Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Clara Monica 25 Mei 2026 01:12 WIB 6
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai diburu masyarakat di media sosial dan pusat perbelanjaan. Di sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Tangerang, antrean pembeli terlihat mengular untuk mendapatkan dessert ini pada Kamis, 14 Mei 2026.

Kepopulerannya muncul karena banyak orang menganggap ubi sebagai bahan pangan yang lebih sehat dibanding dessert manis lainnya. Meski begitu, dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu tepat jika topping yang digunakan tinggi lemak dan gula.

Ubi cream cheese dan anggapan sehat

Ubi cream cheese kerap dipersepsikan sebagai camilan yang lebih baik karena berbahan dasar ubi. Di mata sebagian konsumen, ubi identik dengan real food yang lebih alami dan menyehatkan. Persepsi itu membuat dessert ini cepat mendapat tempat di kalangan pencinta makanan viral.

Namun, dr Raissa menegaskan bahwa bahan utama yang sehat tidak otomatis menjadikan seluruh olahan sehat. Ia menjelaskan, ubi memang mengandung karbohidrat kompleks dan serat yang bermanfaat bagi tubuh. Akan tetapi, nilai gizi akhir sangat dipengaruhi oleh bahan tambahan yang digunakan.

Menurutnya, masyarakat perlu melihat komposisi secara utuh, bukan hanya terpaku pada bahan dasar. Saat ubi dipadukan dengan krim, gula, dan topping lain, profil gizinya bisa berubah cukup jauh. Kondisi itu membuat produk yang terlihat sederhana justru menjadi tinggi kalori.

Karena itu, kesan sehat pada dessert viral perlu disikapi dengan lebih cermat. Konsumen disarankan tidak langsung menganggap semua olahan berbasis ubi aman dimakan bebas. Pemahaman ini penting agar pilihan camilan tetap sejalan dengan kebutuhan gizi harian.

Topping krem dan gula berlebih

dr Raissa menyoroti tambahan cream cheese sebagai salah satu sumber lemak yang perlu diperhatikan. Bahan ini dapat membuat tekstur dessert lebih nikmat, tetapi juga meningkatkan kandungan energi makanan. Jika porsinya besar, beban kalori bisa naik cukup signifikan.

Selain cream cheese, topping manis lain juga dapat menambah kadar gula dalam satu porsi sajian. Kombinasi ini sering kali membuat camilan terasa lebih memanjakan lidah. Namun, rasa enak tersebut tidak selalu sejalan dengan prinsip makan seimbang.

Ia menyebut, semakin banyak topping yang ditambahkan, semakin tinggi pula kemungkinan total kalori meningkat. Hal itu membuat dessert berbahan ubi tidak lagi jauh berbeda dari makanan penutup lain pada umumnya. Perbedaannya hanya terletak pada bahan dasar yang terlihat lebih alami.

Karena itu, konsumen perlu memahami bahwa topping berlebihan dapat mengubah citra sehat pada makanan. Camilan yang semula tampak ringan bisa menjadi padat energi tanpa disadari. Kebiasaan seperti ini berpotensi mengganggu pengaturan asupan harian.

Risiko makan berlebihan

Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah anggapan bahwa makanan sehat boleh dimakan tanpa batas. dr Raissa mengingatkan, persepsi tersebut bisa mendorong konsumsi berlebihan. Akibatnya, asupan gula, lemak, dan kalori tetap tinggi meski bahan utamanya dianggap baik.

Ia menilai, kebiasaan makan berlebihan karena merasa aman dengan label sehat perlu dihindari. Banyak orang hanya melihat kata ubi, lalu mengabaikan bahan tambahan lain. Padahal, total energi yang masuk ke tubuh tetap harus dihitung.

Risiko ini semakin besar jika dessert viral dikonsumsi sebagai camilan rutin. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menyumbang kelebihan kalori harian. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat menyulitkan pengaturan berat badan.

Karena itu, porsi menjadi faktor penting saat menikmati ubi cream cheese. Menikmati sesekali masih bisa dilakukan, selama jumlahnya tidak berlebihan. Pendekatan seperti ini lebih aman dibanding menganggapnya bebas batas hanya karena berbahan ubi.

Bijak memilih camilan viral

Tren makanan viral memang mudah menarik perhatian karena tampilannya menarik dan rasanya menggoda. Ubi cream cheese menjadi salah satu contoh dessert yang cepat populer di kalangan pengunjung pusat belanja. Meski demikian, ketenaran tidak selalu identik dengan manfaat gizi yang lebih baik.

Pilihan camilan sebaiknya tetap mempertimbangkan kandungan nutrisi, bukan hanya popularitas. Konsumen dapat menilai apakah topping yang dipakai terlalu tinggi gula atau lemak. Dengan begitu, keputusan membeli menjadi lebih sadar dan terukur.

Jika ingin tetap menikmati dessert viral, porsi kecil bisa menjadi pilihan yang lebih aman. Cara ini membantu menjaga kenikmatan tanpa membuat asupan harian melonjak terlalu tinggi. Prinsip seimbang jauh lebih penting daripada mengikuti tren semata.

Pada akhirnya, ubi cream cheese tetap dapat dinikmati sebagai camilan sesekali. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa label berbahan ubi bukan jaminan otomatis sehat. Kesadaran membaca komposisi dan mengontrol porsi menjadi kunci utama.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!