Kebutuhan Energi BTS di Jawa Tak Sama dengan Daerah Lain

Teknologi BRH 28 Mei 2026 13:38 WIB 3
Kebutuhan Energi BTS di Jawa Tak Sama dengan Daerah Lain

Perbedaan kebutuhan energi Base Transceiver Station atau BTS di Pulau Jawa dan daerah lain dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kebutuhan cakupan hingga kondisi wilayah. Penjelasan itu disampaikan peneliti ahli muda BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, dalam webinar bertema kajian kebutuhan energi jaringan telekomunikasi seluler di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia menegaskan, tidak semua BTS dipasang dengan tipe yang sama karena operator harus menyesuaikannya dengan target pasar, kontur daerah, dan kebutuhan layanan. Kondisi tersebut membuat konsumsi energi jaringan seluler sangat tinggi, terlebih ketika layanan 4G masih terus berkembang sementara implementasi 5G masih terbatas.

Kebutuhan Energi BTS

Dr Mardi menjelaskan bahwa BTS memiliki beban operasional yang besar karena harus meng-cover wilayah layanan secara luas. Dalam banyak kasus, kebutuhan energi jaringan menjadi komponen yang sangat dominan dalam operasional operator telekomunikasi.

Ia mencontohkan data operasional Telkomsel pada 2023 yang menunjukkan konsumsi energi mencapai hampir 90 persen dari total konsumsi tahunan. Angka itu menggambarkan betapa besar tekanan biaya energi dalam bisnis telekomunikasi modern.

Menurutnya, tren jaringan seluler di Indonesia masih akan mendorong kenaikan konsumsi energi. Hal ini terjadi karena penetrasi 4G masih meningkat, sedangkan penggunaan 5G belum merata di seluruh wilayah.

Dengan kondisi tersebut, perencanaan energi BTS menjadi isu penting bagi operator. Tanpa pengelolaan yang tepat, efisiensi jaringan akan sulit tercapai.

Perbedaan Kebutuhan Daerah

Dr Mardi menekankan bahwa kebutuhan BTS di setiap daerah tidak bisa disamaratakan. Pulau Jawa yang padat penduduk memiliki pola kebutuhan yang berbeda dibandingkan wilayah lain seperti Kalimantan atau Papua.

Perbedaan itu dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, kondisi geografis, dan karakter penggunaan layanan. Karena itu, desain jaringan harus mengikuti kebutuhan nyata di lapangan.

Ia menyebut operator harus membaca target pasar dan kondisi wilayah sebelum menentukan tipe BTS. Jika tidak, konsumsi energi justru bisa membengkak tanpa memberikan efisiensi yang sepadan.

Penyesuaian tersebut juga penting untuk menjaga kualitas layanan tetap stabil. Dengan pendekatan yang tepat, jaringan dapat bekerja optimal tanpa pemborosan energi yang berlebihan.

Temuan Penelitian BRIN

Dalam penelitiannya, Dr Mardi menggunakan data dari salah satu operator telekomunikasi di Indonesia. Totalnya terdapat sekitar 8.500 site BTS yang tersebar di 20 kabupaten dan kota di tiga provinsi, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Setiap site sampel memiliki informasi tipe jaringan, mulai dari Pico, Mikro, Indoor Base Station, Makro, hingga Makro Hub. Dari keseluruhan data itu, hampir 78 persen site tercatat sebagai BTS makro.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa jenis BTS sangat berpengaruh terhadap kebutuhan energi. Semakin besar cakupan layanan yang dibutuhkan, semakin besar pula daya yang harus disiapkan operator.

Ia menilai proporsi BTS harus masuk dalam perhitungan agar model energi lebih akurat. Tanpa itu, hasil pemodelan tidak akan sepenuhnya merepresentasikan kondisi jaringan di Indonesia.

Validasi Sosial Ekonomi

Dr Mardi juga memasukkan faktor sosial ekonomi dalam validasi penelitiannya. Tiga indikator yang digunakan adalah kepadatan penduduk, development index, dan digital society index.

Menurutnya, ketiga faktor itu membantu menggambarkan kebutuhan jaringan secara lebih realistis. Daerah dengan karakter sosial ekonomi yang berbeda akan memiliki pola penggunaan layanan yang berbeda pula.

Ia menegaskan bahwa pemodelan energi jaringan harus mempertimbangkan dinamika masyarakat di setiap wilayah. Jika aspek tersebut diabaikan, hasil analisis tidak akan benar-benar mencerminkan kondisi lapangan.

Karena itu, operator dan peneliti perlu melihat BTS sebagai bagian dari sistem yang dipengaruhi banyak variabel. Pendekatan ini menjadi kunci untuk menyusun jaringan yang efisien, adaptif, dan sesuai kebutuhan daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!