Tempe Naik Kelas di Pasar Global, Dilirik Dunia

Lifestyle Nadia Safira Putri 23 Mei 2026 00:58 WIB 6
Tempe Naik Kelas di Pasar Global, Dilirik Dunia

Tempe, pangan berbahan dasar kedelai yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia, kini mendapat sorotan besar di pasar global. Dari makanan rumahan yang sederhana, tempe berkembang menjadi produk bernilai tinggi di mata dunia karena dianggap sehat, berkelanjutan, dan kaya gizi.

Perubahan persepsi itu terlihat dari meningkatnya produksi tempe di sejumlah negara, mulai dari Amerika Serikat, Belanda, hingga Jepang. Di saat harganya tetap relatif murah di Indonesia, tempe justru diposisikan sebagai produk protein nabati premium di pasar internasional.

Tempe dan Citra Baru Global

Selama bertahun-tahun, tempe kerap dipandang sebagai lauk sederhana yang identik dengan harga murah. Pandangan itu membuat nilai budaya dan gizinya sering luput dari perhatian masyarakat di tanah air.

Namun, keadaan mulai berubah ketika promosi pangan fermentasi semakin gencar dilakukan. Sejumlah pegiat menilai tempe memiliki potensi besar sebagai simbol kuliner Indonesia yang relevan dengan tren konsumsi modern.

Wida Winarno menjelaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap tempe tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia menilai, upaya edukasi selama bertahun-tahun akhirnya membuat publik luar negeri lebih menghargai tempe dibandingkan sebagian masyarakat Indonesia sendiri.

Pasar Tempe Makin Menjanjikan

Data pasar menunjukkan tempe memiliki pertumbuhan yang menjanjikan secara global. Mengutip Grand View Research, nilai pasar tempe dunia mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada 2023 dan diproyeksikan naik menjadi US$ 7,6 miliar pada 2030.

Laporan lain yang dipublikasikan melalui GlobeNewswire menempatkan nilai pasar tempe global di kisaran US$ 4,7 miliar pada 2024. Angka tersebut menguatkan pandangan bahwa tempe bukan lagi sekadar pangan lokal, melainkan komoditas yang memiliki daya tarik bisnis.

Pertumbuhan pasar itu didorong oleh meningkatnya minat terhadap pola makan berbasis nabati. Kesadaran akan pentingnya makanan sehat dan berkelanjutan juga ikut mendorong permintaan tempe di berbagai negara.

Tren Konsumsi Nabati

Perubahan gaya hidup masyarakat dunia menjadi salah satu faktor utama yang menguntungkan tempe. Banyak konsumen kini mencari sumber protein nabati yang sehat, praktis, dan ramah lingkungan.

Dalam konteks itu, tempe memiliki keunggulan karena proses fermentasinya menghasilkan tekstur dan cita rasa yang khas. Karakter tersebut membuat tempe mudah diterima, baik dalam olahan tradisional maupun menu modern.

Sejumlah pelaku industri pangan melihat tempe sebagai bahan baku serbaguna yang dapat diolah menjadi berbagai produk. Dari burger hingga lauk siap saji, tempe terus beradaptasi dengan selera pasar yang semakin dinamis.

Potensi Ekspor Tempe Indonesia

Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang besar untuk memperkuat posisi tempe di pasar ekspor. Dengan reputasi sebagai makanan asli Nusantara, tempe memiliki nilai cerita yang sulit ditiru produk lain.

Jika dikelola secara lebih serius, tempe dapat menjadi bagian dari strategi promosi kuliner dan ekonomi kreatif nasional. Nilai jualnya akan meningkat jika kualitas produksi, standar keamanan pangan, dan kemasan terus diperbaiki.

Fenomena tempe di pasar global memperlihatkan adanya ironi nilai yang menarik. Saat dianggap biasa di negeri asalnya, tempe justru diposisikan sebagai produk eksotis dan premium di luar negeri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!