Ubi Cream Cheese Viral, Pakar Ingatkan Soal Kalori

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 11:33 WIB 4
Ubi Cream Cheese Viral, Pakar Ingatkan Soal Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai diburu di pusat perbelanjaan dan media sosial. Di sebuah mal di Kabupaten Tangerang, antrean pembeli terlihat mengular karena banyak pengunjung ingin mencicipinya. Popularitasnya didorong oleh anggapan bahwa ubi merupakan bahan yang lebih sehat dibanding dessert manis lain.

Meski berbahan dasar ubi, camilan ini tidak otomatis menjadi pilihan sehat jika diberi tambahan topping tinggi lemak dan gula. Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa total kalori tetap perlu diperhitungkan. Ia menegaskan, label real food pada bahan utama tidak berarti olahannya bebas risiko bila dikonsumsi berlebihan.

Ubi cream cheese dan nilai gizi

Ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks dan serat yang baik bagi tubuh. Kandungan tersebut membuat ubi kerap dipandang sebagai bahan makanan yang lebih bernutrisi. Namun, manfaat itu tetap bergantung pada cara pengolahan dan porsi yang dikonsumsi.

Menurut dr Raissa, ubi sebagai bahan dasar memang memiliki citra sehat di mata konsumen. Persepsi itu membuat banyak orang menganggap dessert berbahan ubi lebih aman dibanding camilan lain. Padahal, penilaian gizi tidak cukup hanya melihat bahan utamanya.

Olahan ubi yang ditambah cream cheese, gula, atau saus manis bisa berubah menjadi sajian tinggi kalori. Kombinasi tersebut juga dapat meningkatkan asupan lemak dan gula harian. Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh orang yang sedang menjaga berat badan atau membatasi gula.

Karena itulah, camilan viral ini sebaiknya tetap dinilai dari komposisi lengkapnya. Masyarakat perlu membedakan antara bahan yang sehat dan hasil akhir olahan. Dengan begitu, pilihan makanan bisa lebih sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Risiko topping berlebihan

Tambahan topping menjadi faktor utama yang membuat ubi cream cheese tidak selalu sehat. Cream cheese mengandung lemak yang cukup tinggi, sehingga kalori total ikut naik. Jika ditambah saus atau taburan manis, kadar gulanya juga meningkat.

Dr Raissa menjelaskan, penambahan topping berlebihan dapat membuat makanan ini setara dengan dessert pada umumnya. Dalam beberapa kasus, konsumen justru tidak menyadari bahwa asupan kalori sudah menumpuk. Hal ini terjadi karena makanan tersebut tampak lebih ringan dibanding kue atau pastry.

Risiko lain muncul ketika camilan viral dikonsumsi tanpa kontrol porsi. Meskipun terlihat sederhana, satu porsi dapat menyumbang energi yang cukup besar. Bila dikonsumsi sering, kondisi ini bisa mengganggu pola makan harian.

Karena itu, konsumen perlu lebih teliti membaca komposisi atau bertanya langsung kepada penjual. Informasi tentang ukuran porsi dan bahan tambahan menjadi penting untuk menilai tingkat kesehatannya. Langkah ini membantu mencegah asumsi keliru bahwa semua olahan ubi selalu aman.

Bijak menikmati camilan viral

Popularitas ubi cream cheese menunjukkan bagaimana tren kuliner mudah memengaruhi pilihan masyarakat. Rasa yang manis dan tampilan menarik membuatnya cepat digemari. Namun, tren semestinya tidak mengalahkan pertimbangan kesehatan.

Ahli gizi menyarankan masyarakat tetap membatasi konsumsi dessert, termasuk yang berbahan dasar ubi. Porsi kecil bisa menjadi pilihan agar asupan gula dan lemak tidak berlebihan. Cara ini lebih aman dibanding menjadikannya camilan harian.

Masyarakat juga dapat menyesuaikan topping agar lebih ringan, misalnya mengurangi saus manis atau memilih tambahan yang tidak terlalu tinggi kalori. Penyesuaian tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan nutrisi. Dengan begitu, camilan tetap bisa dinikmati tanpa mengabaikan kesehatan.

Prinsip utama dalam memilih makanan adalah memahami kandungan gizinya, bukan hanya mengikuti tren. Makanan yang terlihat sehat belum tentu rendah kalori jika olahannya kaya topping. Kesadaran ini penting agar konsumen tidak terjebak pada kesan visual semata.

Perlu kontrol porsi harian

Kontrol porsi menjadi kunci saat mengonsumsi makanan manis seperti ubi cream cheese. Asupan yang tampak kecil bisa saja menyumbang energi cukup besar bila dikonsumsi rutin. Karena itu, pengaturan jumlah menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Dalam pola makan seimbang, dessert sebaiknya ditempatkan sebagai selingan, bukan menu utama. Konsumen juga perlu menyesuaikannya dengan aktivitas fisik harian. Semakin aktif seseorang, semakin besar pula kebutuhan energinya, tetapi tetap harus proporsional.

Bagi kelompok tertentu, seperti penderita diabetes atau orang dengan kebutuhan diet khusus, kehati-hatian perlu lebih tinggi. Kandungan gula dan lemak tambahan dapat memengaruhi pengendalian asupan harian. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan batas konsumsi yang aman.

Pada akhirnya, ubi cream cheese tetap bisa dinikmati selama tidak berlebihan. Kuncinya ada pada komposisi, porsi, dan frekuensi konsumsi. Dengan pendekatan yang bijak, camilan viral ini tidak harus menjadi ancaman bagi pola makan sehat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!