Ubi Cream Cheese Viral, Pakar Gizi Soroti Protein Tambahan

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 01:23 WIB 7
Ubi Cream Cheese Viral, Pakar Gizi Soroti Protein Tambahan

Olahan ubi dengan topping cream cheese belakangan ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap praktis, enak, dan terlihat menarik. Di balik tren itu, dokter mengingatkan bahwa kombinasi tersebut sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya sumber makan, terutama jika ingin menjaga keseimbangan gizi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa perpaduan karbohidrat dan cream cheese bukanlah hal baru. Sebelum populer di atas ubi, cream cheese lebih sering dipadukan dengan roti, sehingga tren ini sebenarnya hanya bentuk variasi menu yang sedang naik daun.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Menurut dr Tjandra, ubi dan cream cheese pada dasarnya merupakan kombinasi karbohidrat dan lemak. Pola seperti ini sudah lama dikenal dalam berbagai menu, hanya saja bentuk penyajiannya kini lebih mengikuti selera yang sedang populer. Ia menilai, dari sisi rasa, kombinasi tersebut memang menarik dan mudah diterima banyak orang.

Namun, ia menegaskan bahwa olahan ubi cream cheese cenderung rendah protein jika hanya mengandalkan dua bahan itu. Padahal, protein dibutuhkan tubuh untuk membantu pembentukan dan perbaikan jaringan, menjaga massa otot, serta mendukung rasa kenyang lebih lama. Karena itu, menu tersebut sebaiknya tidak dinikmati dalam bentuk yang terlalu sederhana.

Dalam praktiknya, masyarakat dapat memperkaya isi makanan dengan bahan tambahan yang lebih bernutrisi. Protein dari telur, edamame, atau kacang bisa menjadi pilihan untuk menyeimbangkan komposisi gizi. Dengan cara itu, sajian ubi tidak hanya menjadi tren, tetapi juga lebih bermanfaat bagi tubuh.

Dr Tjandra juga menilai kebiasaan memilih topping perlu disesuaikan dengan kebutuhan harian. Makanan yang hanya mengandalkan karbohidrat dan lemak tanpa protein memadai dapat membuat asupan sekali makan kurang lengkap. Ia mengingatkan, menu populer tetap perlu dipahami dari sisi nutrisi, bukan sekadar tampilannya.

Protein Jaga Keseimbangan Tubuh

Protein memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan. Selain membantu memperbaiki jaringan, zat gizi ini juga berkontribusi pada pemeliharaan massa otot yang sehat. Karena itu, protein sebaiknya hadir di setiap waktu makan dalam porsi yang sesuai.

Dalam konteks ubi cream cheese, protein dapat membantu membuat menu terasa lebih seimbang. Kombinasi karbohidrat, lemak, dan protein dinilai lebih baik dibanding hanya mengandalkan karbohidrat dengan topping tinggi gula atau lemak. Susunan gizi yang lebih lengkap juga dapat mendukung kenyamanan tubuh setelah makan.

Dr Tjandra menyarankan penggunaan bahan tambahan yang sederhana namun efektif. Telur rebus, kacang, atau edamame dapat menjadi opsi praktis untuk meningkatkan kadar protein dalam menu ubi. Pilihan tersebut juga relatif mudah disesuaikan dengan selera dan kebutuhan masing-masing orang.

Ia menambahkan, menu yang terlihat sehat belum tentu otomatis memenuhi kebutuhan tubuh. Karena itu, masyarakat disarankan membaca komposisi makanan secara lebih cermat, terutama saat memilih makanan yang sedang viral. Kebiasaan ini penting agar tren kuliner tidak menggeser prinsip makan seimbang.

Gula Darah Butuh Kendali

Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan bahwa konsumsi protein bersama makanan sumber karbohidrat dapat membantu memperlambat pengosongan lambung. Efek ini membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap. Dengan demikian, kombinasi tersebut dinilai lebih menguntungkan dibanding karbohidrat tanpa pendamping yang tepat.

Pernyataan itu sejalan dengan anjuran dr Tjandra yang menilai protein dapat membantu menjaga kestabilan asupan. Saat karbohidrat dikombinasikan dengan protein, tubuh cenderung menerima energi secara lebih terukur. Hal ini penting bagi masyarakat yang ingin menjaga pola makan sehari-hari.

Sebaliknya, makanan yang terlalu dominan lemak atau gula dapat membuat nilai gizi kurang seimbang. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat membuat seseorang sulit mengontrol porsi makan dan rasa kenyang. Oleh karena itu, pemilihan topping tidak hanya soal cita rasa, tetapi juga dampak fisiologisnya.

Ubi sendiri tetap dapat menjadi bagian dari menu sehat bila dipadukan dengan komponen yang tepat. Porsi yang wajar, tambahan protein, dan pengolahan yang tidak berlebihan akan membuat sajian lebih baik. Dengan pendekatan itu, makanan viral tetap bisa dinikmati tanpa mengabaikan prinsip gizi.

Menu Viral Perlu Bijak

Tren makanan di media sosial sering kali mendorong masyarakat mencoba kombinasi baru. Ubi dengan cream cheese menjadi salah satu contoh menu yang cepat naik popularitas karena tampilan dan rasanya dianggap menggoda. Meski demikian, popularitas tidak selalu identik dengan nilai gizi yang ideal.

Dr Tjandra menilai masyarakat perlu lebih bijak menyikapi makanan viral. Pilihan menu sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan energi, protein, serta pola makan harian. Dengan begitu, makanan kekinian tidak berubah menjadi kebiasaan yang kurang seimbang.

Ia juga mengingatkan bahwa kebutuhan protein sekali makan umumnya berada di kisaran 10 hingga 20 gram. Sementara itu, ubi dan cream cheese saja hanya menyumbang protein dalam jumlah kecil, bahkan disebut sekitar 2 gram. Selisih tersebut menunjukkan pentingnya tambahan lauk atau topping yang lebih bergizi.

Karena itu, masyarakat dianjurkan tidak hanya fokus pada tampilan menu yang sedang tren. Kombinasi bahan yang tepat akan membuat makanan lebih lengkap, lebih mengenyangkan, dan lebih bermanfaat bagi tubuh. Di tengah ramainya tren kuliner, prinsip gizi seimbang tetap menjadi pegangan utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!