Tempe Naik Kelas di Pasar Global

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 03:26 WIB 6
Tempe Naik Kelas di Pasar Global

Tempe yang selama ini akrab di meja makan masyarakat Indonesia kini mendapat sorotan baru di pasar global. Makanan berbahan dasar kedelai ini dipandang sebagai pangan berkelanjutan, kaya gizi, dan sarat nilai budaya.

Dari dapur rumahan hingga restoran modern di berbagai kota dunia, tempe perlahan menembus batas geografis. Perubahan persepsi itu menunjukkan bahwa makanan sederhana asal Indonesia dapat naik kelas menjadi produk bernilai tinggi.

Tempe dan Perubahan Persepsi

Selama bertahun-tahun, tempe kerap dipandang sebagai makanan biasa di Indonesia. Harganya yang murah membuat tempe sering dianggap sebagai lauk kelas dua.

Namun, pandangan itu mulai berubah seiring meningkatnya perhatian dunia terhadap pangan berbasis nabati. Tempe kini tidak lagi hanya dilihat sebagai makanan rumahan, melainkan sebagai produk pangan yang punya nilai budaya dan ekonomi.

Pegiat fermentasi pangan, Wida Winarno, menilai perubahan itu tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia menyebut, pada awal gerakan promosi tempe, banyak masyarakat belum memahami nilai dari makanan fermentasi khas Indonesia tersebut.

Menurut Wida, proses edukasi selama bertahun-tahun mulai membuahkan hasil yang terlihat jelas. Tempe kini mendapatkan apresiasi lebih tinggi di luar negeri dibandingkan di negara asalnya.

Pasar Tempe Dunia

Perubahan citra tempe juga tercermin dari besarnya pasar global. Dikutip dari Grand View Research, nilai pasar tempe dunia mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada 2023.

Lembaga tersebut memproyeksikan nilainya naik menjadi US$ 7,6 miliar pada 2030. Pertumbuhan itu setara dengan laju tahunan sekitar 5 hingga 6 persen.

Data lain yang dikutip melalui GlobeNewswire menunjukkan nilai pasar tempe global berada di kisaran US$ 4,7 miliar pada 2024. Angka itu diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Tren ini memperlihatkan adanya ruang besar bagi produk berbasis kedelai asal Indonesia. Tempe semakin dipandang sebagai komoditas yang memiliki prospek bisnis menjanjikan.

Tren Plant Based

Pertumbuhan pasar tempe tidak lepas dari meningkatnya minat terhadap pola makan berbasis nabati. Konsumen global kini semakin mencari sumber protein yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Kesadaran terhadap pentingnya pangan berkelanjutan juga menjadi pendorong utama. Dalam konteks ini, tempe dinilai selaras dengan kebutuhan pasar modern yang menuntut pilihan makanan bergizi dan rendah jejak lingkungan.

Laporan Global Market Insights menyebut tren plant-based diet terus memperluas permintaan terhadap produk fermentasi berbahan nabati. Tempe pun ikut terdorong sebagai salah satu pilihan protein alternatif yang kompetitif.

Di sejumlah negara, tempe bahkan mulai masuk ke menu restoran sehat dan toko pangan premium. Kondisi ini memperkuat posisinya sebagai produk yang relevan dengan gaya hidup konsumen masa kini.

Tempe di Panggung Internasional

Kini tempe telah diproduksi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Penyebaran ini menandakan bahwa tempe telah diterima sebagai pangan lintas budaya.

Di pasar internasional, tempe tidak lagi diposisikan sebagai makanan tradisional semata. Produk ini justru naik kelas menjadi protein nabati premium dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya ironi nilai antara pasar domestik dan pasar global. Saat tempe dianggap biasa di negeri asalnya, dunia justru melihatnya sebagai produk unik dan eksotis.

Ke depan, peluang tempe Indonesia di kancah internasional masih terbuka lebar. Dengan penguatan branding, inovasi produk, dan dukungan industri, tempe berpotensi menjadi ikon pangan lokal yang mendunia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!