Tiwi Nurhasanah Sukses Kembangkan Usaha Madu Lokal

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 21:14 WIB 6
Tiwi Nurhasanah Sukses Kembangkan Usaha Madu Lokal

Tiwi Nurhasanah, perempuan asal Garut, membuktikan bahwa usaha kecil dapat menjadi sumber perubahan besar bagi keluarga dan masyarakat. Melalui budidaya lebah yang ia kembangkan dengan nama Rumah Madu Simpul Hati, ia kini mampu menguliahkan tiga anaknya hingga jenjang tinggi. Dari madu mentah, produk olahan, hingga turunan seperti propolis, royal jelly, dan bee pollen, usahanya terus tumbuh di pasar. Keberhasilannya juga ditopang pembinaan UMKM yang membuka akses pelatihan, mentoring, sertifikasi, dan jejaring riset.

Bagi Tiwi, lebah bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan sumber manfaat yang lebih luas bagi kehidupan. Ia ingin masyarakat Indonesia semakin mengenal kekayaan lebah Nusantara dan tidak lagi memandang madu impor sebagai pilihan utama. Dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan turut memperkuat langkahnya dalam mengembangkan usaha. Dari Garut, kisahnya menjadi contoh bahwa produk lokal mampu bersaing jika dibina secara tepat.

Usaha Dari Lebah

Tiwi memulai budidaya lebah dari langkah sederhana, lalu mengembangkannya menjadi usaha yang lebih terstruktur. Rumah Madu Simpul Hati kini dikenal sebagai penghasil madu mentah dan berbagai produk turunan. Produk yang dijual tidak hanya diminati konsumen umum, tetapi juga memiliki pasar khusus untuk kebutuhan kesehatan. Pertumbuhan itu menunjukkan bahwa komoditas lokal dapat bernilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan serius.

Dalam menjalankan usahanya, Tiwi tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan. Ia membina kelompok-kelompok tani madu di berbagai daerah agar manfaat usaha lebah dapat meluas. Pendekatan tersebut membuat ekosistem madu lokal berkembang lebih sehat dan terhubung antarwilayah. Keberadaan kelompok binaan juga membantu meningkatkan kapasitas peternak lain.

Tiwi menilai lebah memiliki potensi besar sebagai sumber bahan pangan dan bahan kesehatan. Ia percaya produk berbasis lebah dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat. Karena itu, ia terus memperkenalkan madu dan turunannya sebagai produk alami yang layak dipercaya. Menurutnya, edukasi menjadi kunci agar konsumen lebih menghargai produk dalam negeri.

Dukungan Pembinaan

Perkembangan Rumah Madu Simpul Hati tidak lepas dari pembinaan UMKM yang diberikan Pertamina. Program tersebut mencakup pelatihan, pendampingan usaha, hingga sertifikasi untuk memperkuat daya saing pelaku usaha. Dukungan ini membantu Tiwi memperbaiki tata kelola bisnis dan memperluas jangkauan pasar. Dengan bekal itu, usaha yang dirintisnya menjadi lebih siap menghadapi persaingan.

Pertamina juga mendorong penguatan kolaborasi antara pelaku usaha dan kalangan akademik. Tempat usaha Tiwi kini kerap menjadi lokasi penelitian mahasiswa farmasi dari berbagai universitas di Indonesia. Kehadiran para peneliti memberi nilai tambah bagi pengembangan produk lebah. Sinergi tersebut membuka ruang inovasi yang lebih luas bagi UMKM berbasis sumber daya alam.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menyebut pengembangan UMKM merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Menurut dia, dukungan tersebut diarahkan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui sektor kreatif. Ia menilai UMKM yang mandiri dan mampu menggandeng wirausahawan sekitar akan memberi manfaat lebih besar. Karena itu, pembinaan tidak hanya ditujukan untuk usaha, tetapi juga untuk penguatan ekosistem ekonomi lokal.

Manfaat Bagi Keluarga

Keberhasilan usaha madu membawa dampak langsung bagi kehidupan keluarga Tiwi. Dari hasil penjualan produk lebah, ia dapat membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga perguruan tinggi. Anak pertama dan kedua kini sudah menempuh pendidikan S2, sedangkan anak ketiga tengah menempuh S1. Kondisi itu menjadi pencapaian yang sangat berarti bagi Tiwi dan suaminya.

Tiwi mengaku dirinya dan sang suami hanya lulusan SMA, sehingga perubahan ini menjadi kebanggaan tersendiri. Ia menyebut keberhasilan menguliahkan anak-anak sebagai hadiah terbesar dari kerja keras yang dijalankan bertahun-tahun. Menurutnya, usaha madu telah mengangkat kondisi ekonomi keluarga secara nyata. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa bisnis kecil dapat menciptakan mobilitas sosial.

Bagi Tiwi, pencapaian finansial bukan satu-satunya tujuan dari usaha yang ia bangun. Ia merasa lebih bahagia karena bisnisnya memberi kesempatan anak-anaknya meraih pendidikan lebih tinggi. Ia berharap kisah keluarganya dapat menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lain untuk terus bertahan. Dari lebah, ia menemukan jalan untuk memperbaiki masa depan keluarga.

Harapan Produk Lokal

Tiwi berharap masyarakat Indonesia semakin mencintai produk dalam negeri, terutama yang berasal dari kekayaan alam. Ia menilai kualitas produk lokal tidak kalah bersaing dengan produk impor jika dikelola dengan baik. Menurutnya, masyarakat perlu lebih terbuka terhadap madu dan turunannya yang diproduksi di tanah air. Edukasi konsumen menjadi bagian penting dari upaya membangun kepercayaan tersebut.

Ia juga memiliki mimpi untuk menghadirkan pabrik kosmetik atau produk kesehatan berbasis lebah Nusantara. Harapan itu lahir dari keyakinannya bahwa sumber daya alam Indonesia menyimpan potensi besar. Tiwi ingin produk lebah lokal tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan begitu, manfaat ekonomi bisa dirasakan lebih luas.

Kisah Tiwi menunjukkan bahwa UMKM dapat tumbuh kuat ketika didukung pembinaan yang tepat dan semangat untuk terus belajar. Dari usaha lebah, ia tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga memperluas manfaat bagi keluarga, petani binaan, dan peneliti. Dukungan perusahaan, kerja keras pelaku usaha, serta kepercayaan pada produk lokal menjadi kombinasi penting dalam pertumbuhan tersebut. Dari Garut, ia menghadirkan pesan bahwa rezeki bisa datang dari hal yang tampak sederhana.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!