Ubi Cream Cheese Dinilai Kurang Protein, Ini Saran Dokter

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 13:58 WIB 7
Ubi Cream Cheese Dinilai Kurang Protein, Ini Saran Dokter

Olahan ubi dengan topping cream cheese tengah ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap lezat dan praktis. Namun, dari sisi gizi, dokter mengingatkan bahwa menu ini masih kurang seimbang bila hanya mengandalkan karbohidrat dan lemak.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa kombinasi ubi dan cream cheese bukanlah hal baru dalam dunia kuliner. Menurutnya, masyarakat perlu menambahkan sumber protein agar sajian tersebut lebih lengkap dan tidak sekadar mengikuti tren.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Menurut dr Tjandraningrum, ubi dengan cream cheese pada dasarnya merupakan variasi menu karbohidrat dan lemak. Kombinasi seperti ini sudah lama dikenal, hanya saja sebelumnya lebih sering diterapkan pada roti.

Ia menilai tren ubi dengan cream cheese muncul karena tampilannya menarik dan mudah disesuaikan dengan selera. Meski demikian, popularitas suatu makanan tidak selalu sejalan dengan keseimbangan gizinya.

Dalam satu sajian, ubi memang memberi energi dari karbohidrat. Sementara itu, cream cheese menambahkan rasa gurih dan tekstur lembut yang membuat menu ini digemari banyak orang.

Meski begitu, komposisi dasar tersebut belum tentu mencukupi kebutuhan zat gizi harian. Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya melihat tren, tetapi juga memperhatikan kandungan nutrisinya.

Protein Perlu Ditambahkan

Dr Tjandraningrum menegaskan bahwa olahan ubi dan cream cheese cenderung rendah protein jika tidak ditambah bahan lain. Kondisi ini membuat menu tersebut kurang ideal bila dijadikan satu-satunya pilihan makan.

Protein dibutuhkan untuk membantu menjaga massa otot, memperbaiki jaringan tubuh, dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Tanpa protein yang cukup, sajian ini hanya berfokus pada energi dari karbohidrat dan lemak.

Ia menyebut kebutuhan protein dalam sekali makan umumnya sekitar 10 hingga 20 gram. Sementara itu, ubi dengan cream cheese saja diperkirakan hanya menyumbang sekitar 2 gram protein.

Selisih itu menunjukkan perlunya penambahan bahan lain agar komposisi menu lebih seimbang. Dengan begitu, makanan tidak hanya enak, tetapi juga mendukung kebutuhan gizi tubuh.

Penambah Protein yang Disarankan

Untuk melengkapi sajian ubi, dr Tjandraningrum menyarankan bahan tambahan yang mengandung protein. Pilihan yang bisa digunakan antara lain edamame, kacang, atau telur.

Edamame dan kacang dapat menjadi pelengkap yang praktis sekaligus menambah kandungan protein nabati. Sementara itu, telur juga memberikan protein dan lemak baik yang dibutuhkan tubuh.

Penambahan topping ini dinilai membantu membuat menu lebih seimbang tanpa menghilangkan cita rasa yang disukai masyarakat. Selain itu, variasi tersebut tetap mudah diterapkan dalam menu harian.

Dengan memilih pelengkap yang tepat, ubi bisa menjadi makanan yang lebih bernilai gizi. Hal ini penting bagi mereka yang ingin mengikuti tren tanpa mengabaikan kesehatan.

Protein dan Gula Darah

Temuan dalam jurnal Diabetes Care menunjukkan konsumsi protein bersama makanan sumber karbohidrat dapat membantu memperlambat pengosongan lambung. Dampaknya, kenaikan gula darah setelah makan dapat berlangsung lebih bertahap.

Karena itu, kombinasi karbohidrat dan protein dinilai lebih seimbang dibanding hanya mengonsumsi karbohidrat dengan topping tinggi lemak atau gula. Pola ini juga dapat membantu tubuh merasa lebih kenyang dalam waktu lebih lama.

Dr Tjandraningrum menilai pilihan makanan yang seimbang dapat membantu masyarakat menjaga kualitas asupan harian. Prinsipnya bukan menghindari makanan kekinian, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh.

Dengan tambahan protein yang cukup, olahan ubi bisa menjadi menu yang lebih sehat dan fungsional. Tren kuliner pun tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan aspek gizi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!