Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 15:12 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan viral dan diburu pembeli di pusat perbelanjaan karena dianggap lebih sehat daripada dessert manis lain. Namun, di balik popularitasnya, dokter spesialis gizi klinik mengingatkan bahwa tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat membuat kandungan kalorinya melonjak.

Ubi memang dikenal sebagai bahan pangan yang mengandung karbohidrat kompleks dan serat, sehingga kerap dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih baik. Meski demikian, olahan ubi dengan cream cheese tidak otomatis menjadi camilan sehat jika dikonsumsi berlebihan atau dipadukan dengan topping manis lainnya.

Ubi Cream Cheese dan Persepsi Sehat

Ubi cream cheese ramai dibicarakan karena dinilai lebih dekat dengan bahan pangan alami dibanding dessert berbasis tepung olahan. Popularitas itu membuat banyak konsumen menganggapnya sebagai pilihan camilan yang lebih aman untuk dikonsumsi. Pandangan tersebut muncul karena ubi sering diasosiasikan dengan makanan yang lebih bergizi. Padahal, status sehat sebuah makanan tetap bergantung pada komposisi akhir dan porsi konsumsi.

Menurut dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, ubi memang termasuk bahan makanan yang sehat. Ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang bermanfaat bagi tubuh. Akan tetapi, manfaat itu bisa berubah ketika ubi diolah dengan tambahan bahan tinggi kalori. Karena itu, anggapan sehat perlu dilihat secara utuh, bukan hanya dari bahan dasar.

Ia menilai, kesan sehat pada ubi cream cheese muncul karena bahan utamanya adalah ubi. Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa aman untuk menjadikannya camilan harian. Setelah dipadukan dengan topping modern, produk ini tampak seperti dessert yang lebih bernutrisi. Namun, persepsi itu bisa menyesatkan bila tidak disertai pemahaman soal kandungan gizinya.

Topping Tinggi Lemak Jadi Sorotan

Tambahan cream cheese dan topping manis lainnya menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan total kalori, lemak, dan gula dalam satu porsi. Jika porsinya besar, camilan ini berpotensi menyumbang asupan energi yang cukup tinggi. Hal itu membuatnya tidak jauh berbeda dari dessert populer lain.

dr Raissa menjelaskan bahwa masyarakat sering terjebak pada label makanan sehat hanya karena bahan dasarnya dianggap lebih alami. Padahal, proses pengolahan dan tambahan topping bisa mengubah profil gizinya secara signifikan. Semakin banyak topping yang digunakan, semakin besar pula risiko kalori berlebih. Kondisi ini penting diperhatikan, terutama bagi orang yang sedang menjaga berat badan.

Ia menegaskan bahwa cream cheese bukan masalah jika dikonsumsi dalam batas wajar. Masalah muncul ketika konsumen menambahkan terlalu banyak topping dan menganggapnya bebas risiko. Dalam praktiknya, makanan seperti ini bisa saja menyumbang energi yang setara dengan dessert pada umumnya. Karena itu, keseimbangan porsi menjadi kunci utama.

Porsi Tetap Jadi Penentu

Konsumen disarankan tidak mengonsumsi ubi cream cheese secara berlebihan hanya karena dianggap lebih sehat. Makanan yang tampak bernutrisi tetap bisa menumpuk kalori bila dimakan tanpa kontrol. Selain itu, kandungan gula tambahan juga perlu diperhitungkan dalam pola makan harian. Kebiasaan ini penting agar asupan tetap seimbang.

Menurut dr Raissa, istilah sehat tidak boleh dipahami secara hitam putih. Sebuah makanan bisa mengandung bahan bergizi, tetapi tetap tinggi kalori jika diolah dengan komposisi yang kurang tepat. Karena itu, masyarakat perlu melihat ukuran saji, topping, dan frekuensi konsumsi. Pendekatan tersebut membantu mencegah salah persepsi dalam memilih camilan.

Ia juga mengingatkan bahwa makanan viral tidak selalu cocok dikonsumsi setiap hari. Sensasi tren sering membuat orang lupa memperhatikan kandungan sebenarnya. Jika ingin menikmatinya, sebaiknya dalam porsi kecil dan tidak berlebihan. Dengan begitu, camilan tetap bisa dinikmati tanpa mengganggu kebutuhan gizi harian.

Tren Makanan Perlu Literasi

Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bahwa tren kuliner mudah memengaruhi pilihan konsumen. Banyak orang tertarik mencoba karena tampilan dan persepsi sehat yang melekat pada produk tersebut. Namun, literasi gizi tetap dibutuhkan agar masyarakat tidak keliru menilai sebuah makanan. Pemahaman ini penting di tengah maraknya camilan viral di media sosial.

Para ahli gizi menilai, masyarakat perlu membiasakan diri membaca komposisi dan memahami cara pengolahan makanan. Informasi tersebut membantu menentukan apakah suatu produk layak dikonsumsi secara rutin atau hanya sesekali. Dengan cara itu, konsumen tidak semata mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya. Pola pikir ini juga mendukung kebiasaan makan yang lebih bijak.

Pada akhirnya, ubi cream cheese bisa menjadi camilan yang menyenangkan selama dikonsumsi dengan batas wajar. Bahan dasar ubi memang memiliki nilai gizi, tetapi topping tetap menentukan kualitas akhirnya. Masyarakat diimbau tidak mudah terkecoh oleh label sehat pada makanan viral. Sikap kritis terhadap kandungan gizi akan membantu menjaga pola makan tetap seimbang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!