Telkom Gelar Forum Kedaulatan Teknologi Indonesia 2026

Teknologi BRH 02 Juni 2026 09:53 WIB 2
Telkom Gelar Forum Kedaulatan Teknologi Indonesia 2026

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menggelar Indonesia Tech Sovereignty Forum 2026 bertajuk The Rise of Indonesia Tech Sovereignty di Telkom Landmark Tower, Jakarta, pada Rabu (20/5/2026). Forum ini menjadi ajang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia melalui pengembangan cloud, kecerdasan buatan, dan keamanan siber.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah, BSSN, Danantara Indonesia, serta pelaku industri teknologi global. Telkom menegaskan forum ini ditujukan untuk mendorong ekosistem digital nasional yang lebih mandiri, aman, dan berdaya saing di tengah percepatan transformasi digital dunia.

Kedaulatan Teknologi Indonesia

Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan keterlibatan berbagai pihak mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurut dia, kedaulatan teknologi kini tidak lagi hanya berbicara soal inovasi, tetapi juga ketahanan ekonomi dan keamanan nasional.

Seno menjelaskan, meningkatnya adopsi teknologi digital membuat isu sovereignty menjadi perhatian banyak negara. Ketergantungan terhadap infrastruktur dan platform global dinilai dapat memengaruhi kendali data, kepentingan strategis, dan daya tahan ekosistem nasional.

Ia menambahkan, penguatan sovereign digital ecosystem diperlukan agar data, infrastruktur, kapabilitas AI, dan keamanan digital tetap berada dalam kepentingan negara. Dengan begitu, Indonesia dapat menjaga kendali atas aset digital strategis secara lebih optimal.

Melalui forum ini, Telkom mendorong Indonesia tidak sekadar menjadi pasar digital. Perusahaan pelat merah itu ingin Indonesia mampu mengembangkan, mengelola, dan memonetisasi aset digital nasional secara mandiri.

Fokus Cloud dan AI

Forum tersebut menyoroti tiga pilar utama, yakni Cloud Sovereignty, AI Sovereignty, dan Cybersecurity Sovereignty. Telkom menempatkan tiga pilar itu sebagai fondasi untuk memperkuat daya saing teknologi nasional.

Isu yang dibahas mencakup sovereign cloud infrastructure, pengembangan AI berbasis konteks Indonesia, serta penguatan ketahanan siber nasional. Forum juga menyoroti pembangunan kapasitas talenta digital sebagai syarat penting bagi kemandirian teknologi.

Seno mengatakan momentum transformasi digital harus menjadi titik balik bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam ekosistem teknologi global. Menurut dia, penguatan cloud, AI, dan cyber security akan membuat nilai ekonomi digital nasional tumbuh lebih besar di dalam negeri.

Telkom juga terus mengembangkan kapabilitas AI melalui lima pilar AI Center of Excellence. Kelima pilar itu meliputi AI Campus, AI Playground, AI Connect, AI Hub, dan AI Native.

Charter dan Inisiatif Baru

Selain menjadi wadah dialog strategis, forum ini juga menandai peluncuran Charter of Digital Sovereignty. Dokumen tersebut menjadi bentuk keseriusan bersama dalam memperkuat arah pengembangan ekosistem teknologi nasional.

Pada kesempatan yang sama, Telkom memperkenalkan inisiatif AdyaCakra sebagai bagian dari pengembangan sovereign cloud, sovereign AI, dan sovereign cybersecurity. Inisiatif ini dirancang untuk mendorong peran Indonesia sebagai pengembang sekaligus penggerak ekosistem digital regional.

Seno menyebut AdyaCakra diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan fondasi digital sovereignty Indonesia. Ia menilai langkah itu juga dapat mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional melalui ekosistem digital yang lebih kuat dan adaptif.

Telkom menegaskan inisiatif tersebut sejalan dengan strategi transformasi TLKM 30. Perusahaan berupaya memperkuat perannya sebagai orkestrator ekosistem digital nasional melalui pengembangan infrastruktur, platform, dan kapabilitas teknologi.

Dukungan Pemerintah dan BSSN

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital RI Edwin Hidayat Abdullah menilai transformasi digital tidak cukup hanya mempercepat adopsi teknologi. Menurut dia, Indonesia juga harus memiliki kapasitas, ketahanan, dan kendali atas infrastruktur digitalnya sendiri.

Edwin menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi global. Ia menilai kerja sama tersebut diperlukan agar kemampuan digital nasional dapat tumbuh secara kuat dan berkelanjutan.

Dari sisi keamanan siber, Deputi IV Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN Slamet Aji Pamungkas menyoroti pentingnya kendali nasional atas data strategis. Ia menilai data penting harus dikelola dalam yurisdiksi Indonesia agar operasional dan pengamanannya dapat dikendalikan secara optimal.

Slamet juga menekankan perlunya penguasaan sistem enkripsi sebagai bagian dari perlindungan data nasional. Menurut dia, Indonesia tetap harus terbuka terhadap perkembangan teknologi global, namun kendali atas sistem strategis harus tetap berada di dalam negeri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!