Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Ingatkan Soal Kalori

Lifestyle Anindya Kirana Putri 28 Mei 2026 10:41 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Ingatkan Soal Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai dibicarakan di media sosial dan pusat perbelanjaan. Pada Kamis, 14 Mei 2026, pantauan di sebuah mal di Kabupaten Tangerang menunjukkan banyak pengunjung rela mengantre untuk mendapatkannya. Popularitasnya didorong oleh anggapan bahwa ubi merupakan bahan yang lebih sehat dibanding dessert manis lain. Namun, pakar gizi mengingatkan bahwa status bahan utama yang sehat tidak otomatis membuat olahannya tetap menyehatkan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, menilai ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Meski begitu, tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat menaikkan jumlah kalori secara signifikan. Ia menekankan bahwa konsumsi berlebihan tetap perlu diwaspadai, meskipun camilan itu tampak lebih baik daripada dessert lain. Menurutnya, persepsi sehat sering kali muncul karena bahan dasarnya berupa ubi, bukan karena komposisi akhirnya benar-benar seimbang.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang memberi rasa kenyang lebih lama. Bahan ini juga mengandung serat yang bermanfaat bagi pencernaan. Karena itu, banyak orang menilai ubi sebagai pilihan yang lebih baik dibanding bahan olahan seperti roti manis. Penilaian tersebut memang tidak keliru, tetapi tetap harus melihat keseluruhan bentuk penyajiannya.

Dalam bentuk aslinya, ubi memiliki profil gizi yang cukup baik untuk camilan. Kandungan seratnya dapat membantu menjaga rasa kenyang dan mengurangi keinginan ngemil berlebihan. Selain itu, ubi juga membawa sejumlah vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Namun, manfaat itu bisa berubah ketika ubi diolah dengan tambahan bahan tinggi kalori.

dr Raissa menjelaskan bahwa makanan sehat tidak bisa dinilai hanya dari satu komponen. Ketika ubi dipadukan dengan cream cheese, gula, atau saus manis, komposisi gizinya ikut berubah. Kalori total dapat meningkat tanpa disadari oleh konsumen. Kondisi ini membuat camilan tersebut lebih dekat ke dessert biasa daripada makanan sehat.

Topping Tinggi Kalori

Tambahan cream cheese menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi nilai gizi camilan ini. Bahan tersebut umumnya mengandung lemak yang cukup tinggi. Jika ditambah gula atau saus manis, jumlah kalorinya akan semakin bertambah. Karena itu, porsi dan frekuensi konsumsi perlu diperhatikan.

Menurut dr Raissa, persepsi sehat sering kali muncul karena bahan dasar yang digunakan terdengar lebih alami. Padahal, topping yang berlebihan dapat mengubah camilan itu menjadi sumber energi yang besar. Dalam kondisi tertentu, satu porsi saja sudah cukup tinggi kalori. Jika dikonsumsi tanpa kontrol, efeknya bisa setara dengan dessert manis lain.

Ia menambahkan, masalah utama bukan pada ubi semata, melainkan pada keseluruhan racikan. Topping yang melimpah dapat menambah lemak jenuh dan gula sederhana. Kombinasi tersebut berpotensi membuat konsumsi harian melampaui kebutuhan. Karena itu, masyarakat disarankan lebih cermat membaca komposisi makanan.

Risiko Anggapan Sehat

Anggapan bahwa ubi cream cheese adalah camilan sehat dapat mendorong konsumsi berlebihan. Banyak orang merasa aman karena mengira makanan tersebut berbasis real food. Padahal, kalori, gula, dan lemak tetap harus dihitung. Jika tidak, pola makan yang terbentuk bisa menjadi tidak seimbang.

dr Raissa mengingatkan bahwa label sehat tidak boleh dijadikan alasan untuk makan tanpa batas. Makanan yang terlihat ringan belum tentu rendah kalori. Sebaliknya, dessert yang tampak sederhana justru bisa menyumbang energi besar. Risiko ini semakin tinggi jika porsi yang dibeli juga besar.

Dalam konteks diet harian, keseimbangan tetap menjadi kunci utama. Konsumen disarankan memperhatikan ukuran saji dan frekuensi pembelian. Camilan seperti ubi cream cheese masih bisa dinikmati, selama tidak dikonsumsi berlebihan. Dengan begitu, kesenangan sesaat tidak mengganggu kebutuhan gizi secara keseluruhan.

Bijak Menikmati Camilan Viral

Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bahwa tren makanan dapat memengaruhi pilihan konsumen secara cepat. Antrean panjang di pusat perbelanjaan menjadi bukti bahwa daya tarik visual dan rasa manis masih sangat kuat. Namun, popularitas tidak selalu sejalan dengan nilai gizi. Masyarakat tetap perlu memilah antara tren dan kebutuhan tubuh.

Untuk menikmati camilan viral secara lebih aman, porsi kecil bisa menjadi pilihan yang lebih bijak. Pengurangan topping manis juga dapat membantu menekan asupan gula dan lemak. Selain itu, camilan sebaiknya tidak menggantikan makanan utama yang seimbang. Langkah sederhana ini dapat membantu menjaga pola makan tetap terkendali.

Pakar gizi menegaskan bahwa makanan sehat tidak hanya ditentukan oleh satu bahan utama. Proses pengolahan, jumlah topping, dan frekuensi konsumsi turut menentukan dampaknya bagi tubuh. Ubi cream cheese dapat dinikmati sebagai camilan sesekali, bukan sebagai pilihan harian tanpa batas. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat dapat tetap mengikuti tren tanpa mengabaikan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!