Tempe, makanan berbahan dasar kedelai yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia, kini mendapat sorotan di pasar dunia. Pangan fermentasi ini dipandang sebagai simbol makanan berkelanjutan, bergizi, dan kaya nilai budaya. Perubahan persepsi tersebut menunjukkan bahwa tempe tidak lagi hanya diposisikan sebagai lauk sederhana. Di berbagai negara, tempe justru naik kelas menjadi produk pangan bernilai tinggi.
Di dalam negeri, tempe lama dikenal sebagai makanan murah dan mudah dijangkau. Namun, di luar negeri produk ini kerap dipasarkan sebagai pangan eksotis dengan harga lebih premium. Pegiat fermentasi pangan, Wida Winarno, menilai perubahan pandangan itu terjadi seiring promosi yang konsisten selama bertahun-tahun. Ia menyebut apresiasi dunia terhadap tempe kini jauh lebih besar dibandingkan pada masa awal pengenalannya.
Naik Kelas di Dunia
Wida Winarno menjelaskan, dulu tempe sering dipandang rendah di Indonesia karena identik dengan makanan kelas dua. Menurut dia, pandangan tersebut perlahan berubah ketika masyarakat global mulai memahami keunggulan gizi dan proses fermentasinya. Dalam perjalanannya, tempe tidak lagi dilihat sekadar pelengkap makan, melainkan pangan yang punya identitas kuat. Perubahan ini, kata dia, menjadi bukti bahwa nilai sebuah makanan dapat berbeda di setiap pasar.
Ia menuturkan bahwa di sejumlah negara, tempe diterima sebagai produk yang unik dan bernilai. Harga jual yang lebih tinggi di pasar internasional membuat tempe dianggap lebih premium dibandingkan di Indonesia. Kondisi itu menunjukkan adanya perbedaan cara pandang antara negara asal dan pasar tujuan. Bagi pelaku pangan, fenomena tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk memperkuat posisi tempe.
Apresiasi global terhadap tempe juga tercermin dari semakin banyaknya pelaku usaha yang menjadikan produk ini sebagai komoditas unggulan. Tempe tidak hanya hadir di toko pangan sehat, tetapi juga di restoran modern di berbagai kota dunia. Perubahan itu menandai pergeseran dari makanan tradisional menjadi produk dengan nilai komersial lebih luas. Dari dapur rumahan, tempe kini masuk ke percakapan industri pangan internasional.
Pasar Global Tumbuh
Data pasar menunjukkan minat terhadap tempe terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mengutip Grand View Research, nilai pasar tempe dunia mencapai sekitar US$ 5,1 miliar pada 2023. Lembaga itu memproyeksikan nilainya naik menjadi US$ 7,6 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan adanya ruang ekspansi yang besar bagi produk berbasis kedelai ini.
Temuan serupa juga muncul dalam laporan yang dipublikasikan melalui GlobeNewswire. Nilai pasar tempe global disebut berada di kisaran US$ 4,7 miliar pada 2024. Angka tersebut diperkirakan terus bertambah seiring meluasnya permintaan di berbagai negara. Tren ini menegaskan bahwa tempe memiliki daya saing di tengah perubahan pola konsumsi dunia.
Sejumlah analis menilai pertumbuhan itu ditopang oleh perubahan gaya hidup masyarakat modern. Konsumen kini semakin mencari makanan yang praktis, sehat, dan berbasis nabati. Di saat yang sama, kesadaran terhadap keberlanjutan pangan juga ikut mendorong kenaikan minat. Tempe pun masuk ke kategori produk yang relevan dengan kebutuhan pasar masa kini.
Dipicu Gaya Hidup Sehat
Peningkatan minat terhadap tempe erat kaitannya dengan tren plant-based diet yang terus berkembang. Banyak konsumen beralih ke makanan nabati karena dianggap lebih sehat dan ramah lingkungan. Tempe kemudian menjadi pilihan karena kandungan proteinnya tinggi dan proses produksinya relatif efisien. Kombinasi itu membuat tempe semakin mudah diterima di berbagai segmen pasar.
Global Market Insights mencatat bahwa perhatian terhadap pangan berkelanjutan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan pasar tempe. Konsumen modern tidak hanya menilai makanan dari rasa, tetapi juga dari dampak lingkungannya. Dalam konteks ini, tempe memiliki keunggulan karena berbahan dasar sederhana dan bernilai gizi tinggi. Karakter tersebut membuat tempe relevan dengan preferensi pangan masa depan.
Selain itu, tempe juga dinilai cocok untuk diolah menjadi berbagai menu modern. Fleksibilitas bahan membuatnya dapat masuk ke masakan rumahan, produk kemasan, hingga sajian restoran. Kemampuan adaptasi ini memperkuat posisi tempe di pasar global yang semakin kompetitif. Bagi pelaku industri, tempe bukan lagi sekadar pangan tradisional, melainkan bahan baku dengan prospek bisnis menjanjikan.
Jejak Tempe Mendunia
Produksi tempe kini telah berkembang di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Belanda, dan Jepang. Kehadiran produsen di luar Indonesia menunjukkan bahwa tempe telah melampaui batas geografis asalnya. Produk ini tidak lagi hanya dikaitkan dengan budaya lokal, tetapi juga dengan inovasi pangan modern. Perkembangan tersebut memperluas peluang promosi kuliner Indonesia di tingkat internasional.
Di pasar global, tempe kerap diposisikan sebagai protein nabati premium. Citra itu berbeda jauh dengan persepsi di tanah air yang selama ini menganggapnya sebagai lauk harian yang murah. Perbedaan ini memperlihatkan ironi nilai yang menarik dalam perjalanan sebuah makanan tradisional. Apa yang sederhana di Indonesia justru menjadi produk bernilai tinggi di luar negeri.
Fenomena tersebut juga menggarisbawahi pentingnya penguatan narasi pangan lokal. Dengan promosi yang tepat, tempe dapat terus menanjak sebagai ikon kuliner Indonesia yang mendunia. Nilai budayanya, ditambah manfaat gizi dan peluang ekonominya, membuat tempe punya modal besar untuk berkembang. Dari makanan sederhana, tempe kini menjelma menjadi simbol pangan lokal berdaya saing global.
