BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telko

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 26 Mei 2026 09:41 WIB 2
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telko

Badan Riset dan Inovasi Nasional, atau BRIN, menilai pendapatan operator telekomunikasi di Indonesia mulai mengalami saturasi. Kondisi ini mendorong pelaku industri mencari sumber efisiensi baru, terutama dari sisi biaya energi dan pemanfaatan energi terbarukan. Temuan tersebut disampaikan dalam webinar bertema kajian kebutuhan energi jaringan telekomunikasi selular di Indonesia, Rabu, 20 Mei 2026. Dalam forum itu, BRIN menekankan bahwa langkah efisiensi menjadi semakin penting ketika pertumbuhan pendapatan melambat.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menyebut analisis PricewaterhouseCoopers menunjukkan pertumbuhan revenue industri telekomunikasi hanya 1,2 persen pada periode 2021 hingga proyeksi 2032. Menurut dia, operator perlu agresif menggenjot penjualan melalui paket layanan yang lebih menarik, karena layanan lama seperti telepon dan SMS sudah makin minim digunakan. Di sisi lain, biaya energi juga harus ditekan agar margin usaha tetap terjaga. Salah satu jalan yang dinilai paling potensial adalah penggunaan energi hijau pada jaringan telekomunikasi.

Energi Terbarukan Operator Telko

Dr Mardi menilai energy cost saving terbesar dapat diperoleh jika operator mulai membeli atau membangun green energy untuk jaringan mereka. Opsi yang disebutkan mencakup solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, dan sumber energi lain yang disesuaikan dengan karakteristik site. Pendekatan ini dinilai relevan karena kebutuhan daya jaringan terus meningkat seiring pertumbuhan trafik data. Dengan strategi tersebut, operator tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memperkuat citra keberlanjutan.

Ia menjelaskan bahwa biaya energi menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya operasional operator telekomunikasi. Dari porsi itu, sekitar 90 persen dialokasikan untuk pembelian bahan bakar dan listrik. Artinya, ruang efisiensi dari sektor energi masih sangat besar jika dikelola secara tepat. Dalam situasi revenue yang melandai, penghematan biaya menjadi penopang penting bagi kesehatan bisnis perusahaan.

Selain itu, energi terbarukan dinilai selaras dengan kebutuhan operasional jangka panjang industri telekomunikasi. Infrastruktur jaringan membutuhkan pasokan listrik yang andal, efisien, dan berkelanjutan. Pemanfaatan sumber energi lokal juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada pasokan bahan bakar fosil. Bagi operator, kombinasi ini dapat menjadi strategi untuk menjaga stabilitas layanan dan biaya.

BRIN menekankan bahwa transisi energi di sektor telekomunikasi bukan lagi sekadar wacana teknologi. Dorongan pasar, tekanan biaya, dan tuntutan keberlanjutan membuat opsi ini semakin relevan. Namun, implementasinya tetap memerlukan perhitungan bisnis yang matang agar sesuai dengan kondisi setiap wilayah. Dengan demikian, energi terbarukan dapat menjadi bagian dari strategi korporasi, bukan hanya proyek percobaan.

Efisiensi Biaya Energi

McKinsey, sebagaimana dikutip Dr Mardi, mencatat ada empat pendorong utama efisiensi biaya energi di industri. Empat pendorong tersebut adalah keterjangkauan biaya, pengurangan emisi, keandalan pasokan, dan daya saing industri. Keempatnya menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan energi perusahaan. Dalam konteks operator, efisiensi bukan hanya soal penghematan, tetapi juga keberlangsungan bisnis.

Keterjangkauan biaya menjadi perhatian utama karena energi adalah komponen besar dalam struktur belanja operasional. Jika biaya listrik dan bahan bakar terus meningkat, beban perusahaan akan semakin berat. Kondisi itu dapat menekan ruang investasi untuk pengembangan jaringan baru. Karena itu, setiap peluang penghematan dari sisi energi dinilai sangat strategis.

Pengurangan emisi juga menjadi pertimbangan yang kian penting bagi industri telekomunikasi. Banyak perusahaan kini dituntut memiliki kebijakan keberlanjutan yang lebih jelas dan terukur. Pemakaian energi bersih dapat membantu operator menekan jejak karbon dari operasional jaringan. Pada saat yang sama, langkah ini dapat memperkuat posisi perusahaan di mata investor dan pelanggan.

