen alami yang juga ditemukan pada blueberry dan anggur ungu. Kandungan itu disebut dapat memberi nilai tambah bagi kesehatan, terutama bila diolah dengan cara yang tepat.

Manfaat Ubi Ungu

Menurut dr Tjandra, ubi ungu menjadi pilihan yang direkomendasikan karena kandungan antosianinnya cukup tinggi. Zat warna alami ini termasuk kelompok flavonoid dan polifenol yang memiliki sifat anti-peradangan. Karena itu, ubi ungu kerap dianggap lebih unggul dibanding jenis ubi lain dalam konteks nutrisi.

Antosianin juga dikenal memiliki aktivitas antioksidan yang membantu melawan stres oksidatif dalam tubuh. Sejumlah penelitian mengaitkannya dengan manfaat bagi kesehatan metabolik. Temuan tersebut membuat ubi ungu semakin menarik sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Kehadiran antioksidan dan senyawa anti-peradangan dalam ubi ungu menjadi alasan utama mengapa pangan ini kembali dilirik. Selain enak, ubi ungu juga relatif mudah diolah menjadi berbagai menu. Namun, manfaat itu tetap bergantung pada cara penyajian dan porsi yang dikonsumsi.

Risiko Penyakit Tidak Menular

Dr Tjandra menyebut kandungan dalam ubi ungu berpotensi bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Kelompok tersebut antara lain penderita atau calon penderita diabetes dan hipertensi. Dengan demikian, ubi ungu dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat yang lebih baik.

Penjelasan itu sejalan dengan hasil ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Molecules pada 2019. Dalam kajian tersebut, kadar antosianin pada ubi ungu dilaporkan mencapai sekitar 218 hingga 244 mg per 100 gram. Angka itu bergantung pada varietas serta metode pengolahan yang digunakan.

Meskipun menjanjikan, manfaat ubi ungu bukan berarti dapat menggantikan pengobatan medis. Konsumsi pangan fungsional tetap harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan. Pola makan, aktivitas fisik, dan pemeriksaan rutin tetap menjadi faktor penting.

Cara Mengolah dengan Bijak

Manfaat ubi ungu dapat berkurang jika disajikan dengan topping tinggi gula dan lemak jenuh secara berlebihan. Topping seperti krim manis, keju berlemak, atau saus gula berlebih dapat menambah asupan kalori. Kondisi ini membuat hidangan yang semula sehat menjadi kurang ideal bagi sebagian orang.

Karena itu, masyarakat disarankan lebih bijak dalam memilih tambahan pada olahan ubi yang sedang viral. Porsi yang wajar dan topping sederhana bisa membantu menjaga nilai gizinya. Cara ini juga membuat ubi ungu tetap relevan sebagai camilan sehat.

Pilihan pengolahan seperti dipanggang atau dikukus cenderung lebih aman dibanding tambahan yang terlalu manis. Dengan pendekatan tersebut, ubi ungu dapat dinikmati tanpa mengorbankan tujuan menjaga kesehatan. Tren kuliner tetap bisa diikuti, selama keseimbangan nutrisi tetap diperhatikan.

Pilihan Sehat di Media Sosial

Popularitas olahan ubi di media sosial menunjukkan bahwa masyarakat semakin tertarik pada pangan tradisional yang dikemas modern. Ubi ungu menjadi sorotan karena menawarkan kombinasi rasa, warna, dan manfaat gizi. Hal ini membuatnya mudah diterima oleh berbagai kelompok usia.

Di tengah maraknya konten makanan kekinian, informasi gizi menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren. Pemilihan bahan dasar yang lebih baik dapat menjadi langkah sederhana menjaga kesehatan. Ubi ungu bisa menjadi contoh bagaimana makanan populer tetap bisa bernilai nutrisi.

Selama dikonsumsi dengan porsi yang tepat, ubi ungu dapat menjadi alternatif karbohidrat yang menarik. Kandungan antosianin di dalamnya memberi alasan ilmiah mengapa pangan ini patut dipertimbangkan. Dengan demikian, tren kuliner dan gaya hidup sehat dapat berjalan berdampingan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!