Tempe Naik Kelas Jadi Produk Premium Global

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 11:13 WIB 6
Tempe Naik Kelas Jadi Produk Premium Global

Tempe, makanan berbahan dasar kedelai yang lekat dengan meja makan masyarakat Indonesia, kini mendapat tempat istimewa di pasar global. Dari dapur rumahan hingga restoran modern, tempe semakin dikenal sebagai pangan bernilai gizi tinggi, berkelanjutan, dan sarat identitas budaya.

Perubahan persepsi itu terlihat jelas dari meningkatnya apresiasi di luar negeri, sementara di Indonesia tempe masih kerap dipandang sebagai lauk sederhana. Para pegiat pangan menilai, kondisi tersebut menunjukkan ironi nilai, karena produk lokal ini justru diposisikan sebagai pangan eksotis dan premium di mancanegara.

Tempe dan citra baru

Selama bertahun-tahun, tempe identik dengan makanan murah yang mudah dijumpai di rumah tangga Indonesia. Pandangan itu perlahan berubah ketika publik global mulai melihat potensi gizi dan keberlanjutan dari pangan fermentasi ini.

Pegiat fermentasi pangan, Wida Winarno, menjelaskan bahwa perubahan persepsi tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia menyebut, pada awal promosi tempe, masih banyak masyarakat yang belum menyadari nilai penting makanan khas Indonesia itu.

Menurut Wida, tempe sempat dipandang sebagai sesuatu yang rendah dan kelas dua di negeri sendiri. Namun, setelah sekitar satu dekade, apresiasi terhadap tempe justru tumbuh pesat di luar negeri dan mendorong perubahan citra produk ini.

Pasar tempe terus tumbuh

Minat global terhadap tempe ikut tercermin dalam pertumbuhan pasar yang cukup signifikan. Dikutip dari Grand View Research, nilai pasar tempe dunia mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada 2023 dan diproyeksikan naik menjadi US$ 7,6 miliar pada 2030.

Riset lain yang dipublikasikan melalui GlobeNewswire juga menunjukkan tren serupa. Nilai pasar tempe global pada 2024 diperkirakan berada di kisaran US$ 4,7 miliar dan masih berpotensi meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya minat terhadap pola makan berbasis nabati atau plant-based diet. Selain itu, kesadaran konsumen dunia terhadap pangan sehat dan berkelanjutan turut memperkuat posisi tempe di pasar internasional.

Tempe di pasar internasional

Kini tempe telah diproduksi di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Perluasan produksi ini menunjukkan bahwa tempe tidak lagi dipandang sekadar makanan tradisional dari Indonesia.

Di pasar internasional, tempe mulai diposisikan sebagai sumber protein nabati premium dengan nilai jual lebih tinggi. Citra tersebut berbeda jauh dari persepsi di tanah air, di mana tempe masih sering dianggap sebagai lauk harian yang sederhana.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana produk lokal dapat memperoleh nilai baru ketika masuk ke pasar global. Tempe pun menjadi contoh nyata bahwa pangan tradisional dapat bersaing dalam tren konsumsi modern yang menekankan kualitas, gizi, dan keberlanjutan.

Potensi tempe bagi Indonesia

Perubahan pandangan dunia terhadap tempe membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara asalnya. Peluang itu tidak hanya terkait ekspor, tetapi juga pengembangan inovasi produk olahan berbasis tempe.

Jika dikelola dengan strategi yang tepat, tempe dapat menjadi komoditas bernilai tambah tinggi di pasar global. Kondisi ini sekaligus mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan mutu produksi, pengemasan, dan standar distribusi.

Di sisi lain, apresiasi internasional terhadap tempe seharusnya menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia untuk kembali menghargai pangan lokal. Dari makanan sederhana, tempe kini menjelma menjadi simbol tradisi yang mampu menjawab kebutuhan pangan masa depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!