Keandalan pasokan dan daya saing industri menjadi faktor lain yang tidak kalah penting. Jaringan telekomunikasi harus tetap menyala dalam berbagai kondisi, termasuk di lokasi yang sulit dijangkau. Energi terbarukan yang dirancang sesuai kebutuhan site dapat membantu menjaga kontinuitas layanan. Jika dijalankan dengan baik, efisiensi energi bisa menjadi keunggulan kompetitif yang nyata.

Hambatan Implementasi Di Lapangan

Meski potensinya besar, implementasi renewable energy di jaringan telekomunikasi Indonesia belum berjalan luas. Dr Mardi mempertanyakan mengapa operator masih belum menerapkannya secara menyeluruh, padahal riset terkait topik ini sudah dimulai sejak 2010. Ia mengingat bahwa Telkom Indonesia pernah menjalankan pilot project instalasi energi terbarukan di Kalimantan dan Sumatera. Fakta itu menunjukkan bahwa fondasi awal sebenarnya sudah tersedia sejak lama.

Menurut dia, keberadaan pilot project seharusnya menjadi pintu masuk bagi adopsi yang lebih luas. Namun, hingga hampir 15 tahun berlalu, implementasi tersebut belum terlihat masif di seluruh jaringan. Hal ini mengindikasikan adanya hambatan atau barrier dari sisi operator. Hambatan tersebut bisa berkaitan dengan biaya awal, kesiapan teknologi, maupun model bisnis yang belum sepenuhnya mendukung.

Di lapangan, setiap site jaringan memiliki kebutuhan dan profil energi yang berbeda. Karena itu, penerapan sumber energi terbarukan tidak bisa disamaratakan. Operator perlu menyesuaikan desain sistem dengan kondisi geografis, akses infrastruktur, dan kebutuhan beban listrik. Pendekatan yang tepat akan menentukan seberapa besar efisiensi yang bisa diperoleh.

BRIN menilai tantangan utama bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada keseriusan adopsi di tingkat industri. Jika hambatan tersebut dapat diatasi, energi terbarukan berpotensi menjadi solusi jangka panjang bagi operator. Selain mengurangi biaya, langkah ini dapat membantu industri menghadapi tekanan revenue yang makin terbatas. Dengan demikian, transisi energi dapat menjadi bagian dari transformasi bisnis telekomunikasi di Indonesia.

Masa Depan Jaringan Telekomunikasi

Ke depan, operator telekomunikasi diperkirakan harus mengandalkan kombinasi strategi pendapatan dan efisiensi biaya. Paket layanan yang lebih menarik tetap dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan penjualan. Namun, pengelolaan biaya energi yang lebih cermat juga menjadi kunci untuk mempertahankan profitabilitas. Kedua strategi ini perlu berjalan beriringan agar bisnis tetap kompetitif.

Energi terbarukan dapat menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi itu. Dengan memanfaatkan sumber daya seperti surya, angin, atau micro hydro, operator bisa menyesuaikan pasokan energi dengan kebutuhan site. Langkah ini juga mendukung agenda pengurangan emisi yang semakin mendapat perhatian luas. Dalam jangka panjang, strategi tersebut dapat membantu menciptakan operasi jaringan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

BRIN menilai industri telekomunikasi Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat adopsi energi hijau. Potensi penghematan biaya, penguatan keandalan, dan peningkatan daya saing menjadi alasan yang kuat. Meski demikian, keberhasilan implementasi tetap bergantung pada komitmen operator dan dukungan kebijakan. Tanpa langkah konkret, peluang efisiensi itu berisiko tetap menjadi wacana.

Dalam situasi pasar yang makin ketat, operator dituntut mencari terobosan yang tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga masa depan. Energi terbarukan menawarkan jawaban atas tekanan biaya sekaligus tuntutan keberlanjutan. Jika diterapkan secara konsisten, sektor telekomunikasi dapat memperoleh manfaat bisnis dan lingkungan sekaligus. Inilah yang menjadikan isu energi kini semakin strategis bagi industri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!