Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Sarankan Tambahan Protein

Lifestyle Clara Monica 26 Mei 2026 03:12 WIB 3
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Sarankan Tambahan Protein

Olahan ubi dengan topping cream cheese tengah ramai dibicarakan di media sosial karena dinilai praktis dan menarik. Di tengah tren itu, dokter spesialis gizi klinik dr. Tjandraningrum, SpGK, mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya terpaku pada tampilan, tetapi juga komposisi gizinya.

Menurutnya, kombinasi karbohidrat dan lemak seperti ubi dengan cream cheese bukanlah hal baru. Namun, agar lebih seimbang, menu tersebut sebaiknya dipadukan dengan sumber protein lain sehingga kandungan gizinya lebih lengkap dan lebih bermanfaat bagi tubuh.

Ubi cream cheese dan gizi

Dr. Tjandraningrum menjelaskan bahwa ubi dan cream cheese pada dasarnya merupakan variasi menu sederhana. Polanya serupa dengan roti dan cream cheese yang lebih dulu populer sebagai camilan maupun sarapan. Dalam konteks gizi, keduanya sama-sama menempatkan karbohidrat sebagai komponen utama yang kemudian dipasangkan dengan lemak.

Meski begitu, ia menilai kombinasi tersebut belum cukup ideal bila hanya terdiri dari ubi dan cream cheese. Kandungan proteinnya cenderung rendah, sehingga menu itu belum memberikan keseimbangan zat gizi yang memadai. Kondisi ini membuat kebutuhan protein dalam satu kali makan belum terpenuhi dengan baik.

Menurut penjelasannya, protein penting untuk menjaga massa otot, memperbaiki jaringan tubuh, dan memberikan rasa kenyang lebih lama. Karena itu, makanan yang hanya mengandalkan karbohidrat dan lemak berpotensi membuat tubuh cepat kembali lapar. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini juga kurang optimal untuk mendukung kebutuhan harian.

Ia menyebut, satu porsi ubi dengan cream cheese hanya menyumbang sekitar 2 gram protein. Padahal, dalam sekali makan, tubuh umumnya membutuhkan sekitar 10 hingga 20 gram protein. Selisih yang cukup jauh ini membuat masyarakat perlu mencari tambahan sumber protein dari bahan pangan lain.

Tambahan protein untuk menu

Untuk membuat menu ubi lebih seimbang, dr. Tjandraningrum menyarankan penambahan bahan berprotein. Edamame, kacang-kacangan, atau telur dapat menjadi pilihan yang mudah ditemukan. Dengan begitu, sajian ubi tidak hanya mengandalkan rasa manis dan gurih, tetapi juga memiliki komposisi gizi yang lebih baik.

Ia menilai telur merupakan opsi yang baik karena mengandung protein dan lemak baik. Sementara itu, edamame dan kacang dapat membantu menambah asupan protein nabati. Kombinasi ini membuat menu lebih bervariasi dan cocok untuk dikonsumsi sebagai camilan maupun pengganti sarapan ringan.

Pilihan topping yang lebih sehat juga dapat membantu menekan dominasi lemak dan gula dalam menu viral tersebut. Jika masyarakat tetap ingin mengikuti tren, modifikasi menjadi langkah yang lebih bijak. Cara ini memungkinkan makanan tetap menarik tanpa mengorbankan nilai gizi.

Dengan tambahan protein, ubi dapat menjadi hidangan yang lebih mengenyangkan dan lebih seimbang. Kandungan karbohidratnya tetap memberi energi, sementara proteinnya membantu mendukung fungsi tubuh. Karena itu, perubahan kecil pada topping dapat membuat perbedaan besar pada kualitas asupan harian.

Protein dan gula darah

Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan bahwa konsumsi protein bersama makanan sumber karbohidrat dapat memperlambat pengosongan lambung. Proses ini membuat kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap. Hasil tersebut menjadi salah satu alasan mengapa komposisi makanan perlu diperhatikan.

Bagi masyarakat umum, pola makan yang lebih seimbang dapat membantu menjaga energi tetap stabil. Menu yang terlalu berat pada karbohidrat atau gula berisiko membuat rasa kenyang cepat hilang. Sebaliknya, tambahan protein dapat membantu tubuh merasa lebih puas setelah makan.

Dr. Tjandraningrum menegaskan bahwa pilihan topping tidak seharusnya hanya mengikuti tren. Masyarakat perlu menyesuaikannya dengan kebutuhan gizi, terutama bila menjadikan menu tersebut sebagai bagian dari konsumsi harian. Dengan cara itu, makanan viral tetap bisa dinikmati tanpa mengabaikan manfaat kesehatan.

Ia juga mengingatkan bahwa makanan sehat tidak selalu harus rumit. Penambahan protein sederhana, seperti telur rebus atau kacang, sudah cukup untuk memperbaiki kualitas menu. Langkah kecil semacam ini dapat menjadi kebiasaan baik dalam perencanaan makan sehari-hari.

Tren sehat di media sosial

Popularitas ubi cream cheese menunjukkan bagaimana media sosial dapat memengaruhi pilihan makanan masyarakat. Tren kuliner yang cepat menyebar sering kali membuat banyak orang mencoba menu baru tanpa meneliti kandungan gizinya terlebih dahulu. Karena itu, literasi gizi menjadi penting agar tren tidak sekadar mengikuti tampilan.

Di sisi lain, tren ini juga membuka peluang untuk mengenalkan modifikasi menu yang lebih sehat. Kreativitas dalam memilih topping dapat menghadirkan pilihan yang tetap lezat sekaligus bernilai gizi lebih baik. Hal tersebut sejalan dengan upaya mendorong pola makan yang lebih sadar dan terukur.

Menurut dr. Tjandraningrum, masyarakat tidak perlu menghindari menu viral sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memahami isi makanan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh. Dengan pendekatan tersebut, makanan populer tetap bisa menjadi bagian dari pola hidup sehat.

Pada akhirnya, ubi dengan cream cheese dapat dinikmati sebagai variasi menu, asalkan tidak berdiri sendiri. Penambahan protein menjadi kunci agar hidangan ini lebih seimbang dan mengenyangkan. Dengan pilihan yang tepat, tren kuliner dapat berubah menjadi kebiasaan makan yang lebih baik.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!