Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Batas Konsumsi

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 05:11 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Ahli Gizi Ingatkan Batas Konsumsi

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai diburu di pusat perbelanjaan dan media sosial. Di sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Tangerang, antrean pembeli terlihat mengular pada Kamis, 14 Mei 2026, karena tingginya minat terhadap dessert tersebut.

Popularitasnya tidak lepas dari anggapan bahwa ubi cream cheese lebih sehat dibanding dessert manis lain. Namun, dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa status “berbahan ubi” tidak otomatis membuatnya sehat bila topping yang digunakan tinggi lemak dan gula.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Ubi pada dasarnya merupakan bahan pangan yang mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Karena itu, ubi kerap dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih baik dibanding olahan berbasis tepung atau roti. Persepsi tersebut kemudian ikut menempel pada ubi cream cheese yang sedang tren. Padahal, nilai gizi akhir sangat dipengaruhi oleh komposisi keseluruhan.

Menurut dr Raissa, masyarakat sering kali hanya melihat bahan utama tanpa memperhatikan tambahan lain. Ia menilai, ketika ubi dipadukan dengan topping yang kaya lemak, kualitas sehatnya bisa berubah. Konsumsi yang tampak ringan juga bisa menyumbang energi lebih besar dari perkiraan. Kondisi ini membuat camilan tersebut tidak selalu lebih baik dari dessert lain.

Ubi memang dapat menjadi sumber energi yang baik untuk tubuh. Serat di dalamnya juga membantu memberi rasa kenyang lebih lama. Meski begitu, manfaat tersebut bisa berkurang jika disandingkan dengan saus manis dan krim berlebihan. Karena itu, cara penyajian tetap menjadi faktor penting.

Di tengah tren makanan kekinian, masyarakat perlu lebih cermat membaca kandungan gizi. Label “real food” tidak cukup bila porsi dan topping tidak terkontrol. Ubi cream cheese tetap dapat dinikmati, tetapi sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk makan berlebihan. Kesadaran terhadap komposisi menjadi kunci agar pilihan camilan tetap seimbang.

Topping Tinggi Kalori

Tambahan cream cheese menjadi perhatian utama dalam camilan ini. Bahan tersebut umumnya mengandung lemak cukup tinggi dan dapat meningkatkan total kalori. Jika dipadukan dengan gula tambahan, beban energinya semakin besar. Akibatnya, camilan yang terlihat sederhana bisa berubah menjadi makanan padat kalori.

Dr Raissa menjelaskan bahwa topping berlebihan dapat menggeser citra sehat ubi cream cheese. Ia menekankan, kandungan lemak dan gula dari topping bisa mendominasi profil gizinya. Dalam kondisi tertentu, satu porsi bisa setara dengan dessert manis lain. Hal ini sering tidak disadari oleh pembeli.

Porsi yang besar juga membuat konsumsi kalori menjadi lebih tinggi. Banyak orang merasa aman karena bahan utamanya ubi, padahal jumlah cream cheese dan pemanis dapat menentukan hasil akhirnya. Risiko ini semakin besar saat camilan dikonsumsi bersama makanan manis lain. Kebiasaan tersebut dapat menambah asupan energi harian secara signifikan.

Karena itu, konsumen disarankan untuk memperhatikan ukuran porsi dan frekuensi konsumsi. Sesekali menikmati ubi cream cheese masih dapat diterima selama tidak berlebihan. Pilihan topping yang lebih sederhana juga bisa membantu menekan kalori. Dengan begitu, camilan tetap enak tanpa menyalahi kebutuhan gizi harian.

Anggapan Sehat Perlu Dikoreksi

Fenomena makanan viral sering kali menciptakan kesan bahwa suatu hidangan lebih baik dari yang lain. Ubi cream cheese menjadi salah satu contoh ketika bahan tradisional dipadukan dengan tampilan kekinian. Banyak konsumen lalu menganggapnya sebagai alternatif snack sehat. Anggapan tersebut perlu dilihat secara lebih kritis.

Dr Raissa menilai, label sehat pada makanan tidak boleh hanya bertumpu pada satu bahan. Menurutnya, total kalori, gula, dan lemak justru menjadi pertimbangan utama. Bila jumlahnya tinggi, efeknya bisa mirip dengan dessert pada umumnya. Karena itu, informasi nutrisi perlu dipahami sebelum membeli.

Kecenderungan makan berlebihan juga kerap muncul saat seseorang merasa aman karena mengira makanannya sehat. Padahal, rasa aman yang berlebihan justru dapat mendorong konsumsi porsi lebih besar. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini tidak menguntungkan pola makan seimbang. Pengendalian diri tetap menjadi aspek penting.

Kesadaran masyarakat dalam memilih camilan sangat dibutuhkan di tengah tren makanan viral. Edukasi gizi dapat membantu publik memahami bahwa sehat tidak selalu identik dengan tampilan bahan dasarnya. Ubi cream cheese masih bisa dinikmati sebagai variasi, namun tetap harus proporsional. Pendekatan ini lebih selaras dengan pola makan sehat.

Bijak Menikmati Camilan Viral

Menikmati ubi cream cheese bukan berarti harus menghindarinya sama sekali. Yang perlu dijaga adalah porsi, frekuensi, dan pilihan topping yang digunakan. Jika dikonsumsi sesekali, camilan ini masih bisa masuk dalam pola makan sehari-hari. Namun, pengaturan tetap diperlukan agar asupan tidak berlebihan.

Masyarakat juga dapat membandingkan kandungan kalori dengan dessert lain sebelum membeli. Langkah sederhana ini membantu membuat keputusan yang lebih rasional. Jangan hanya tergoda oleh antrean panjang atau popularitas di media sosial. Pilihan yang tepat sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, bukan sekadar tren.

Untuk konsumen yang ingin mengurangi risiko kalori berlebih, memilih porsi kecil bisa menjadi solusi. Mengurangi topping manis dan krim juga dapat menekan beban gula serta lemak. Dengan demikian, cita rasa tetap ada tanpa menumpuk energi berlebih. Kebiasaan kecil ini bisa memberi dampak besar bagi pola makan.

Pada akhirnya, ubi cream cheese tetap merupakan camilan yang perlu dinikmati dengan bijak. Tren boleh berubah, tetapi prinsip gizi seimbang tidak seharusnya diabaikan. Setiap makanan, termasuk yang terlihat sehat, tetap perlu dilihat dari komposisi keseluruhannya. Itulah cara paling aman untuk menikmati makanan viral tanpa berlebihan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!