Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 22:34 WIB 6
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese sedang menjadi camilan viral di media sosial dan pusat perbelanjaan, termasuk di Kabupaten Tangerang pada Kamis, 14 Mei 2026. Antrean pembeli terlihat mengular karena banyak orang ingin mencicipi sajian yang dianggap lebih sehat daripada dessert manis lainnya. Popularitasnya didorong oleh bahan dasar ubi yang dipersepsikan sebagai pangan utuh atau real food. Namun, penilaian sehat tidak otomatis berlaku jika olahan tersebut ditambah topping tinggi lemak dan gula.

Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa camilan berbasis ubi tetap perlu dilihat dari keseluruhan komposisinya. Menurut dia, tambahan cream cheese dan topping lain dapat menaikkan kalori secara signifikan. Karena itu, anggapan bahwa makanan viral ini pasti lebih sehat dibanding dessert lain perlu dikoreksi. Konsumsi berlebihan tetap berisiko jika tidak memperhatikan porsi dan kandungan gizinya.

Ubi cream cheese dan persepsi sehat

Ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks dan serat yang lebih baik dibanding sejumlah bahan olahan lain. Karena itu, banyak konsumen langsung menghubungkannya dengan makanan yang lebih sehat. Persepsi tersebut semakin kuat ketika ubi dijadikan dasar camilan modern yang tampak lebih alami. Padahal, status bahan utama tidak selalu menentukan kualitas gizi akhir.

Dalam praktiknya, makanan yang tampak sederhana bisa berubah menjadi dessert tinggi energi setelah dipadukan dengan saus, krim, atau taburan manis. Hal ini juga berlaku pada ubi cream cheese yang tengah populer di pasaran. Masyarakat kerap menilai makanan dari bahan dasarnya saja, tanpa menghitung tambahan lain. Akibatnya, pilihan yang dianggap aman justru bisa melampaui kebutuhan kalori harian.

dr Raissa menegaskan bahwa konsep sehat tidak boleh hanya bertumpu pada satu bahan utama. Penilaian harus mencakup jumlah gula, lemak, dan total porsi yang dikonsumsi. Bila topping digunakan berlebihan, manfaat ubi bisa tertutup oleh kandungan energi tambahan. Karena itu, edukasi gizi menjadi penting di tengah tren makanan viral.

Topping menentukan nilai gizi

Cream cheese merupakan bahan yang memberi rasa gurih dan tekstur lembut, tetapi juga membawa lemak dan kalori. Saat digunakan dalam jumlah besar, kandungan energinya dapat meningkat tajam. Kondisi itu membuat camilan yang semula dianggap ringan berubah menjadi dessert padat kalori. Konsumen sering tidak menyadari perubahan tersebut karena fokus pada rasa.

Selain cream cheese, topping manis lain seperti saus kental, gula tambahan, atau meses dapat memperburuk komposisi gizi. Kombinasi ini berpotensi meningkatkan asupan gula harian secara cepat. Jika dikonsumsi terlalu sering, risiko kelebihan kalori pun makin besar. Dalam jangka panjang, kebiasaan itu tidak sejalan dengan pola makan seimbang.

Ahli gizi menyarankan agar masyarakat lebih cermat membaca kandungan bahan pada makanan kekinian. Sajian berbasis ubi tetap bisa dinikmati, tetapi porsinya perlu dikendalikan. Pilihan topping yang lebih sederhana juga dapat membantu menekan kalori. Dengan begitu, camilan viral tidak langsung berubah menjadi sumber asupan berlebih.

Porsi kecil tetap perlu diperhatikan

Banyak orang merasa aman saat memilih makanan yang diberi label sehat atau berbahan dasar alami. Namun, label tersebut tidak menggantikan pentingnya pengaturan porsi. Ubi cream cheese tetap bisa menjadi camilan tinggi energi bila dimakan terlalu banyak. Karena itu, ukuran sajian menjadi faktor yang sama pentingnya dengan bahan.

dr Raissa menilai kebiasaan makan berlebihan sering muncul karena rasa aman yang keliru. Konsumen mengira makanan berbahan ubi bisa disantap tanpa batas. Padahal, total kalori, gula, dan lemak bisa setara dengan dessert lain pada umumnya. Kesadaran ini penting agar tren kuliner tidak menimbulkan salah kaprah.

Untuk menjaga keseimbangan, masyarakat disarankan menyesuaikan camilan dengan kebutuhan harian. Makanan manis sebaiknya tetap ditempatkan sebagai selingan, bukan pengganti makan utama. Selain itu, aktivitas fisik juga perlu diimbangi dengan asupan yang wajar. Pendekatan ini membantu menjaga berat badan dan kesehatan metabolik.

Tren viral dan edukasi gizi

Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bagaimana media sosial mampu membentuk selera dan perilaku konsumsi masyarakat. Produk yang tampil menarik, mudah dibagikan, dan dianggap unik cenderung cepat naik daun. Antrean panjang di pusat perbelanjaan memperlihatkan besarnya minat terhadap tren tersebut. Meski demikian, popularitas tidak selalu identik dengan manfaat kesehatan.

Di tengah arus makanan viral, edukasi gizi menjadi kunci agar konsumen tidak terjebak pada klaim yang menyesatkan. Informasi mengenai kandungan kalori, gula, dan lemak perlu lebih sering disampaikan secara sederhana. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat menikmati tren kuliner tanpa berlebihan. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kenikmatan dan kesehatan.

Ubi cream cheese pada dasarnya masih dapat menjadi pilihan camilan, selama dikonsumsi dengan bijak. Ubi memberi nilai tambah dari sisi serat dan karbohidrat kompleks, tetapi topping menentukan akhir profil gizinya. Masyarakat perlu membedakan antara makanan yang terlihat sehat dan yang benar-benar sesuai kebutuhan. Sikap cermat akan membantu menekan risiko konsumsi kalori berlebih dari makanan viral.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!