Seorang perempuan asal Bekasi, Siti Zahro, viral di TikTok setelah membagikan pengalamannya mengidap kista ovarium hingga harus menjalani operasi. Dalam video yang dibagikan ulang, perutnya tampak membesar dan memicu perhatian warganet karena ukurannya menyerupai kehamilan. Kisah ini kembali membuka sorotan terhadap faktor gaya hidup yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi perempuan.
Melalui akun TikTok @siti.zahro771, Siti mengaku kerap mengonsumsi seblak, bakso, dan camilan pedas asin hampir setiap hari. Kebiasaan makan yang tidak seimbang seperti ini dinilai dapat berkontribusi pada gangguan metabolisme dan keseimbangan hormon. Kista ovarium sendiri merupakan kantung berisi cairan atau material lain yang tumbuh di ovarium dan cukup sering dialami wanita usia produktif.
Kista Ovarium dan Gaya Hidup
Kista ovarium dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari berisi cairan hingga material seperti darah, rambut, atau jaringan lain. Pada banyak kasus, kondisi ini tidak menimbulkan gejala pada awalnya sehingga sering baru diketahui saat ukurannya membesar. Karena itu, pemeriksaan medis menjadi penting ketika muncul keluhan pada perut bagian bawah atau siklus haid yang tidak teratur.
Faktor pemicunya tidak tunggal, sebab kondisi ini dapat dipengaruhi oleh hormon, berat badan berlebih, stres, jarang bergerak, hingga pola makan yang buruk. Ketika kebiasaan hidup tidak sehat berlangsung lama, tubuh dapat mengalami perubahan metabolik yang berdampak pada fungsi reproduksi. Situasi tersebut membuat risiko gangguan pada ovarium menjadi lebih besar pada sebagian perempuan.
Pada kasus Siti, kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam, lemak, dan kalori diduga menjadi salah satu kebiasaan yang patut dievaluasi. Meski demikian, kondisi kista ovarium tidak bisa disederhanakan hanya dari satu penyebab saja. Pemeriksaan dokter tetap dibutuhkan untuk memastikan ukuran, jenis, dan risiko komplikasinya.
Ultra Processed Food dan Hormon
Seblak, bakso olahan, sosis, kerupuk instan, dan camilan asin termasuk kelompok Ultra Processed Food atau UPF. Makanan jenis ini umumnya tinggi natrium, lemak jenuh, dan kalori, tetapi rendah serat serta zat gizi penting. Jika dikonsumsi terlalu sering, tubuh dapat menerima energi berlebih tanpa dukungan nutrisi yang seimbang.
Konsumsi UPF yang berlebihan dapat memengaruhi metabolisme tubuh secara bertahap. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada sensitivitas insulin, berat badan, dan keseimbangan hormon. Bagi perempuan usia reproduktif, perubahan ini dapat berkaitan dengan gangguan pada sistem reproduksi.
Penelitian dalam Journal of Women's Health pada 2024 menyebut konsumsi makanan ultra proses pada wanita usia reproduktif berkaitan dengan kondisi metabolik yang lebih buruk. Temuan itu juga mengarah pada peningkatan risiko gangguan kesehatan yang berhubungan dengan hormon. Meski tidak secara langsung menyatakan UPF sebagai penyebab kista ovarium, pola makan seperti ini tetap perlu diwaspadai.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Kista ovarium sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Namun, sebagian penderita dapat merasakan nyeri panggul, perut terasa penuh, atau perubahan pada siklus menstruasi. Jika ukurannya membesar, keluhan bisa semakin jelas dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perut yang tampak membesar bukan selalu berarti kehamilan, sebab kista yang besar juga dapat menimbulkan tampilan serupa. Pada kondisi tertentu, massa kista dapat menekan organ sekitar dan memicu rasa tidak nyaman. Karena itu, perubahan bentuk perut yang tidak biasa sebaiknya tidak diabaikan.
Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan pencitraan untuk menilai kondisi ovarium. Dari hasil pemeriksaan itu, dokter dapat menentukan apakah kista perlu dipantau, diobati, atau dioperasi. Penanganan yang cepat membantu menekan risiko komplikasi, termasuk pecahnya kista atau torsio ovarium.
Pencegahan lewat Pola Sehat
Pencegahan gangguan reproduksi dapat dimulai dari pola hidup yang lebih seimbang. Konsumsi makanan tinggi serat, protein, vitamin, dan mineral perlu diutamakan dibanding makanan ultra proses yang terlalu sering. Kebiasaan ini membantu menjaga metabolisme dan mendukung kestabilan hormon.
Aktivitas fisik teratur juga berperan penting dalam menjaga berat badan ideal dan fungsi hormon. Selain itu, tidur cukup dan pengelolaan stres dapat membantu tubuh bekerja lebih optimal. Kombinasi faktor tersebut mendukung kesehatan reproduksi secara menyeluruh.
Perempuan yang mengalami nyeri panggul, haid tidak teratur, atau perut membesar tanpa sebab jelas disarankan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan kista ovarium sebelum berkembang lebih besar. Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup, risiko gangguan dapat ditekan lebih baik.
