Telkom Raih Pendapatan Rp146,7 Triliun di 2025

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 14:37 WIB 7
Telkom Raih Pendapatan Rp146,7 Triliun di 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp 146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp 17,8 triliun dengan margin laba bersih 12,1 persen. Capaian ini menunjukkan ketahanan kinerja Telkom di tengah tekanan makroekonomi dan tantangan industri telekomunikasi. Perusahaan menegaskan strategi transformasi menjadi penggerak utama pencapaian tersebut.

Selain laba bersih, Telkom mencatat normalized net income sebesar Rp 22,7 triliun dengan margin 15,4 persen. EBITDA konsolidasi tercatat Rp 72,2 triliun, sedangkan normalized EBITDA mencapai Rp 73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Total Shareholder Return juga tumbuh 35,7 persen sepanjang 2025, terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Kinerja itu turut ditopang kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham melalui payout ratio 89 persen dan program share buyback senilai maksimal Rp 3 triliun.

Transformasi Telkom Menguat

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyampaikan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. Melalui strategi TLKM 30, Telkom menata arah perubahan secara lebih terstruktur agar visi menjadi penggerak ekosistem digital nasional dapat tercapai. Strategi ini juga dirancang untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Perseroan menilai transformasi menjadi fondasi penting untuk menjaga daya saing di masa depan.

TLKM 30 dijalankan melalui empat pilar utama yang saling melengkapi. Pilar pertama, Operational & Service Excellence, menitikberatkan pada tata kelola, disiplin organisasi, efisiensi proses, dan peningkatan kualitas layanan. Pilar kedua, Streamlining, diarahkan untuk menata portofolio non-core business agar kontribusi bisnis inti semakin optimal. Langkah ini diharapkan membuat Telkom lebih fokus pada telekomunikasi dan digital.

Pilar ketiga adalah Unlock Value yang menitikberatkan pada penguatan bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Inisiatif ini ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset, memaksimalkan Return on Assets, dan memperluas kontribusi terhadap konektivitas nasional. Pilar keempat adalah Modus-operandi shift, yaitu perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Melalui delayering, Telkom akan memperkuat fokus pada empat segmen operating company, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Kebijakan Akuntansi Baru

Telkom juga melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia. Langkah ini diambil untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan dan memastikan prinsip penentuan masa manfaat serta klasifikasi aset lebih tepat. Perseroan menilai penyesuaian tersebut penting untuk memperkuat transparansi. Praktik ini sekaligus mendukung penerapan tata kelola yang lebih disiplin.

Perubahan kebijakan akuntansi tersebut berdampak pada kontraksi laba bersih sebesar 9,5 persen secara tahunan. Tekanan itu muncul akibat peningkatan beban percepatan depresiasi. Seiring penerapan kebijakan baru, Telkom juga melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024. Langkah ini menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menjaga keandalan informasi keuangan.

Perseroan menegaskan bahwa penyesuaian tersebut sejalan dengan pilar pertama TLKM 30, yakni Operational and Service Excellence. Dengan penyajian yang lebih akurat, manajemen berharap pengambilan keputusan bisnis menjadi lebih tepat. Telkom juga menilai tata kelola yang baik akan memperkuat kepercayaan pasar. Dalam jangka panjang, kebijakan ini diharapkan menopang fundamental perusahaan yang lebih sehat.

Pemulihan Segmen Bc

Segmen B2C, yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, tetap menjadi kontributor utama pendapatan Telkom. Telkomsel sebagai OpCo di segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian Rp 109,2 triliun pada tahun buku 2025. Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital berkualitas turut mendorong pertumbuhan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan. Tren tersebut menandakan pemulihan permintaan di layanan konsumen.

Average Revenue Per User atau ARPU juga bergerak ke arah pemulihan positif sejak paruh kedua 2025. Telkom menilai perbaikan itu berpotensi berlanjut secara bertahap seiring kompetisi industri yang lebih sehat. Pada 2026, Telkomsel akan menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran. Perusahaan juga akan memperkuat kualitas jaringan untuk menekan perpindahan pelanggan.

Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah dilakukan secara selektif agar lebih sesuai dengan kemampuan belanja masyarakat. Perseroan ingin memastikan pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan. Penguatan ekosistem digital juga terus dilakukan agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi kebutuhan pelanggan. Dengan strategi tersebut, segmen B2C diharapkan menjadi penopang utama pertumbuhan jangka menengah.

Infrastruktur Dorong Pertumbuhan

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional. Portofolio aset yang dimiliki meliputi backbone serat optik lebih dari 210.000 kilometer, menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit. Aset tersebut mendukung konektivitas di wilayah blank spot dan area dengan tantangan geografis tinggi. Telkom menilai infrastruktur ini menjadi fondasi penting bagi ekonomi digital Indonesia.

Pendapatan segmen B2B Infrastructure mencapai Rp 8,9 triliun dan tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber. Kontribusi data center berasal dari fasilitas hyperscale di Cikarang dan Singapura, serta enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul. Selain itu, NeutraDC mengelola dua fasilitas co-location data center di Singapura.

TelkomGroup juga mengoperasikan 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX dengan kapasitas lebih kecil untuk mendekatkan layanan kepada pengguna. Pada bisnis menara dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel mencatat pendapatan Rp 9,5 triliun dengan margin laba bersih 22,2 persen. Adapun bisnis Wholesale & International Service membukukan pendapatan Rp 10,7 triliun melalui Telin yang telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional. Untuk segmen B2B ICT, pendapatan mencapai Rp 15,3 triliun dan akan didorong melalui layanan Connectivity+, Cybersecurity, serta Artificial Intelligence.

Realisasi belanja modal TelkomGroup pada 2025 mencapai Rp 27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen dari belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sisanya digunakan untuk pengembangan platform digital dengan tetap mengoptimalkan sinergi. Telkom menegaskan disiplin investasi menjadi salah satu penopang stabilitas kinerja sepanjang 2025.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!