Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Soal Kalori

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 23:16 WIB 7
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Soal Kalori

Ubi cream cheese belakangan ramai diburu di pusat perbelanjaan dan media sosial, termasuk di sebuah mal di Kabupaten Tangerang pada Kamis, 14 Mei 2026. Antrean panjang terlihat ketika pengunjung rela menunggu untuk mendapatkan camilan yang sedang viral tersebut. Banyak orang menilai makanan ini lebih sehat karena berbahan dasar ubi, yang identik dengan pangan utuh. Namun, anggapan itu tidak selalu tepat jika topping yang digunakan tinggi gula dan lemak.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa status ubi sebagai bahan makanan sehat tidak otomatis membuat olahan ubi cream cheese menjadi sehat. Menurut dia, tambahan cream cheese dan topping manis dapat menaikkan total kalori secara signifikan. Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan porsi, komposisi, dan frekuensi konsumsi. Jika tidak, camilan yang dianggap ringan justru bisa menyumbang asupan berlebih dalam sehari.

Ubi Cream Cheese dan Kalori

Ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang juga mengandung serat. Kandungan ini membuat ubi kerap dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih baik dibanding dessert berbasis tepung olahan. Namun, nilai gizi bahan utama tidak bisa dipisahkan dari seluruh komponen sajian. Saat tambahan topping masuk dalam jumlah besar, profil gizinya ikut berubah.

Dr Raissa menjelaskan bahwa cream cheese merupakan komponen yang tinggi lemak dan dapat menambah beban kalori makanan. Dalam sajian yang tampak sederhana, kandungan energi bisa meningkat karena kombinasi ubi, krim, dan pemanis. Kondisi ini membuat makanan yang populer sebagai camilan sehat berpotensi setara dengan dessert lain. Karena itu, persepsi sehat semestinya tidak hanya didasarkan pada bahan dasar.

Ia menegaskan bahwa banyak orang tertipu oleh kesan alami dari ubi. Labelisasi informal seperti lebih sehat, lebih ringan, atau lebih aman sering muncul hanya karena bahan utamanya berasal dari umbi. Padahal, yang menentukan tetaplah total kalori, gula, dan lemak pada satu porsi. Jika porsi terlalu besar, manfaat ubi bisa tertutup oleh komposisi topping yang berlebihan.

Ubi Cream Cheese dan Topping

Tambahan topping menjadi faktor paling menentukan dalam perubahan nilai gizi ubi cream cheese. Cream cheese, susu kental manis, atau taburan manis lain dapat membuat makanan ini terasa lebih lezat, tetapi juga lebih padat energi. Dalam konteks gizi, rasa enak tidak selalu sejalan dengan pilihan yang lebih baik bagi tubuh. Konsumen perlu memahami bahwa cita rasa sering datang bersama tambahan kalori.

Menurut dr Raissa, masalah utama muncul ketika topping diberikan tanpa batas yang jelas. Sajian yang awalnya berbahan dasar ubi dapat berubah menjadi makanan tinggi lemak dan gula hanya karena komposisinya tidak dikendalikan. Hal ini penting diperhatikan, terutama bagi mereka yang sedang mengelola berat badan atau kadar gula darah. Kesadaran terhadap isi porsi menjadi kunci agar konsumsi tetap terkendali.

Ia juga mengingatkan bahwa makanan viral kerap memunculkan asumsi konsumsi yang wajar meski porsinya besar. Di lapangan, banyak pembeli cenderung memesan karena tren, bukan karena kebutuhan gizi. Pola seperti itu dapat membuat asupan harian melonjak tanpa disadari. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berdampak pada keseimbangan nutrisi jika tidak diimbangi pilihan makanan lain yang lebih sederhana.

Ubi Cream Cheese dan Persepsi Sehat

Popularitas ubi cream cheese menunjukkan bagaimana persepsi sehat bisa terbentuk dari tampilan dan bahan dasar makanan. Ubi sering dianggap sebagai real food, sehingga produk turunannya mendapat citra positif di mata konsumen. Namun, citra tersebut belum tentu mencerminkan kandungan akhir setelah ditambahkan berbagai bahan lain. Karena itu, penilaian sehat sebaiknya didasarkan pada keseluruhan resep, bukan satu komponen saja.

Dr Raissa menegaskan bahwa istilah sehat pada makanan harus dilihat secara proporsional. Makanan berbahan dasar ubi tetap bisa menjadi pilihan yang baik, selama pengolahan dan porsinya terkontrol. Sebaliknya, jika ditambah banyak krim dan gula, manfaat awal dari ubi dapat berkurang. Prinsip ini berlaku untuk berbagai makanan yang sedang tren di masyarakat.

Persepsi yang keliru sering muncul karena makanan viral dikaitkan dengan gaya hidup yang lebih baik. Padahal, tidak semua produk yang populer otomatis cocok dikonsumsi rutin. Konsumen disarankan lebih kritis membaca komposisi, terutama bila produk terlihat sederhana tetapi menggunakan banyak topping. Dengan begitu, pilihan yang diambil tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mempertimbangkan dampak gizinya.

Ubi Cream Cheese yang Bijak

Meski demikian, ubi cream cheese bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Makanan ini tetap bisa dinikmati sebagai camilan sesekali apabila porsinya dijaga. Kuncinya ada pada keseimbangan antara kenikmatan dan kendali asupan. Selama dikonsumsi tidak berlebihan, camilan ini masih dapat menjadi bagian dari pola makan yang fleksibel.

Ahli gizi menyarankan agar konsumen memperhatikan frekuensi konsumsi makanan manis yang sedang viral. Jika camilan seperti ini dikonsumsi terlalu sering, total kalori harian mudah melampaui kebutuhan tubuh. Risiko tersebut meningkat bila makanan lain dalam menu sehari-hari juga tinggi gula dan lemak. Karena itu, kontrol porsi menjadi langkah paling sederhana dan efektif.

Pilihan yang lebih bijak adalah menyesuaikan porsi dengan kebutuhan masing-masing orang. Konsumen juga dapat meminta topping lebih sedikit atau memilih varian yang tidak terlalu manis. Dengan cara itu, ubi tetap memberi manfaat sebagai sumber serat dan karbohidrat kompleks. Tren boleh diikuti, tetapi keseimbangan gizi tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!